press enter to search

Senin, 28/09/2020 09:40 WIB

Ganda Putri Greysia/Apriyani Juara Bulutangkis Indonesia Masters 2020

Redaksi | Minggu, 19/01/2020 19:17 WIB
Ganda Putri Greysia/Apriyani Juara Bulutangkis Indonesia Masters 2020 Ganda putri Indonesia Apriyani Rahayu dan Greysia Polii pada pertandingan final Indonesia Mastes 2020 di Istora Senayan, Jakarta. (ist)

JAKARTA (Aksi.id) - Mahkota juara ganda putri Indonesia Masters 2020 menjadi milik Greysia Polii/Apriyani Rahayu. Kepastian itu didapat usai mengandaskan Maiken Fruergaard/Sara Thygesen 19-21, 21-11, 23-21 pada Minggu (19/1/2020).

Sorakan `Indonesia! Indonesia!` yang berlanjut dengan `Apri! Polii!` sudah terdengar nyaring bahkan sejak kedua ganda melakukan pemanasan jelang laga.

Namun, bukan berarti segala sesuatunya langsung berjalan mudah bagi Greysia/Apriyani. Ganda Denmark yang menjadi lawan mereka unggul 3-1 dan berlanjut ke 4-2.

Kedudukan yang terakhir disebut muncul berkat kecerdikan Fruergaard/Thygesen. Mereka melakoni reli dengan pukulan-pukulan agresif yang menyasar tubuh Greysia dan Apriyani secara bergantian. Awalnya, sih, oke-oke saja. Lama kelamaan Greysia runtuh sehingga lawan merengkuh poin keempat.

Situasi Greysia/Apriyani belum aman. Fruergaard/Thygesen berulang kali mendesak Greysia/Apriyani untuk mengamankan area back line.

Meski mengincar area ini, Fruergaard/Thygesen tak melepas pukulan tanggung, tetapi smash jauh yang dikombinasikan dengan penempatan sulit. Cara itu yang membuat mereka memimpin 7-3. Thygesen memang melakukan kesalahan yang membuat shuttlecock tersangkut di net, tetapi mereka masih bisa menggeser skor jadi 8-4.

Istora tambah riuh setelahnya. Namun, nada kecewa tak bisa disembunyikan begitu Apriyani melepas pengembalian yang terlalu jauh dan membuat lawan menjauh 9-5.

Keunggulan Fruergaard/Thygesen masih terjaga. Peraih perunggu Kejuaraan Bulu Tangkis Eropa 2016 dan 2018 ini memasuki jeda interval dengan keunggulan 11-5.

Reli saat Fruergaard/Thygesen unggul 13-8 berakhir menyenangkan untuk Greysia/Apriyani. Seperti biasa, mereka memaksa Greysia/Apriyani untuk beradu tangguh di duel pukulan jauh.

Setelah tiga atau empat pukulan, Fruergaard/Thygesen lebih banyak mengarahkan serangan mereka ke sudut kiri. Akan tetapi, gempuran itu berakhir antiklimaks bagi Fruergaard/Thygesen. Pengembalian mereka hanya sanggup menabrakkan shuttlecock ke net.

Pun demikian saat Greysia/Apriyani tertinggal 10-15. Reli panjang dan sengit berakhir menyebalkan untuk Fruergaard/Thygesen. Apriyani berusaha menyibukkan keduanya untuk mengejar shuttlecock ke seluruh bidang permainan dengan mengirim pukulan menyilang.

Sekilas upaya ini terlihat sia-sia karena setelah mendapat bantuan dari Greysia pun, Apriyani masih gagal merengkuh angka dari smash. Namun, poin bisa datang dari mana saja. Tekanan konstan Greysia/Apriyani akhirnya membuat pengembalian lawan eror.

Setelah mengubah skor jadi 11-15, Greysia/Apriyani mempersempit jarak menjadi 14-16. Kedudukan yang terakhir disebut itu juga merupakan ganjaran atas tekanan Greysia/Apriyani. Pukulan Thygesen kembali menjadi senjata makan tuan karena melahirkan eror.

Apriyani kembali membuktikan bahwa smash-nya adalah senjata berbahaya. Kombinasi dengan Greysia yang mengamankan pertahanan padu betul.

