press enter to search

Minggu, 25/10/2020 20:11 WIB

Nissan, Ford, General Motor, Bombardier dan Uber PHK Massal Pegawai

Dahlia | Sabtu, 12/10/2019 15:50 WIB
Nissan, Ford, General Motor, Bombardier dan Uber PHK Massal Pegawai Foto: ilustrasi

Jakarta (aksi.id) – Kabar seputar tsunami PHK tak cuma melanda sektor perbankan dunia, pekan ini pemberitaan juga diramaikan oleh sejumlah perusahaan global ternama lainnya yang mengumumkan rencana pemangkasan pegawai mereka.

Sejumlah perusahaan dari berbagai negara mengambil langkah dengan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada karyawannya guna melakukan efisiensi. Hal itu disebabkan karena melemahnya ekonomi dan ketidakpastian global.

Perusahan-perusahaan itu bukan hanya perbankan, tapi juga terjadi pada perusahaan otomotif, komputer hingga perusahaan perintis atau start up.

CNBC Indonesia telah merangkum perusahaan-perusahaan non bank yang melakukan PHK pada 2019 dan pada akhir 2018.

HP
Awal Oktober 2019, HP mengumumkan rencana memangkas lebih dari 10% karyawannya di seluruh dunia. Sekitar 9.000 karyawan akan dirumahkan dalam tiga tahun ke depan, dari total karyawannya di seluruh dunia yang mencapai 55.000 orang.

Merampingkan operasi dan memangkas biaya operasional menjadi alasan HP. “Kami mengambil langkah tegas untuk memasuki era selanjutnya,” ujar calon CEO HP, Enrique Lores, yang akan menjabat November nanti, seperti dilansir dari AFP.

Ke depan, HP akan fokus pada strategi seperti menjual printer dengan harga kompetitif. Penjualan tinta printer juga akan digenjot perusahaan.

HP merupakan perusahaan komputer dan printer. Perusahaan ini berbasis di Amerika Serikat. PHK akan dilakukan hingga 2022.

Uber
Uber melakukan pemangkasan pada 435 karyawannya pada September 2019 atau sekitar 8% dari total pekerja perusahaan itu. PHK dilakukan pada 170 orang dari tim produksi dan 265 orang dari tim teknisi.

Sekitar 85% pekerja yang di PHK berada di AS. Sedangkan 10% lainnya di Asia Pasifik dan 5% lain di Eropa, Timur Tengah dan Afrika.

“Kita berharap langkah ini bisa me-reset dan meningkatkan kerja kita hari ini,” kata Juru Bicara Uber, sebagaimana dikutip dari Tech Crunch.

Sebelumnya pada Juli, Uber merumahkan 400 orang dari tim marketing. Ini membuat Uber resmi merumahkan 835 karyawannya selama 2019.

Di Q2 2019, Uber kehilangan US$ 5 miliar. Meski demikian, Uber tetap berupaya memperkuat bisnis dengan investasi US$ 200 juta.

f180e441-965a-4c29-910f-d661a13db61b_169.jpeg
Tak Cuma Bank, Tsunami PHK Juga Hajar Otomotif & Start Up!Foto: Demo pengemudi Uber di Amerika, Rabu (8/52019) (REUTERS/Kate Munsch)

LG Display
LG Display Co Ltd, perusahaan asal Korea Selatan, mengumumkan rencana PHK karyawan pada 17 September 2019. Namun sayangnya perusahaan ini tidak memaparkan dengan pasti berapa banyak karyawan yang akan dirumahkan.

Menurut Juru Bicara LG Display Jean Lee, pihaknya tengah membuat rencana darurat. “Rencana ini untuk meningkatkan efisiensi di produksi panel sebagaimana pengeluaran lainnya,” katanya dikutip dari CNBC International.

Saat ini, LG Display mengatakan membuka PHK secara sukarela, khususnya bagi karyawannya di Korsel yang sudah bekerja lima tahun atau lebih. Secara global, LG memiliki 59.000 pekerja, termasuk di China.

Ford

Ford Motor Co dikabarkan akan melakukan PHK pada 12.000 karyawan dan menutup sejumlah pabrik. Rugi akibat melambatnya penjualan menjadi penyebab.

Sekitar 2.300 karyawan berasal dari AS. Selain memangkas pekerja, Ford juga memotong 10% gaji karyawan secara global.

Di Brasil misalnya dengan rekan barunya CAOA, Ford berencana melakukan efisiensi besar-besaran pada perusahaan. Bahkan bakal ada 1.300 karyawan yang di PHK. Perusahaan hanya akan mempertahankan 800 karyawan.

“Tujuannya untuk membuat perusahaan meraih profit dan produktif,” kata pendiri CAOA sebagaimana dikutip CNBC International September lalu.

Nissan

Nissan Motor Co bakal memangkas 12.500 karyawannya. Pengumumamn disampaikan perusahaan Juli 2019 lalu. Rencananya PHK akan berlangsung hingga Maret 2023. Perusahaan pembuat merk Rogue dan Datsun ini memiliki 138.000 karyawan pada Maret 2018.

Jatuhnya laba hingga 98,5% menjadi 1,6 miliar yen (US$ 14,80 juta) di Q1 2019 menjadi penyebab. Ini merupakan performa terburuk perusahaan sejak Maret 2009.

Bombardier

Perusahaan berbagai macam alat transportasi seperti pesawat, kereta api, dan trem asal Kanada, Bombardier melakukan PHK pada 550 karyawannya. Ini dilakukan seiring langkah penutupan pabrik yang akan dilakukan 4 november nanti.

Volvo

Pembuat mobil asal Swedia Volvo yang dimiliki Geely asal China, berencana memangkas ratusan ribu karyawan pada Mei 2010. Volvo, saat berita ini dibuat memiliki 43.000 tenaga kerja.

“Sebagai perusahaan yang tengah tumbuh, Volvo ingin secara konstan meninjau biaya,” kata perusahaan dalam sebuah pernyataan.

General Motor

Pembuat mobil asal Detroit AS General Motor pertama kali mengumumkan PHK karyawan 2018 lalu. Ini lalu dilanjutkan dengan merumahkan 14.000 karyawan di 2019.

Lesunya permintaan mobil membuat laba perusahaan tergerus dan mengakibatkan PHK besar-besaran tenaga kerja. Sekitar 8.100 posisi ahli (white collar) dirumahkan sementara 6.000 pekerja pabrik juga dipangkas.

Masalah di perusahaan ini juga terus bergulir hingga kini. Di Oktober 2019, pemogokan karyawan terus terjadi di mana mereka menuntut pembaruan kontrak dan upah yang layak.

Saham GM turun hingga 10% karena pemogokan ini. GM merupakan perusahaan yang memproduksi mobil merk Chevrolet

Huawei

Perusahaan Raksasa teknologi China, Huawei Technologies Co Ltd memangkas 400 karyawan pada Futurewei Technologies, yang merupakan bagian penelitiannya di AS. Saat itu, Future Technologies memiliki 850 pekerja di AS.

Ini terjadi setelah AS mem-blacklist perusahaan itu karena perang dagang dengan China. PHK efektif dilakukan 22 Juli lalu.

Futurewei berkantor di Chicago dan Dallas dan telah berhasil mematenkan 2100 produk, mulai dari telekomunikasi jaringan 5 G, serta kamera dan teknologi video. Di 2018, biaya operasinya mencapai US$ 510 juta.

(Lia/sumber:cnbcindonesia)