press enter to search

Jum'at, 22/11/2019 23:12 WIB

"Utusan Melayu" Koran Tertua di Malaysia Tutup Usia

Dahlia | Jum'at, 11/10/2019 19:01 WIB
"Utusan Melayu" Koran Tertua di Malaysia Tutup Usia Foto: ilustrasi

Jakarta (aksi.id) - Utusan Melayu, koran berbahasa melayu tertua di Malaysia mengakhiri bisnisnya, Rabu, menjadi korban dari industri media yang sedang panas-panasnya.

Dewan direksi perusahaan menyatakan berkurangnya pendapatan dan penurunan sirkulasi sehingga tidak bisa lagi melanjutkan bisnis dan membuat lebih dari 800 staf menjadi pengangguran.

“Langkah ini harus diambil karena dewan direksi berpandangan bahwa perusahaan tidak lagi bisa melanjutkan bisnis".

"Untuk alasan itu, perusahaan berhenti beroperasi pada Rabu 9 Oktober 2019," kata CEO Datuk Abdul Aziz Sheikh Fadzir, dalam sebuah pernyataan yang dilansir oleh The Malaysian Reserve, Kamis.

Para analis sebenarnya sudah memperkirakan setidaknya satu dekade yang lalu, bahwa media cetak, bersama dengan beberapa media elektronik akan ketinggalan zaman karena selera konsumen beralih pada konten digital dan perangkat seluler.

Menurut data Bloomberg yang dikumpulkan oleh The Malaysian Reserve setahun yang lalu, kapitalisasi pasar dari lima pemain utama dalam industri media di Malaysia turun lebih dari 50 persen dibanding setahun sebelumnya.

Perusahaan media utama yang terdaftar adalah Utusan Melayu, Star Media Group Bhd, Astro Malaysia Holdings, Media Prima, dan Berjaya Media.

Utusan Melayu digolongkan sebagai Practice Note 17 (PN17) setelah grup itu tidak bisa memenuhi regularisasi Bursa Malaysia. Harga sahamnya anjlok hampir 37 persen dan pada akhirnya delisting atau keluar dari bursa saham.

Perusahaan ini juga terlibat dalam perselisihan manajemen-karyawan karena gaji yang belum dibayarkan.

Mereka juga menarik modalnya untuk situs web memerintah.com.my dan kosmo.com.my.

Koran yang terbit pada masa kolonial di Malaysia ini juga mengumumkan pelepasan 70 persen kepemilikan mereka pada anak perusahaannya yaitu Dilof Sdn Bhd, kepada Aurora Mulia.

Dilof adalah penerbitan dan percetakan Utusan Malaysia dan Kosmo termasuk edisi Minggu.

Aurora Mulia juga merupakan pemegang saham terbesar di Media Prima dengan kepemilikan sedikit di bawah 32 persen.

Tahun lalu, Utusan Melayu sebenarnya sudah memangkas hampir setengah dari 1.500 karyawannya untuk mengurangi biaya operasional, namun gagal menyehatkan perusahaan yang sakit itu.

Perusahaan melaporkan kerugian bersih sebesar RM3,89 juta (sekitar Rp13,1 miliar) pada kuartal kedua (2Q) 2019, berbanding terbalik dengan laba bersih mereka sebesar RM18,85 juta setahun yang lalu.

Banyak media menghadapi krisis   

Utusan bukan satu-satunya media yang mengalami krisis keuangan yang mengerikan dan mempunyai masa depan suram.

Harga saham Star Media anjlok sekitar 31,58 persen dalam 12 bulan terakhir, pada Rabu perdagangan saham mereka berakhir pada 52 sen per lembar.

Media Prima yang mencetak New Straits Times, Berita Harian dan Harian Metro diperdagangkan pada 45 sen kemarin, turun 2,17 persen YoY.

Berjaya Media Bhd, yang menerbitkan surat kabar The Sun Daily, yang mengalami kerugian besar berubah statusnya menjadi PN17 karena ekuitas pemegang sahamnya tidak memenuhi persyaratan pencatatan pada 30 Juni 2017.

Booming Internet, kecepatan data, naiknya perangkat seluler dan preferensi pengiklan atas iklan digital memukul media-media tradisional.

Meskipun traffic situs mereka tinggi, namun hilangnya pendapatan dari bisnis percetakan perusahan media cetak yang terlanjur besar, sangat membebani bisnis mereka.

Sementara itu di Parlemen, Menteri Sumber Daya Manusia M Kulasegaran meminta karyawan Utusan Melayu untuk mengurus sistem asuransi ketenagakerjaan (EIS) mereka.

Menteri mengatakan skema Organisasi Jaminan Sosial dapat memberikan pembayaran hingga 80 persen dari gaji pekerja untuk jangka waktu enam bulan.