Kawalan Greysia membuat Apriyani menyerang dengan leluasa. Mau dari area mana pun, ia berhasil melepas smash sengit. Reli itu ditutup dengan smash ke arah Thygesen.

Shuttlecock, sih, bisa diterima. Namun, ia kehilangan kendali sehingga manuvernya malah membuat shuttlecock terlempar dari lapangan.

Tambah ke sini, laga makin sengit. Reli panjang khas nomor ganda menjadi pemandangan paling lazim, termasuk saat kedudukan imbang 17-17.

Sayangnya, reli di sini tidak berakhir menyenangkan untuk kubu Indonesia. Thygesen mencecar Greysia dengan tubian smash. Serupa dengan efek yang menimpa Thygesen tadi, Greysia pun kehilangan kontrol sehingga membuat eror.

Apriyani tidak mau kalah, dong. Manuver serupa kembali dilepaskan. Kembali berbuah angka pula. Lagi-lagi, Thygesen menjadi sasaran. Skor merapat jadi 18-19.
Sayangnya, kesalahan di service membuat Fruergaard/Thygesen meraih game point 20-19. Reli sengit kembali muncul. Duel ini tidak berat sebelah, kedua ganda saling menyerang.

Sayangnya, gim pertama ditutup Greysia/Apriyani dengan kekalahan 19-21. Fruergaard berhasil mengincar celah sempit yang ternyata sudah cukup untuk memberinya ruang menempatkan shuttlecock.

Kekalahan di gim pertama menjadikan gim kedua sebagai pemungkas bagi Greysia/Apriyani. Kalau mereka kalah lagi, ya, tak ada podium juara.

Untunglah Greysia/Apriyani merespons tekanan itu dengan tepat. Fruergaard/Thygesen tetap menekan dengan intens, tetapi Greysia/Apriyani tak mau kalah sehingga bisa unggul 9-7.

Untuk sementara suporter Indonesia memekik girang. Jagoan mereka berhasil merawat keunggulan itu menjadi 11-8 di interval. Greysia/Apriyani berhasil mempertahankan dominasi pada sampai 14-9. Permainan mereka tak hanya jauh lebih berani, tetapi juga rapi.

Fruergaard/Thygesen tampaknya berusaha menguras energi Greysia/Apriyani dengan kombinasi pukulan panjang dan pendek. Di sini Greysia/Apriyani tidak terburu-buruk mematikan serangan.

Apriyani yang bertindak sebagai motor serangan berulang kali dicecar dengan smash langsung. Persoalannya, meruntuhkan Apriyani bukan pekerjaan mudah.

Fruergaard/Thygesen kena getahnya. Serangan balik mereka malah membuat shuttlecock mencium net sehingga skor beralih ke 15-9 untuk keunggulan Greysia/Apriyani.

Kesalahan serupa dilakukan Fruergaard saat tertinggal 11-17 sehingga skor berubah menjadi 11-18. Oke, Fruergaard memang acap melepas smash sengit. Namun, akurasinya belakangan tergerus sehingga berulang kali pula memberi poin bagi Greysia/Apriyani.

Laga benar-benar berlanjut pada gim ketiga. Fruergaard yang menggagas serangan dari back line kembali getahnya. Pukulan yang terlampau jauh membuat Greysia/Apriyani berhasil mengonversi game point 20-11 menjadi kemenangan 21-11 di gim kedua.

Gim ketiga adalah sebesar-besarnya kesempatan bagi Greysia/Apriyani. Ganda putri terbaik Indonesia ini langsung tancap gas dan meraih keunggulan 4-1.

Fruergaard/Thygesen tetap mengandalkan pukulan jauh mereka untuk membangun serangan. Begitu tempo melambat, mereka akan mengubah duel ke area tengah, misalnya saat mengubah skor jadi 3-5.

Fruergaard/Thygesen dengan telaten memaksa Greysia/Apriyani untuk bermain bertahan. Awalnya, Fruergaard yang menyerang dengan rentetan jumping smash. Footwork dan fokus membuat Greysia/Apriyani tetap kokoh.
Skema diubah. Thygesen beralih ke area belakang dan mencecar lawan dengan serangan. Greysia/Apriyani yang mengambil posisi sejajar belum tumbang juga.

