press enter to search

Sabtu, 23/11/2019 03:33 WIB

Mestinya Pejabat Setiap Hari Naik KRL ke Tempat Kerja

Dahlia | Senin, 07/10/2019 10:35 WIB
Mestinya Pejabat Setiap Hari Naik KRL ke Tempat Kerja Foto:istimewa

BEKASI (aksi.id) – Berangkat saat subuh. Ketika hari masih gelap. Menerabas dinginnya pagi.

Naik ojek online dari rumah menuju Stasiun Bekasi. Angin dan debu menerpa sebagian wajah, yang tertutup masker. Padahal wajah itu sebelumnya sudah dibasuh bedak.

Begitu Sulastri setiap pagi di hari kerja. Tak hanya pagi, sore hari pun dia harus ke stasiun di Kota Bekasi itu. Bekerja di Jakarta, namun tinggal di Bekasi, menjadi alasan utama perempuan itu selalu singgah di Stasiun Bekasi.

Setiba di stasiun, dia ikut masuk dalam barisan antre panjang memasuki stasiun. Setelah proses itu dilewati, dia bergerak ke emplasemen untuk bareng dengan traveler lainnya menanti KRL.

Dia dan penumpang lainnya tampak hafal di posisi mana harus berdiri menanti. Pada posisi itu tepat di depan pintu KRL saat tiba.

962019174538

Kereta dalam keadaan kosong penumpang datang dari arah Jakarta Kota dan berhenti dengan sempurna. Operator stasiun mempersilakan calon penumpang naik. Pintu kereta terbuka, tumpukan manusia pun pindah dari peron ke dalam gerbong kereta.

Begitu KRL datang, dia berjuang dalam desak-desakkan naik ke transportasi massal tersebut. Bila tak bisa naik karena KEL telah penuh penumpang maka harus menanti kereta berikutnya. “Mesti begini. Tapi asyik aja sih,” ungkap pegawai di satu bank di kawasan Menteng, Jakarta Pusat itu.

Kepada BeritaTrans.com dan Aksi.id, dia menuturkan memilih naik KRL dengan pertimbangan utama ongkos murah dan bebas macet lalu lintas. “Ada jaminan tiba sebelum jam kantor dimulai,” tuturnya, kemarin.

Pertimbangan penumpang seperti Sulastri itu yang menyebabkan KRL amat diminati kalangan komuter. Setiap peak hours atau jam-jam sibuk, rangkaian KRL dipadati penumpang. Rangkaian itu terdiri dari 10 gerbong campuran dan dua gerbong khusus wanita.

“Kereta memamg lebih murah tapi nggak mudah juga mendapatkannya. Ada perjuangan dan doa,” tutur Korrie, penumpang lainnya.

Pegawai di satu kantor di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, tersebut menuturkan seharusnya pejabat pemerintah dan eksekutif PT KAI setiap hari naik KRL untuk bolak-balik dari rumah ke kantor. “Jadi tahu penderitaan rakyatnya. Tahu apa yang bisa dibangun untuk mengurangi penderitaan itu,” cetusnya.

Dengan naik kereta, dia mengemukakan maka pejabat mencontohkan beralih dari kwndaraan pribadi ke angkutan umum. “Jangan cuma teriak-teriak mengajak pakai angkutan umum, tetapi sehari-harinya naik mobil,” ujarnya.

Selain itu, perempuan tersebut mengutarakan dengan naik kereta maka pejabat juga mencontohkan dengan bagus aksi pengurangan penggunaan BBM, menekan polusi udara dan mengurangi kemacetan jalan raya. (fahmi/awe).