“Jika para pekerja di PHK, menurut aturan hukum, mereka bisa membuat laporan ke EIS dan mendapat pembayaran gaji selama enam bulan. Setelah enam bulan, mereka seharusnya bisa mendapatkan pekerjaan, ada lebih dari 560.000 lowongan di negara ini,” ujar dia.

Dia juga berharap bahwa pemilik Utusan Melayu akan mempertimbangkan kembali keputusan mereka.

“Utusan telah berkecimpung dalam industri ini sejak lama. Mereka harus melihat apakah pihak bisa membantu dan merehabilitasi perusahaan. Saya harap Utusan akan mempertimbangkan kembali,” ujar dia.

Sekretaris Jenderal Umno Tan Sri Annuar Musa mengatakan partai politik tidak memiliki kewenangan untuk mencampuri keputusan bisnis Utusan Melayu. Umno tidak lagi menjadi pemegang saham utama di perusahaan.

"Kami akan membiarkan Utusan membuat keputusan bisnis mereka sendiri, partai tidak bisa campur tangan. Direksi bebas mengambil keputusan bisnis apa pun. Umno hanya memiliki sangat sedikit saham,” ujar dia.

Utusan Melayu seharusnya cepat berubah

Seorang mantan pemimpin redaksi, Tan Sri Johan Jaaffar mengatakan koran itu seharusnya segera menyesuaikan diri segera setelah koalisi Pakatan Harapan memenangkan pemilu, tahun lalu, seperti dilansit The Strait Times.

"Mereka harus melakukan perubahan seperti yang dilakukan orang lain. Pada akhirnya, ini tentang bagaimana menerima perubahan.

“Utusan dituding atas bubarnya Barisan Nasional. Mereka adalah pendukung yang tidak bisa dimaafkan. Karena pada faktanya mereka adalah surat kabar milik UMNO,”

Johan, mantan ketua Media Prima itu mengatakan sangat penting bagi media untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat.

“Sebelumnya, merek Utusan dikaitkan dengan pemimpin yang kuat dan karismatik, tetapi ketika Anda kehilangan itu, Anda kehilangan segalanya.

“Meskipun koran tidak bisa diselamatkan tapi mereknya masih bisa diselamatkan.

“Setelah itu, mereka harus memastikan bahwa 700 karyawan mendapat perlakuan baik. Kesejahteraan mereka harus diprioritaskan."

Mantan editor grup New Straits Times, Tan Sri Mohd Munir Abdul Majid mengatakan dia percaya bahwa media harus memiliki konten yang kuat dan tidak hanya hidup dalam bayang-bayang sejarah.

“Harus ada rencana yang jelas dan kuat di pasar media yang sulit. Nama saja tidak akan menjamin kelangsungan hidup, apalagi kesuksesan.

“Media cetak berada di bawah tekanan di mana-mana. Surat kabar harus menunjukkan kualitas konten dan kedalaman analisis,” ujar dia.

Masih banyak yang harus dilakukan untuk memastikan keberlangsungan media, ujar dia.

“Media (cetak) harus online, dengan pembaca tinggi untuk menarik pengiklan. Radio dan video juga harus ditumpuk. Selain itu, harus ada komunikasi dengan pasar dan pengguna media.

"Selain itu, data perlu dikumpulkan, dianalisis, dan diperbarui untuk mengetahui apa yang diinginkan pembaca.

“Untuk membantu mereka menavigasi sejumlah besar informasi di luar sana seperti bagaimana itu telah berhasil dilakukan oleh Financial Times online."

Dia mengatakan jurnalisme berkualitas didorong oleh wartawan berkualitas. Menurut dia pada era teknologi saat ini, semua orang mencari konten dengan nilai tambah.

Dalam postingan Facebooknya jurnalis veteran dan mantan pemimpin redaksi grup NST Datuk A Kadir Jasin mengatakan seorang pemilik baru dengan modal besar tidak dapat menjamin kelangsungan Media Prima dan Utusan Melayu Bhd.

“Harapan terletak pada profesionalisme dan jurnalisme yang berkualitas tinggi, serta kemampuan untuk mengembalikan kepercayaan audiens.

"Kedua kelompok media rusak parah selama era (mantan perdana menteri Datuk Seri Najib Razak) atas saran dari orang-orang seperti (mantan pembantu Najib) Habibul Rahman (Kadir Shah) dan orang luar, (mantan penasihat media Najib) Paul Stadlen.

"Kebebasan yang diberikan oleh pemerintah baru tidak berarti apa-apa jika editor dan wartawan masih berada pada alam kleptokras".

(Lia/sumber:anadolu)