Greysia/Apriyani bahkan berhasil menyerang balik. Sayangnya, momentum itu tidak berujung poin karena smash Greysia membuat shuttlecock jatuh di luar lapangan.

Saat keadaan genting-gentingnya, ketika kedudukan 7-8, Apriyani kembali mempertontonkan magi smash-nya. Fruergaard/Thygesen awalnya menekan. Reli hampir terhenti karena pengembalian Apriyani hampir gagal membuat shuttlecock melintasi net.

Namun, entah bagaimana caranya, shuttlecock berhasil bergulir melintasi net. Momentumnya ada pengembalian tinggi lawan. Shuttlecock langsung disambar dengan jumping smash Apriyani.

Pukulan demikian gagal diamankan lawan sehingga Greysia/Apriyani unggul lagi 9-7. Keunggulan itu berhasil mereka jaga sampai 11-9 di interval.

Jeda interval mungkin memberi kesempatan kepada Fruergaard/Thygesen untuk kembali menghimpun kekuatan. Serangan mereka jauh lebih efektif dan berani. Kedudukan 11-12 bahkan didapat dengan menggempur Apriyani dengan tubian smash.

Kegigihan kedua pasangan untuk saling menyerang membuat laga ini tambah menarik. Reli sengit dan panjang, tepuk tangan dan sorak-sorai, kedudukan ketat, hingga pekik puas dan kecewa para penonton membuat duel kali ini terasa lengkap dan cocok buat disebut sebagai final. Kan tidak seru kalau laga final malah berat sebelah.

Tertinggal 11-13, Fruergaard/Thygesen menyamakan kedudukan jadi 13-13. Cara mereka merengkuh poin pun asyik ditonton, yaitu lewat serangan agresif.

Meladeni lawan yang bermain lepas Greysia/Apriyani tidak bisa kehilangan fokus sedikit pun. Siapa, sih, yang tidak ingin mengakhiri reli dengan cepat? Namun, terburu-buru menutup serangan juga sering berakhir fatal.

Dari situ, Greysia/Apriyani merapatkan pertahanan. Hasilnya menjanjikan, kok. Fruergaard/Thygesen sepertinya salah komunikasi saat melakoni reli di skor 13-15. Akibatnya, pengembalian Thygesen justru membuat shuttlecock jatuh ke lapangan sendiri dan kedudukan berganti jadi 13-16.

Dalam poin kritis, 15-17, Fruergaard/Thygesen masih melakukan unforced error. Thygesen menyambar service dengan pukulan kencang. Awalnya tak masalah. Akan tetapi, pukulan itu pula yang membuat shuttlecock tersangkut di net dan Greysia/Apriyani unggul 18-15.

Salah besar jika mengira Fruergaard/Thygesen sudah kandas. Ganda Denmark ini mampu memangkas jarak dan menyamakan kedudukan jadi 18-18. Tekanan mereka membuat Greysia/Apriyani melakukan dua kesalahan beruntun.

Belum selesai, lho. Fruergaard/Thygesen bahkan bisa menyalip 19-18. Haha. Setelah pengembalian Fruergaard/Thygesen keluar, skor berubah imbang lagi 19-19. Reli sengit tidak ada habisnya. Fruergaard/Thygesen pun merespons dengan brilian, dengan tekanan yang mengantar mereka pada match point 20-19.

Pengembalian Thygesen kembali membuatnya buntung. Ya, belum buntung juga, sih. Pukulan lebarnya memutus reli karena membuat shuttlecock mencium net. Artinya kedudukan imbang 20-20.

Setelahnya, giliran pengembalian Apriyani yang membenturkan shuttlecock ke net. Fruergaard/Thygesen unggul 21-20. Setting point 21-21 menandakan laga masih berlanjut. Apriyani memekik sangar di depan netnya. Jantung suporter bekerja lebih keras.

Apriyani kembali memekik girang. Smashnya tidak mampu dikembalikan lawan. Reli sengit masih muncul. Untungnya, tak ada lagi setting point.

Smash kencang Greysia yang mengarah ke Thygesen adalah serangan jitu. Lawan gagal mengembalikan, kemenangan 23-21 menjadi milik Greysia/Apriyani. Setelahnya, Greysia dan Apriyani berlutut, berteriak sangar merayakan kemenangan di rumah sendiri. (ds/sumber kumparan)