press enter to search

Rabu, 20/11/2019 21:44 WIB

Penumpang Boeing 787 Dreamliner Bisa Kehabisan Oksigen Jika Kabin Mendadak Dekompresi

Dahlia | Jum'at, 08/11/2019 14:50 WIB
Penumpang Boeing 787 Dreamliner Bisa Kehabisan Oksigen Jika Kabin Mendadak Dekompresi Foto: istimewa

BEKASI (aksi.id) – Seorang pelapor yang pernah bekerja di pabrik Boeing menyatakan bahwa penumpang Boeing 787 Dreamliner bisa kehabisan oksigen apabila tekanan udara di dalam kabin berkurang secara tiba-tiba (dekompresi).

Pelapor itu, John Barnett mengatakan hasil uji coba memperlihatkan adanya komponen cacat dalam sistem oksigen di pesawat jenis itu kemungkinan seperempatnya tidak akan bekerja apabila dibutuhkan.

Ia juga menyatakan komponen cacat itu tetap dipasang dalam pesawat yang diproduksi di pabrik Boeing.

Boeing membantah tuduhan ini dan mengatakan seluruh pesawat mereka dibangun dengan standar keselamatan dan kualitas tertinggi.

Barnett pernah bekerja selama 32 tahun sebagai insinyur bagian pengendalian kualitas sebelum berhenti karena alasan kesehatan bulan Maret 2017.

Sejak tahun 2010 ia bekerja sebagai manajer pengendalian kualitas di pabrik Boeing di North Charleston, South Carolina.

_109525759_barnett-interview
John Barnett adalah mantan manajer pengendalian kualitas di pabrik Boeing.

Pabrik ini merupakan salah satu yang membuat 787 Dreamliner, pesawat paling canggih Boeing yang digunakan untuk penerbangan jarak jauh di berbagai negara.

Pesawat ini dibeli banyak maskapai dan menjadi sumber pemasukan Boeing yang besar.

Namun menurut Barnett, 57 tahun, karena ketergesaan untuk memproduksi pesawat, proses perakitan diburu-buru dan faktor keselamatan bisa dikorbankan karenanya.

Boeing membantah dan berkeras bahwa “keselamatan, kualitas dan integritas merupakan nilai-nilai utama Boeing”.

Tahun 2016 Barnett menyatakan kepada BBC bahwa ia menemukan masalah dengan sistem oksigen darurat.

Sistem ini bekerja untuk tetap memasok oksigen bagi penumpang dan awak, saat tekanan udara dalam kabin turun (dekompresi). Masker udara akan turun dari langit-langit pesawat untuk memasok oksigen dari tabung gas.

Tanpa sistem ini, siapa pun yang ada di pesawat akan lumpuh.

Pada ketinggian 35.000 kaki (sekitar 10.600 meter), kurang dari semenit penumpang akan pingsan. Pada ketinggian 40.000 kaki, mereka akan pingsan kurang dari 20 detik. Ini bisa disusul dengan kerusakan otak, bahkan kematian.

Dekompresi jarang terjadi, tetapi bukan tidak pernah.

Bulan April 2018, jendela pesawat Southwest Airlines meledak, sesudah terhantam serpihan mesin yang rusak. Seorang penumpang yang duduk di samping jendela cedera parah dan kemudian meninggal dunia.

Penumpang lain bisa meraih oksigen darurat dan selamat.

_109525917_gettyimages-947840494
Jendela yang meledak di pesawat Southwest Airlines sesudah terhantam serpihan dari mesin yang rusak menyebabkan hilangnya tekanan udara di dalam kabin.

Barnett mengatakan ketika sedang melakukan penonaktifan sistem yang mengalami kerusakan kecil ia menemukan bahwa beberapa tabung oksigen tidak terisi ulang seperti yang seharusnya.

Ia kemudian melakukan uji coba terkontrol dilakukan oleh Boeing sendiri.

Uji coba ini dirancang untuk meniru sistem yang dipakai di dalam pesawat saat mengudara, dengan menggunakan sistem pemicu elektrik yang sama.

