press enter to search

Kamis, 04/06/2020 14:28 WIB

Cerita Perawat Muslim Asal Indonesia di Australia Bekerja Saat Ramadan di Tengah Pandemi Corona

Redaksi | Jum'at, 22/05/2020 23:20 WIB
Cerita Perawat Muslim Asal Indonesia di Australia Bekerja Saat Ramadan di Tengah Pandemi Corona Risyad Abmar, perawat asal Indonesia di Australia mengatakan ada persamaan antara pekerjaannya dengan tujuan puasa.

Aksi.id - Di tengah pandemi virus corona di Australia, sejumlah tenaga medis dan kemanusiaan adalah Muslim dan tetap menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.

Tenaga medis dan kemanusiaan termasuk dalam kategori "pekerjaan penting" di Australia, sehingga mereka tetap harus datang ke tempat kerja, seperti rumah sakit.

Risyad Abmar, seorang perawat asal Indonesia di salah satu rumah sakit umum di Melbourne mengaku tantangannya saat ini adalah menjaga kesehatannya di saat menjalankan ibadah puasa.

"Saya merasa harus medengarkan tubuh untuk mengetahui bagaimana kondisinya. Ketika sampai di rumah sehabis kerja, saya biasanya merasa sangat lelah dan butuh tidur," kata Risyad.

Tapi ia mengaku menikmati pekerjaannya di saat berpuasa dan di tengah pandemi COVID-19, karena menurutnya ada persamaan antara pekerjaannya dengan tujuan berpuasa.

Baru saja lulus dari ilmu keperawatan, tahun ini menjadi tahun pertama bagi Risyad untuk bekerja sambil berpuasa.

Namun, ia merasa terbantu dengan dukungan yang diberikan rekan-rekan di tempat kerja.

"Ada rasa lega ketika kita tahu ada satu tim yang selalu siap membantu di saat saya membutuhkannya," kata Risyad yang pindah ke Australia saat masih kecil.

Karena harus mentaati aturan `social-distancing` yang masih berlaku di Australia, Risyad tidak dapat mengunjungi keluarganya saat ini.

Risyad mengaku ada rasa kesepian saat harus menyiapkan makanan sendiri untuk sahur atau berbuka puasa.

 

"Kondisinya sulit, menurut saya. Saya juga rindu keluarga. Ramadan kali ini sepi sekali rasanya."

`Semuanya ibadah`

Sari Bui, adalah warga Indonesia yang saat ini bekerja sebagai `support worker`, menjadi pendamping warga lanjut usia di Melbourne.

Beberapa tugas yang dilakukan Sari diantaranya membantu atau sekedar mengawasi klien-nya saat mandi, membantu mereka saat makan, belanja ke supermarket, atau menemani ke dokter.

"Tapi kadang bisa juga di-booking untuk mereka untuk sekedar mengobrol atau menonton TV, intinya menemani para lansia," kata Sari.

"Kalau tidak ada support worker, mereka bisa jadi tidak berbicara dengan orang sama sekali, karenanya penting untuk menjaga kesehatan mental mereka," tambahnya.

Di kalangan warga lanjut usia, Sari mengatakan ada diantara mereka yang tidak pernah mengenal Muslim sebelumnya.

"Mereka sepertinya tidak memperhatikan [soal Muslim], jadi kalau saya datang pake hijab, mereka tidak tahu saya Muslim," ujar Sari yang sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Australia

Di saat bulan Ramadan ini, Sari mengaku membutuhkan kesabaran lebih saat menghadapi warga lanjut usia.

"Mereka banyak yang sudah mengalami dementia, jadi setiap kali ketemu, mereka cerita hal yang sama," jelas Sari.

Sari mengatakan cerita yang diulang-ulang tersebut artinya menjadi sebuah kisah penting bagi kehidupan mereka, jadi harus tetap didengarkan olehnya, "seperti baru pertama kali mendengarnya".

Sebagai seorang ibu dari dua anak, Sari mengaku tantangan terbesarnya saat Ramadan adalah membagi waktu antara bekerja dengan tugasnya di rumah.

"Kalau sedang tidak kerja, saya masak langsung lima macam, lalu masuk kulkas, biar nanti kalau saya bekerja lagi, setidaknya ada makanan untuk keluarga," ujar Sari.

Tak hanya itu, dengan bersuamikan seorang mualaf, selesai shalat Taraweh, menjadi tugas dirinya untuk menyampaikan "ceramah" singkat kepada anak-anaknya, termasuk penjelasan arti Al Quran.

"Bagi saya sebagai seorang Muslim, mendampingi lansia seperti ibadah. Demikian halnya dengan menyiapkan makanan untuk keluarga dan menghabiskan waktu dengan anak-anak." (ny/Sumber:sbc.net.au)