press enter to search

Jum'at, 03/04/2020 17:03 WIB

Ikut Pelatihan di STIP, Andi Isra Pelaut di Kapal Ikan Ini Kejar Sertifikat ANT-V

Dahlia | Selasa, 18/02/2020 19:17 WIB
Ikut Pelatihan di STIP, Andi Isra Pelaut di Kapal Ikan Ini Kejar Sertifikat ANT-V foto: Ahmad/aksi.id/BeritaTrans.com

JAKARTA (aksi.id) – Profesi pelaut sangat besar tantangannya, namun bagi Andi Isra yang sudah terlanjur mencintai bekerja di kapal ikan akan terus menjalaninya. Dia meningkatkan keahliannya agar bisa mendapat tempat yang lebih baik di kapal.

IMG_20200218_141503_resize_13

Ayah dua anak asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, sedang mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) di Sekolah Pendidikan Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta, di Marunda, Jakarta Utara.

IMG_20200218_165720_resize_90

“Saya sedang mengikuti pendidikan pelatihan di STIP Jakarta, selama 14 minggu dan baru menjalani 3 minggu untuk mendapatkan sertifikat ANT-V (Ahli Nautika Tingkat V), mudah-mudahan nanti ada peningkatan dengan ijazah tersebut, “ungkapnya pada BeritaTrans.com dan aksi.id (18/2/2020).

IMG_20200218_165759_resize_69

Andi Isra sudah melaut sejak tahun 1997, mengawali jadi pelaut di kapal ikan dengan berbekal sertifikat BST (Basic Safety Training) dan SKK (Surat Kecakapan dan Keterampilan) 60 mil dan ditingkatkan menjadi ANKAPIN III (Ahli Nautika Kapal Ikan tingkat III). Namun hasil bekerja di kapal ikan kurang memuaskan dan berpindah haluan ke kapal niaga.

“Alhamdulillah saya bekerja di perusahaan kapal niaga dengan gaji standard UMK (Upah Minimum Kabupaten/Kota), lumayan untuk keluarga saya yang ada di Banjarmasin, namun masih banyak pelaut teman saya di Kalimantan dengan gaji minim sekali sekitar Rp300-700 ribu per bulan,” katanya.

Selama pendidikan dia tinggal di Kantor PPI (Pergerakan Pelaut Indonesia) di Jakarta Utara, yang diketuai oleh Andri Yani Sanusi. Andi Isra mengatakan PPI sangat membantunya selama berada di Jakarta untuk mengikuti diklat.

“Saya diperbolehkan tinggal di kantor PPI selama menjalani diklat, sehingga bisa menghemat biaya, ” kata Andi Isra.

Soal tantangan yang besar sebagai pelaut, bagi Andi harus dihadapi. Misalnya soal pengupahan, ia merasa pelaut sering tidak mendapatkan upah yang sesuai ketentuan, namun jika kita bisa memperjuangkan agar dapat penghasilan yang lebih sesuai ketentuan, maka upah yang diberikan bisa sesuai ketentuan yang berlaku.

” Buktikan pada saat bekerja kita punya keahlian, sehingga hasil pekerjaan membuat perusahaan juga memperoleh hasil yang baik,” katanya.

Selain itu juga tambahnya, selain meningkatkan keahlian pelaut penting untuk meningkatkan wawasan dan bersatu. Dengan kita memiliki pengetahuan, maka kita bisa menjalankan tugas. Dengan berkembangnya wawasan, maka kita juga akan tahu hak dan kewajiban.

“Dengan bersatu, maka kita bisa mendapatkan kekuatan jika ada pihak-pihak yang akan memperdaya kita,” ujarnya.

Ia pun bersukur selama ini PPI membekali anggotanya untuk meningkatkan wawasan, sehingga ketika terjadi masalah bisa mengatasinya.

“Tapi masih banyak pelaut yang kurang memahami keadaan itu, sehingga sulit memperjuangkan hak dan kewajibannya,” katanya.

Untuk itu harapan ke depannya, pemerintah untuk memperhatikan kesejahteraan para pelaut terutama untuk gajinya yang sangat minim, karena mereka sudah mempunyai berbagai sertifikat yang memenuhi syarat sebagai pelaut, ujar Andi Isra.

“Tapi sayangnya pihak perusahaan tidak memperhatikan pelaut. Dan pelautnya tidak mampu memperjuangkan hak-hak nya, sehingga penghasilannya tetap rendah,” tuturnya.

Dia juga bertekad jika diklat selesai, akan kembali melaut ke kapal niaga. Dan akan meningkatkan ke ANT-IV. (ahmad)

Keyword STIP pelaut