press enter to search

Minggu, 29/03/2020 06:41 WIB

Kisah Perempuan Malaysia yang Berbagi Suami Lewat Poligami

Dahlia | Senin, 17/02/2020 19:07 WIB
Kisah Perempuan Malaysia yang Berbagi Suami Lewat Poligami Warga Muslim di Malaysia diperbolehkan memiliki hingga empat istri dan meskipun dalam prakteknya tidak banyak yang melakukannya (ABC RN: Nashrin Alhady)

aksi.id - Qobin telah mendaki gunung tertinggi yang ada di setiap benua. Tapi pria Malaysia ini mengaku memiliki dua orang istri justru jauh lebih sulit daripada naik ke puncak Gunung Everest.

Politisi sekaligus pengusaha bernama lengkap Muhammad Muqharabbin Mokhtarrudin ini tinggal di Kuala Lumpur dan menjalani kehidupan dengan dua rumah tangga.

Sebagai penjelajah dan pendaki, Qobin sudah pernah ke Kutub Selatan dan Kutub Utara, serta menjelajah medan sulit di berbagai negara.

Tapi dia mengaku, tantangan lebih besar yang dihadapinya adalah memiliki dua orang istri.

"Ini keyakinan saya, jadi saya harus berbuat yang terbaik untuk kedua istriku. Saya menganggapnya sebagai tantangan," ujarnya.

Dalam usianya yang 37 tahun sekarang, Qobin memiliki enam orang anak. Empat dari istri pertama dan dua dari istri kedua.

Kedua istrinya tinggal terpisah di Kuala Lumpur, berjarak sekitar 10 kilometer satu sama lain.

Masyarakat Melayu, China, dan India berbaur di kota ini, tapi masih mempertahankan tradisi masing-masing.

Mungkin salah satu hal yang berbeda dalam masyarakat ini adalah pria Muslim diperbolehkan memiliki hingga empat orang istri.

Meski mayoritas warga Muslim tidak berpoligami, tradisi memiliki lebih dari satu istri masih ditemukan.

Setiap tahun lebih dari 1.000 pria mengajukan izin poligami ke Pengadilan Agama Malaysia.

Ketemu istri kedua di Thailand

Qobin mengaku "tidak pernah berencana" untuk memiliki istri kedua.

Dia bahkan menggambarkan istri pertama yang sangat dicintainya sebagai sosok yang "sempurna".

Tapi setelah delapan tahun menikah, ketika Qobin mengunjungi Thailand, dia bertemu wanita yang kelak menjadi istri keduanya.

"Saya orangnya sangat lurus," katanya. "Saya tidak ingin membohongi istriku, jadi saya sampaikan soal istri kedua ini."

Butuh waktu beberapa bulan sebelum istri pertamanya menerima hal itu.

Setelah menikah lagi, Qobin mengaku menghabiskan waktu dua malam bersama istri yang satu dan dua malam bersama istri lainnya.

Sekarang, katanya, kedua keluarganya sering berkumpul dan masing-masing istri secara teratur mengurus anak-anak yang lain, bukan hanya anak mereka sendiri.

Qobin selalu berusaha adil bagi kedua istrinya. Apa yang dia beli untuk seorang istri juga akan dibelikan untuk yang lain.

"Saya selalu berdoa kepada Allah agar menjaga hati mereka," ujar politisi yang bercita-cita menjadi Menteri Olahraga Malaysia ini.

Dia menjelaskan keluarga istri pertamanya telah menerima keputusannya untuk mengambil istri kedua.

Bahkan, ayah mertuanya dari istri pertama menggodanya untuk mengambil istri ketiga.

"Saya rasa saya hanya akan memiliki dua orang istri," ujar Qobin.

Ingin dijaga dan dilindungi

Mengapa ada perempuan yang setuju menjadi istri kedua? Dan mengapa istri pertama setuju untuk itu?

Beberapa tahun lalu, Dr Wan Zumusni Wan Mustapha atau biasa disapa Zunie, bersama LSM `Sisters in Islam` mensurvei dan mewawancarai lebih dari 1.000 orang dalam keluarga poligami.

Hasil penelitiannya menemukan bahwa para perempuan memiliki sejumlah motivasi untuk menjadi istri kedua.

"Motivasi terpenting yaitu mereka ingin dijaga. Mereka ingin dilayani, ingin dilindungi," jelas Zunie, yang sehari-hari bekerja sebagai dosen senior di Jurusan Bahasa Universiti Teknologi MARA.

