press enter to search

Sabtu, 07/12/2019 10:46 WIB

Pendiri Telegram Sarankan Lepas Aplikasi WhatsApp

Dahlia | Sabtu, 23/11/2019 11:54 WIB
Pendiri Telegram Sarankan Lepas Aplikasi WhatsApp Pendiri Telegram Pavel Durov

Jakarta (aksi.id) - Pendiri Telegram Pavel Durov menyarankan agar pengguna melepas (uninstall) aplikasi pesan instan WhatsApp  Hal ini diungkap lewat akun Telegram miliknya, Rabu (20/11). 

Saran ini dilontarkan karena ia menganggap WhatsApp telah gagal melindungi pengguna. Sebab aplikasi terebut kerap dijebol oleh aplikasi jahat (malware) seperti Trojan misalnya. Trojan ini digunakan untuk memata-matai isi ponsel pengguna. 

"Anda harus menghapus WhatsApp dari ponsel [...] kecuali jika Anda tak keberatan ketika foto dan pesan yang Anda kirim terpapar ke publik suatu hari nanti," tulis Durov pada channel Telegram miliknya yang punya 335.000 pengikut. 

"WhatsApp tidak hanya gagal melindungi pesan yang tertulis di WhatsApp Anda, tapi ia juga kerap disusupi trojan untuk memata-matai foto dan pesan non-WhatsApp," lanjutnya, seperti dikutip Times of India.

Sebelumnya, WhatsApp juga dihantui oleh teror malware Pegasus buatan perusahaan Israel yang diklaim sangat canggih. Sebab, malware ini bisa mengintai semua kegiatan yang terjadi pada ponsel korban, termasuk membaca pesan, menyadap panggilan telepon, hingga video call. 

Saat ini Telegram punya 200 juta pengguna aktif bulanan. Sementara WhatsApp punya 1,6 miliar pengguna aktif bulanan, seperti dikutip Forbes. Lantaran pengguna yang masih sedikit ini, bagi peretas Telegram tak menjadi ladang yang menarik seperti WhatApp. 

Pekan ini WhatsApp mengimbau penggunanya untuk memperbarui aplikasi mereka. Imbauan ini dilontarkan setelah ditemukan aplikasi jahat yang kembali membobol layanan pesan instan itu. Pekan ini, Facebook membuat pernyataan kalau WhatsApp memang bisa diretas menggunakan file video MP4.


Malware yang ditemukan seorang pengguna di India ini disebar lewat file video MP4. Jika korban membuka file itu, maka peretas bisa mengakses pesan yang ada di ponsel korban. Facebook menyebut akan memperbaiki masalah tersebut pekan ini. Tapi perusahaan itu memperingatkan kalau bahaya ini masih mengintai pengguna dengan versi yang lebih lawas. 

Sebelumnya, pada Mei lalu Durov sempat menyebut kalau WhatsApp tak akan pernah menjadi platform yang aman. Sebelumnya, pada Maret 2019, Telegram menyebut aplikasi tersebut mendapat tambahan 3 juta pengguna dalam 24 jam. Tambahan pengguna ini terjadi setelah terjadi peretasan keamanan siber pada Facebook, Instagram, dan WhatsApp.  (Lia/sumber:cnnindonesia)