press enter to search

Rabu, 29/01/2020 22:26 WIB

Kemenkes Soal Vape: Dampak Tak Sebanding dengan Cukai yang Diterima

Dahlia | Rabu, 15/01/2020 19:19 WIB
Kemenkes Soal Vape: Dampak Tak Sebanding dengan Cukai yang Diterima Foto: istimewa

Jakarta (aksi.id)  - Konsumsi rokok di masyarakat meningkat. Kekhawatiran pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan tidak berhenti pada konsumsi rokok konvensional. Sebab dalam beberapa tahun terakhir masyarakat cenderung mengonsumsi vape atau rokok elektronik.


Staf Khusus Menteri Kesehatan bidang Pembangunan dan Pembiayaan Kesehatan Brigjen TNI dr Alexander K Ginting S SpP, FCCP, meski pemerintah telah banyak melakukan promosi mengenai dampak kesehatan dari penggunaan vape, mayoritas masyarakat lebih mempercayai klaim dari produsen yang menyebut rokok elektrik lebih `aman`.

"Padahal sudah disampaikan berbagai bahaya rokok baik dibakar atau dipanaskan. Lebih mengkhawatirkan dalam 2 tahun ada peningkatan konsumsi rokok elektrik di kalangan anak muda. Alasannya lebih ringan, tidak menyebabkan kanker paru, bronkitis dan penyakit lainnya, tapi apapun yang disebut inhalasi baik elektrik atau pemanasan akan mengganggu respirasi dalam tubuh," katanya saat dijumpai di Kantor Kementerian Kesehatan, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (15/1/2020).

Penggunaan rokok elektrik saat ini lebih banyak di kalangan muda. Dalam artian mereka yang sudah merokok konvensional bertahun-tahun bisa jadi tidak akan beralih namun remaja, anak-anak dan yang ingin mencoba kebanyakan memilih rokok elektrik karena termakan klaim tersebut.

"Kalau dampak ini kita hitung, biaya kesehatannya lebih besar daripada cukai yang kita terima. Kerugian yang terjadi tentang penurunan fungsi paru, jantung dan mengakibatkan penyakit degeneratif lainnya jauh lebih merugikan," terangnya.

Rokok, baik konvensional atau elektrik punya bahaya yang sama dan tidak bisa dikesampingkan. Dampak yang timbul bukan hanya dari asap dan nikotin saja tapi berbagai elemen dalam rokok sangat berbahaya dan efeknya bisa menimbulkan penurunan kualitas hidup seseorang. (Lia/sumber:detik)