press enter to search

Senin, 30/03/2020 01:28 WIB

Warga Perumahan Elit di Bekasi Dievakuasi Pakai Perahu Karet Gegara Banjir Semeter

| Senin, 24/02/2020 07:35 WIB
Warga Perumahan Elit di Bekasi Dievakuasi Pakai Perahu Karet Gegara Banjir Semeter Puluhan warga di Bekasi dievakuasi petugas gabungan BPBD dan TNI. (Foto: iNews/Rahmat Hidayat)

BEKASI ((aksi.id) - Banjir satu meter merendam ratusan rumah warga di perumahan elit Harapan Indah, Kota Bekasi, Jawa Barat. Hingga Minggu (23/2/2020) sore, ketinggian air belum ada tanda-tanda akan surut.

Selain dipicu hujan deras, banjir diduga disebabkan buruknya sistem drainase serta pasang air laut. Tim gabungan BPBD dan TNI pun terpaksa mengevakuasi warga yang terjebak banjir dengan menggunakan perahut karet.

Sebagian warga lainnya memilih bertahan di rumah masing-masing dengan alasan menjaga harta benda agar tidak dicuri.

Selain merendam permukiman warga, banjir juga menggenangi dua sekolah negeri.

Camat Medan Satria, Lia Erliani mengatakan, banjir kali ini sangat luar biasa karena curah hujan sangat tinggi sejak Sabtu (22/2/2020) malam hingga Minggu pagi. “Sampai sekarang genangan belum surut dengan ketinggian air antara 10-100 cm,” katanya di sela-sela evakuasi warga.

Meski demikian, dia memastikan semua warga terdampak banjir telah dievakuasi ke posko pengungsian.

Diketahui, banjir akibat hujan deras merendam sejumlah perumahan di Kota Bekasi, Jawa Barat, Minggu (23/2/2020). Aktivitas warga juga lumpuh total karena akses jalan tak bisa dilewati lantaran terendam.

Pantauan iNews, sejumlah perumahan yang terendam banjir di antaranya kawasan Taman Harapan Baru, Kelurahan Kaliabang Tengah, Kecamatan Medan Satria; perumahan Pondok Ungu Permai, Kecamatan Bekasi Utara; perumahan Pejuang Jaya, Harapan Indah, dan Kavling Buaran.

Ketinggian banjir di sejumlah perumahan itu bervariasi berkisar antara 30 cm hingga satu meter.

Warga mengemasi peralatan dapur lantaran rumahnya terendam banjir di Bekasi Utara, Kota Bekasi. (Foto: iNews/Rahmat Hidayat)

Warga kawasan Taman Harapan Baru, Yunita mengatakan, selain merendam rumah-rumah warga, banjir juga membuat aktivitas masyarakat lumpuh lantaran akses jalan tergenang.

“Banjir kali ini mungkin yang paling parah karena semua akses jalan terendam,” katanya.

 

Selain disebabkan hujan deras sejak Sabtu (22/2/2020) hingga Minggu (23/2/2020) pagi, banjir diperparah dengan tidak berfungsinya saluran air. “Saluran airnya banyak yang tersumbat jadi aliran air tidak lancar,” katanya.

Warga Bekasi lainnya, Dede mengaku harus mendorong motornya lantaran mati mesin saat menerjang banjir. “Banyak motor yang mogok juga,” ucapnya.

Di Kavling Buaran, banjir menggenangi ratusan rumah warga hingga 70 cm. Tingginya air yang semakin bertambah membuat sejumlah warga terpaksa mengungsi, bahkan ada yang harus mengungsi di kandang kambing. “Ini banjir yang ketujuh kalinya sejak awal 2020,” ucap warga Buaran, Haris.

Dia menuturkan, air mulai menggenangi rumah warga sejak Sabtu malam dan hingga Minggu siang ketinggian air terus naik.

Dia berharap Pemerintah Kota Bekasi segera memperbesar saluran air yang berada di Kali Buaran untuk mengatasi banjir yang rutin terjadi tiap musim hujan.

Warga Desak Walikota

Banyak warga Bekasi yang ingin mencurahkan isi hati pada Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi atau akrab disapa Bang Pepen. Mereka meminta orang nomor satu di Bekasi itu memberi solusi banjir yang lebih berani dan komprehensif.

“Jangan cuma janji normalisasi kali sama kebijakan plastik doang. Tuh banyak apartemen, mal, perumahan dibangun-bangunin padahal itu kan harusnya bisa jadi ruang hijau. Perketat dong izinnya,” kata Indra, seorang warga Bekasi Utara kepada Ayobekasi.net.

Dia menduga banjir parah yang melanda Bekasi sejak Januari lalu, selain disebabkan cuaca ekstrem, juga lantaran Pemerintah Kota Bekasi tidak tegas dalam mengelola tata ruang kota dan memaksimalkan ruang terbuka hijau.

Sebagai contoh, Perumahan Taman Wisma Asri dulu tidak pernah terkena banjir. Namun, sekarang sebagian area perumahan tersebut ikut kena banjir sejak ada proyek pembangunan apartemen dan kawasan perumahan baru di sekitar sana.

“Terutama yang TWA (Taman Wisma Asri) 1 ya sekarang banyak yang kebanjiran. TWA 2 belum (kena banjir), tapi siapa yang tahu 10-20 tahun ke depan kalau ruang hijau dibangun beton semua?,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Tarno, warga Bekasi Utara lain yang meminta Bang Pepen aktif membangun ruang terbuka hijau serta mewajibkan satu rumah punya minimal satu lubang biopori supaya penyerapan air menjadi maksimal.

“Jangan salahin hujannya. Mau deres, mau enggak berhenti-berhenti, kalau fungsi saluran air bagus mah ya enggak bakal banjir-lah,” katanya.

“Masalahnya sekarang penggunaan lahan itu sudah banyak yang enggak sesuai fungsinya. Harusnya jadi kebon, eh dibangun perumahan. Harusnya buat taman, eh dibikin supermarket. Bang Pepen tolong-lah concern soal ini,” lanjut Tarno.

 

Sumber: inews.id