Barnett mengatakan dari 300 sistem yang diujicoba, 75 di antaranya tidak berjalan dengan baik, menunjukkan 25% kegagalan.

Barnett mengatakan upayanya untuk mempersoalkan ini lebih jauh dihentikan oleh manajer-manajer Boeing. Di tahun 2017 ia mengadukan hal ini kepada lembaga pengawas penerbangan Amerika Serikat, FAA, bahwa tidak ada tindakan apapun terhadap soal ini.

FAA mengatakan mereka tidak bisa menemukan dasar aduan Barnett karena saat itu Boeing menyatakan bahwa mereka sedang mengatasi persoalan tersebut.

Boeing sendiri membantah apa yang dinyatakan oleh Barnett.

Boeing mengakui bahwa tahun 2017 mereka “mengetahui beberapa tabung oksigen dari pemasok luar tidak bekerja dengan baik, kami menyingkirkan tabung-tabung itu dari lini produksi sehingga tak dimasukkan ke dalam pesawat, dan kami telah menyelesaikan masalah itu dengan pihak pemasok”.

_109525913_k64106-10
Boeing Dreamliner pertama kali terbang tahun 2009 dan kini lebih dari 800 pesawat ini melayani berbagai maskapai di seluruh dunia.

Mereka juga mengatakan “setiap sistem oksigen penumpang yang dipasang di pesawat kami telah melalui uji coba berkali-kali sebelum dipasok untuk memastikan pesawat bekerja dengan baik, dan harus melewati uji coba lagi agar tetap bisa terpasang di pesawat”.

“Sistem ini juga diuji coba secara rutin setiap kali pesawat dalam perawatan,” kata Boeing.

Namun ini bukan satu-satunya tuduhan kepada pabrik Boeing di South Carolina.

Barnett juga menyatakan Boeing gagal mematuhi prosedur internal untuk melacak komponen proses perakitan. Ini menyebabkan adanya risiko komponen cacat berkemungkinan untuk “hilang” tak terlacak.

Barnett menyatakan para pekerja — yang kerap berada dalam tekanan — terkadang memasang komponen yang tak memenuhi standar, yang diambil dari penyimpanan komponen bekas, ke pesawat yang sedang diproduksi.

Sedikitnya satu kasus seperti ini terjadi dengan diketahui oleh manajer senior.

Menurut Barnett, ini dilakukan untuk menghemat waktu karena “Boeing South Carolina sepenuhnya dikendalikan berdasarkan jadwal dan penghematan biaya”.

Mengenai hal ini, di awal tahun 2017, sebuah hasil tinjauan FAA sepakat dengan kekhawatiran Barnett, menyatakan bahwa sekurangnya 53 komponen yang “tidak sesuai” tidak diketahui lokasi keberadaannya dan dianggap hilang. Boeing diperintahkan untuk mengambil langkah perbaikan.

Sejak itu, Boeing menyatakan mereka telah “sepenuhnya menyelesaikan temuan FAA terkait pelacakan komponen dan telah menjalankan tindakan perbaikan untuk mencegah terulangnya hal itu”.

Mereka tidak berkomentar lebih jauh terkait kemungkinan komponen yang tidak sesuai itu digunakan dalam pesawat yang diproduksi – dan seorang sumber di pabrik di North Charleston berkeras bahwa hal seperti itu tak mungkin terjadi.

_109526391_gettyimages-1130239535
Di tahun 2017, sebuah tinjauan dari FAA memerintahkan Boeing untuk melakukan tindakan perbaikan.

Barnett kini menuntut Boeing yang dituduhnya menjelek-jelekkan karakternya, yang kemudian membuat kariernya terhenti akibat ia mengungkapkan masalah-masalah di atas.

Boeing menjawab bahwa Barnett punya rencana untuk pensiun, dan hal itu sudah dilakukannya.

“Boeing tak pernah menghalangi karier Mr Barnett untuk profesi apapun yang ia inginkan,” kata Boeing.

