press enter to search

Sabtu, 23/11/2019 03:34 WIB

9 Bulan Mengungsi Tanpa Bantuan, 184 Warga Nduga Papua Tewas, 41 Bocah

Redaksi | Rabu, 09/10/2019 14:30 WIB
9 Bulan Mengungsi Tanpa Bantuan, 184 Warga Nduga Papua Tewas, 41  Bocah Pengungsi Nduga terlunta-lunta di daerah pegunungan dan hutan. (ist)

PAPUA (Aksi.id) - Konflik bersenjata antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat dengan TNI-Polri yang sudah terjadi di Nduga sejak Desember 2018.

Hingga kini masih ribuan warga mengungsi di kabupaten tetangga seperti Wamena, Lanny Jaya dan daerah lainnya.

Dari pengungsian ini, tercatat 184 orang asli Nduga meninggal dunia. Sebanyak 41 orang di antaranya bocah, anak-anak berusia sekolah.

Ketua Pemuda Gereja Baptis Papua, Sepi Wanimbo mengatakan, lebih tragisnya lagi, pemerintah tampak menomorduakan para pengungsi Nduga.

“Coba bayangkan, 41 anak yang meninggal dunia di pengungsian ini adalah usia sekolah. Nasib mereka diabaikan,” ujar Sepi Wanimbo, Rabu (9/10/2019).

Menurut Wanimbo, pemerintah pusat di Jakarta dan Pemprov Papua harus memberikan bantuan bahan makanan ataupun ketersediaan rumah layak huni, seperti dilakukan terhadap pengungsi Wamena.

“Jangan melihat dari kaca mata politik, tetapi harus melihat dari nilai kemanusiaannya. Karena nilai manusia lebih berharga dan mahal, sehingga (dalam) menangani pengungsi masyarakat Nduga dan masyarakat Jayawijaya (Wamena) harus netral,” katanya.

Dia membandingkan respons pemerintah pusat dan pemprov untuk penanganan pengungsi karena longsor di Sentani dan Wamena, terasa lebih cepat membuka mata dan telinga dibanding pengungsi masyarakat Kabupaten Nduga.

“Padahal pengungsi masyarakat Nduga sudah terbengkalai. Hidupnya tidak nyaman, selama sembilan bulan membutuhkan pertolongan dari pemerintah,” ucapnya.

Aleb Koyau, salah satu mahasiswa pada sebuah perguruan tinggai di Jayapura mengatakan, pengungsi masyarakat dari Nduga dan Wamena sama-sama mencari perlindungan dan kenyamanan. ds/sumberjubi.co.id/suara.com)

Artikel Terkait :

-