"Masih banyak perempuan di luar sana yang mengalami kesulitan dan harus bekerja keras. Jika mereka mendapatkan kesempatan untuk kehidupan yang nyaman, mengapa tidak?" ujarnya.

Zunie mengungkapkan perempuan seringkali berusaha menghidari stigma negatif sebagai lajang yang tak menikah.

Menjadi istri kedua, katanya, memungkinkan untuk meningkatkan status mereka.

Penelitian Dr Zunie menemukan banyak istri pertama yang dipaksa atau didorong untuk menerima keputusan suami mereka.

"Beberapa di antaranya menyatakan ketidakpuasan mereka, tapi sebagian akhirnya menerimanya demi menyelamatkan pernikahan atau demi anak-anak," jelasnya.

Penelitian terbaru yang dilaksanakan `Sister in Islam` menemukan 70 persen perempuan Muslim mengakui hak pria Muslim untuk berpoligami jika mereka bisa berlaku adil.

Namun, meski demikian, hanya 30 persen di antara perempuan Muslim ini yang akan mengizinkan suaminya untuk menikahi perempuan lain.

Menurut Dr Zunie, para istri pertama dia temui mengaku "tidak bahagia, sengsara dan tertekan".

"Aku tidak mengerti jika dikatakan bahwa poligami itu demi kepentingan istri pertama," katanya.

Tak butuh suami 24 jam sehari

Dr Zunie sendiri pernah menjadi istri kedua. Dia menikahi sahabatnya waktu SMA, yang tidak memiliki anak dari istri pertamanya.

Zunie yang merupakan janda empat anak saat itu, katanya, ingin membantu sahabatnya untuk memiliki anak.

"Saya sudah memiliki pekerjaan dan kehidupan sendiri. Saya tidak keberatan menjadi istri di akhir pekan. Toh saya tidak butuh suami 24 jam sehari," ujarnya.

"Jadi saya pikir okelah, ini bisa saya jalani," tambahnya.

Dr Zunie pun menikahi sahabat SMA-nya itu dan tak lama kemudian hamil. Tapi tak begitu lama sang istri sudah tidak senang.

Akhirnya, Zunie memutuskan yang terbaik bagi semua pihak dan mengakhiri pernikahan tersebut.

Sampai sekarang dia tetap menjalin pertemanan dengan sahabatnya.

Anak mereka ikut Zunie, tapi sering pula menghabiskan waktu bersama ayahnya dan istri pertama ayahnya.

Apakah Zunie, seorang feminis yang mandiri secara finansial, masih ingin menjalani pernikahan poligami lagi?

"Di satu sisi saya merasa diberdayakan. Saya bisa hidup mandiri, saya juga punya anak-anak," katanya.

Dalam prakteknya, mayoritas pernikahan Muslim bukanlah pernikahan poligami.

Di Malaysia pun ada perdebatan tentang baik-buruknya pernikahan seperti itu.

Menurut aktivis Zainah Anwar dari LSM Musawah, Islam pada dasarnya menjunjung tinggi kesetaraan pria dan wanita.

Musawah mempromosikan kesetaraan gender dalam sistem hukum keluarga di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Zainah yang juga salah satu pendiri `Sister in Islam` menjelaskan pelajaran Alquran yang dia jalani sangat membebaskan dan mencerahkan.

"Kami menemukan ayat-ayat suci yang justru kebalikan dari apa yang diceritakan para ideolog Islam yang selama ini mendominasi ruang publik," ujarnya.

"Ayat tentang poligami sebenarnya mengatakan: `Demi keadilan, yang terbaik bagi kamu adalah menikah satu kali`," kata Zainah.

"Jadi mengapa bagian pertama ayat itu bahwa boleh menikahi dua, tiga, empat istri lebih dikenal sebagai hak laki-laki dalam Islam?" tanyanya.

Zainah mempertanyakan mengapa satu penafsiran ayat Alquran mendapatkan legitimasi dengan mengorbankan penafsiran lainnya.

"Makanya kami memutuskan untuk menyebarkan pemahaman lain tentang Islam, pesan Islam lainnya soal hak-hak perempuan, keadilan, kasih sayang dan kesetaraan," katanya.

"Islam yang didefinisikan oleh para patriarki dan ideolog yang berwenang bukanlah satu-satunya pemahaman Islam," tambah Zainah Anwar.