Namun Barnett bukan satu-satunya pegawai Boeing yang khawatir terhadap proses produksi Boeing. Menyusul kecelakaan yang menimpa 737 Max milik Ethiopian Airlines tahun ini, empat orang pegawai menghubungi FAA untuk melaporkan kemungkinan masalah.

Barnett percaya laporannya sebetulnya berhubungan dengan budaya perusahaan yang “berpusat pada kecepatan, penghematan biaya dan jumlah penjualan”.

Ia menyatakan para manajer “tidak peduli pada keselamatan, hanya mendahulukan jadwal saja”.

Pandangan ini disepakati oleh Adam Dickson, insinyur yang terlibat pembuatan 737 Max di pabrik Boeing di Renton, Negara Bagian Washington.

Ia menuturkan kepada BBC bahwa ada “dorongan untuk membuat pesawat terus diproduksi di pabrik. Sering ada tekanan agar produksi terus meningkat.”

“Tim saya selalu melawan pihak perusahaan demi tetap mempertahankan proses dan kualitas. Manajer-manajer senior kami tidak membantu”.

_109526393_gettyimages-1079389110
Bulan Oktober tahun ini, anggota Kongres AS dari Partai Demokrat Albio Sires bertanya kepada Presiden Direktur Boeing Dennis Muilenburg tentang adanya tekanan produksi pesawat 737 Max.

Dalam dengar pendapat dengan Kongres AS di bulan Oktober, anggota dari Partai Demokrat Albio Sires mengutip surel yang dikirim oleh seorang manajer senior yang ikut memproduksi 737 Max.

Sang manajer mengeluh bahwa para pekerja “kelelahan” bekerja dengan irama yang terlalu tinggi dalam jangka waktu panjang.

Ia menyatakan tekanan jadwal “menciptakan budaya di mana para pegawai secara sengaja atau pun tidak, menghindari proses yang sudah terbangun mapan,” sehingga berpengaruh terhadap kualitas.

Untuk pertamakali dalam hidupnya, si penulis surel itu menyatakan, ia ragu membolehkan keluarganya naik ke pesawat Boeing.

Boeing menyatakan bersama FAA bahwa mereka sedang menerapkan “proses inspeksi yang ketat” untuk menjamin pesawat mereka aman.

Baru-baru ini Boeing menyewa pihak independen untuk meninjau proses keselamatan, di mana para peninjau menyatakan “menemukan penegakkan dan kepatuhan yang teliti terhadap standar sertifikasi FAA dan persyaratan rancangan dan produksi Boeing sendiri”.

Tinjauan ini menyatakan “menemukan bahwa rancangan dan pembuatan 737 Max dilakukan sejalan dengan prosedur dan proses yang konsisten untuk memproduksi pesawat yang aman”.

_109525915_k65536
Pabrik Boeing di North Charleston, South Carolina merupakan satu dari dua pabrik yang memproduksi Boeing 787 Dreamliner.

Sekalipun begitu, sebagai lanjutan dari tinjauan itu, akhir September tahun ini Boeing mengumumkan sejumlah perubahan dalam struktur keselamatan mereka.

Ini termasuk pembuatan “produk dan layanan keselamatan” yang baru.

Ini dilakukan dengan meninjau segala aspek keselamatan produk “termasuk meyelidiki kasus-kasus tekanan yang tak seharusnya dan kekhawatiran akan soal keselamatan yang disampaikan oleh pegawai”.

‘Saya kehilangan anak tunggal saya di pesawat Lion Air yang jatuh’
Sementara itu Barnett tetap merasa khawatir terhadap keselamatan pesawat Boeing, di mana ia terlibat dalam pembuatannya.

“Berdasarkan pengalaman saya selama bertahun-tahun dan sejarah kecelakaan pesawat, saya percaya hanya soal waktu saja sesuatu akan terjadi pada 787,” katanya.

“Saya berdoa semoga saya salah.”
(Lia/sumber:bbcindonesia)

Keyword Boeing 787