press enter to search

Sabtu, 29/02/2020 13:39 WIB

Memahami Karakteristik Generasi Z

| Senin, 10/02/2020 09:08 WIB
Memahami Karakteristik Generasi Z Dr. Zahara Tussoleha Rony. S.Pd. M,M, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

 

SETELAH kedatangan Generasi Milenial atau Generasi Y di dunia kerja, tak lama dunia industri akan dibanjiri oleh generasi Z. Siapakah mereka?Beragam teori menetapkan rentang tahun lahir generasi Z sedikit berbedaantar pakar, sebagian pakar teori menetapkan dari tahun 1995- 2010 sebagian lagi 2001-2010 (Yanuar Surya Saputra, 2016).

Salah satu pakar Generasi(Howe & Strauss, 2000) menyampaikan Generasi Z disebut juga IG Generation, generasi net, atau generasi internet merupakan kelompok orang yang lahir dari rentang tahun 2001 hingga 2010. Generasi Z dinilai lebih mantap memanfaatkan teknologi informasi, karena lahir dari  lingkungan dan gaya hidup bersandar pada teknologi. Kehidupan yang nyaris mempergunakan alat bantu teknologi membuat mereka ingin membuat perubahan yang berbeda dengan generasi Y.

Gen Z adalah digital native, lahir ketika teknologi sudah eksis dalam kehidupan mereka sehari-hari. Walau generasi milenial juga merasakan tahap awal revolusi digital, namun gen Z adalah generasi pertama dengan DNA digital yang seutuhnya. Mereka adalah generasi yang sudah pandai menggunakan layar sentuh, bahkan sebelum mereka bisa berjalan.

Gen Z berpikiran lebih terbuka dan global, tetapi lebih individual dan menjunjung tinggi privasi.Sebagian besar GenZ tidak ingin dilacak. Mereka tertarik ke media penyamaran seperti Snapchat, Secret, dan Whisper.. Mereka tertarik pada media sosial yang bersifat sementara dan/atau self-destruct. Selaras dengan masalah pengawasan NSA, mereka lebih khawatir tentang menonaktifkan pengaturan privasi mereka.

         Generasi Z juga multi-taskers.  Dengan kemajuan teknologi yang mereka nikmati sejak dini, generasi Z bekerja lebih cepat dan efisien. Mereka terbiasa mengerjakan tugas dan bermain dalam waktu bersamaan sehingga lebihlihai mencari cara tercepat untuk menyelesaikan tugasnya. Hal ini sungguh menguntungkan  bagi perusahaan dalam mencari ide, metode atau cara baru bahkan mereka bisa merubah dan menetapkan job description mereka sendiri sehingga hasil kerja merekalebih produktif.

        Twenge dalam buku karangannya : iGen: Why Today`s Super-Connected Kids are Growing Up Less Rebellious, More Tolerant, Less Happy - and Completely Unprepared for Adulthood- and What That Means for the Rest of US,  mengatakan dalam sebuah survei tahunan pada 2016 sebanyak 55 persen siswa SMA bersedia bekerja lembur untuk dapat melakukan pekerjaan dengan baik.Mereka juga mengatakan akan terus bekerja sekalipun mereka telah memiliki uang, dan berharap pekerjaan menjadi bagian dari kehidupan mereka.

       Jean M. Twenge  juga menegaskan dalam Quartz at Work  bahwa generasi Z lebih berhati-hati dalam menentukan kariernya daripada generasi milenial.Pelajaran dan pengalaman yang telah dilalui oleh generasi sebelumnya membuat mereka belajar. Berbeda dari generasi milenial  yang ingin melakukan bisnis sendiri, namun terburu buru, belum disertai dengan persiapan yang baik.

       Meskipun Generasi  Z tetap tertantang dengan membuka usaha sendiri, sebagian besar Generasi Z juga  menginginkan pekerjaan stabil di perusahaan established. Generasi Z tidak seberani jika dibandingkan dengan generasi milenial. Mereka ingin melakukan pekerjaan dengan baik, namun di saat yang bersamaan mereka takut melakukan kesalahan. Sementara sebagian besar generasi milenial menuntut pengakuan dan pujian, generasi Z menginginkan kepastian.

 

 

Perhatian pada prinsip kepastian membuat mereka peduli pada kesehatan, keselamatan dan keamanan.Perusahaan global, Nielsen, menyebut gen Z sebagai ‘green generation’ alias ‘generasi hijau’. Menurut riset mereka, gen Z lebih mendukung perusahaan-perusahaan yang peduli terhadap isu lingkungan. Ketika membeli produk atau jasa misalnya. Lebih dari 70 persen konsumen berusia 15 sampai 20 tahun memilih produk atau jasa yang berdampak positif terhadap lingkungan, dibandingkan melihat mereknya.

Perusahanan dimana mereka bekerja idealnya memenuhi tuntutan mereka dengan menekankan dan mendidik realitas bisnis dan pekerjaan. Kehadiran teknologi yang tidak asing bagi mereka menjadikan mereka tidak terlalu suka narsis di sosial media, lebih suka privasi, dan tidak membagi berbagai hal tentang mereka di media sosial, jika dibandingkan dengan generasi milenial  Mereka cukup selektif dalam membagikan materi tentang apa dan untuk siapa.

            Sesuatu hal yang perlu menjadi perhatian adalah generasi Z kurang fokus dibanding millenial. Generasi Z cenderung lebih mudah untuk terganggu fokusnya dengan hal yang baru..Perpindahan antara satu hal dan hal lainnya begitu cepat,Hal ini juga mebuat mereka bosan sehingga  mereka perlu dibantu dalam  kalibrasi dan mengecek semua pekerjaan sebelum diserahkan kepada pihak lain. Mereka perlu diberikan kewenangan, kepercayaan dan keterlibatan yang jelas dalam bekerja namun jelas aturan mainnya.

            Karakteristik yang dimiliki Gen Z menjadi hal yang penting untuk dipelajari para pelaku di perusahaan dan dunia akademisi karena merubah tatanan,seleksi rekrutmen, pelatihan dan pengembangan serta strategi kompensasi dan benefit serta  pengelolaan pada karyawan unggul. Apakah perusahaan sanggup menciptakan signature experiences, yaitu suatu pengalaman yang memorable(bisa dikenang) dan berharga bagi karyawan sehingga hal tersebut membuat keterikatan kuat karyawan kepada perusahaan atau organisasinya

Meskipun hasil penelitian generasi Z tersebut dilakukan bukan di Indonesia setidaknya hasil tersebut bisa menjadi rujukan pelaku industri.Paparan ini merupakan kesempatan perusahaan untuk merekrut generasi z yang menginginkan pekerjaan tetap. Generasi Z siap bekerja keras. Twenge mengatakan potensi mereka tidak terbatas, jangan sia-siakan. Mereka bagian penting dari masa depan. Persiapkan kedatangan mereka ke dalam angkatan kerja agar potensi mereka dapat bermanfaat untuk kesuksesan dunia industri dan bangsa Indonesa.

Dr. Zahara Tussoleha Rony. S.Pd. MM /Penulis,Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

Keyword Generasi Z