press enter to search

Jum'at, 22/11/2019 03:58 WIB

900 Anak di Pakistan Terjangkit HIV/AIDS

Dahlia | Senin, 28/10/2019 21:46 WIB
900 Anak di Pakistan Terjangkit HIV/AIDS Foto: ilustrasi

Jakarta  (aksi.id) - Kepanikan terjadi di Pakistan disebabkan wabah HIV/AIDS menyerang hampir 900 anak-anak di kota kecil Ratudero.

Sejak diberitakan pada April 2019 oleh jurnalis lokal, Gulbahar Shaikh bahwa penyebaran HIV disebabkan oleh ulah dokter anak satu-satunya di kota itu, Muzaffar Ghanghro yang menggunakan jarum suntik bekas kepada anak-anak.

Sejak saat itu sekitar 1.100 warga atau satu dari setiap 200 penduduk mengidap virus HIV dan hampir 900 yang terjangkit berada di bawah usia 12 tahun.

Penyelidikan yang dilakukan oleh pemerintah Ratudero menemukan bahwa banyak anak terinfeksi HIV telah pergi ke dokter yang sama.

Dugaan penggunaan jarum suntik bekas terkuat setelah Imtiaz Jalbani yang berprofesi sebagai buruh menyampaikan kekhawatirannya ketika melihat Ghanghro menggeledah tempat sampah untuk kembali menggunakan jarum suntik pada putra Jalbani, Ali berusia 6 tahun yang juga terinfeksi.

Ghanghro ditangkap dan didakwa polisi karena kelalaian, pembunuhan, dan menyebabkan kerusakan tidak disengaja.

Menurut laporan CNN pada Senin, 28 Oktober 2019, Ghanghro belum dihukum dan masih bekerja sebagai dokter umum di rumah sakit pemerintah di pinggiran Ratudero.

Ganghro juga bersikeras tidak bersalah dan mengaku tidak pernah menggunakan jarum suntik bekas.

Petugas kesehatan mengatakan praktik dokter anak tidak mungkin menjadi satu-satunya penyebab wabah. Tukang cukur yang menggunakan pisau cukur yang sama ke wajah banyak pelanggan dan dokter gigi pinggir jalan yang meratakan gigi pasien dengan alat yang tidak steril disinyalir turut menjadi pemicu wabah ini.

Praktik tidak higienis ini lazim di seluruh Pakistan dan cenderung lebih umum terjadi di Ratudero, kota temiskin di Pakistan dengan tinggat buta huruf tinggi.

Pada 2016, wabah HIV AIDS menimpa sekitar 1.500 pria dewasa yang melakukan hubungan seks dengan pekerja seks terinfeksi. Tetapi wabah tahun ini di Ratodero adalah pertama kalinya anak-anak menjadi korban paling banyak dalam skala besar.

Untuk mengatasi wabah HIV/AIDS, pemerintah Pakistan pada Mei lalu mulai menutup klinik dokter yang tidak memenuhi syarat dan bank darah ilegal karena banyak ditemukan penggunaan jarum suntik. Namun penduduk setempat melaporkan beberapa bulan kemudian, beberapa klinik telah kembali dibuka.(lia/sumber:tempo)