press enter to search

Minggu, 05/07/2020 01:14 WIB

George Floyd dan Kemarahan Massal, Eks Perwira Polisi Kulit Putih Didakwa Melakukan Pembunuhan

Redaksi | Sabtu, 30/05/2020 16:37 WIB
George Floyd dan Kemarahan Massal,  Eks Perwira Polisi Kulit Putih Didakwa Melakukan Pembunuhan Derek Chauvin, yang berkulit putih, terlihat dalam rekaman video sedang menginjak leher George Floyd, 46 tahun, dengan menggunakan lututnya, hari Senin lalu.

Seorang mantan perwira polisi Minneapolis telah ditangkap dan didakwa melakukan pembunuhan setelah kematian seorang pria kulit hitam tidak bersenjata dalam tahanan.

Aksi.id - Derek Chauvin, yang berkulit putih, terlihat dalam rekaman video sedang menginjak leher George Floyd, 46 tahun, dengan menggunakan lututnya, hari Senin lalu.

Dia dan tiga aparat polisi Minneapolis lainnya telah dipecat terkait kasus kematian Floyd, yang berkulit hitam.

Kematian Floyd telah memicu kemarahan di Amerika Serikat (AS), yang melahirkan aksi protes di berbagai kota dan belakangan diwarnai penjarahan dan pembakaran di Minnesota.

Apa yang dikatakan jaksa?

Jaksa di wilayah Hennepin, Mike Freeman mengatakan, Chauvin didakwa melakukan pembunuhan tingkat tiga dan dua.

Dia mengatakan telah "menyiapkan dakwaan" bagi tiga orang anggota polisi lainnya, namun tidak memberikan rinciannya.

George FloydHak atas fotoTWITTER/RUTH RICHARDSON
Image captionGeorge Floyd meninggal dunia setelah insiden lehernya ditindih dengan lutut oleh anggota polisi.

Freeman mengatakan "dakwaan kasus ini dilakukan dengan cepat, setelah bukti-buktinya diberikan kepada kami".

"Sejauh ini, inilah yang tercepat yang pernah kami dakwakan kepada anggota polisi," katanya.

Dalam laporan pengaduan, tindakan Chauvin itu dilatari "pikiran jahat, tanpa memperhatikan peri kemanusiaan".

Apa yang terbaru dalam aksi protes?

Dalam perkembangan terbaru, aksi protes terkait pembunuhan George Floyd masih berlanjut dan kali ini digelar di luar Gedung Putih.

George FloydHak atas fotoREUTERS
Image captionDi Atlanta pada hari Jumat, kendaraan polisi dibakar ketika pengunjuk rasa berkumpul di dekat kantor CNN.

"Saya tidak bisa bernapas," demikian teriakan para demonstran, mengutip kata-kata terakhir Floyd saat lehernya ditekan lutut anggota polisi.

Dalam aksi itu, pengunjukrasa juga memprotes kematian seorang pria kulit hitam lainnya, Eric Garner, yang meninggal karena tidak bisa bernapas, setelah dia ditahan polisi di New York atas dugaan menjual rokok ketengan secara ilegal.

George FloydHak atas fotoSTEEL BROOKS/GETTY
Image captionSebuah kantor polisi di Minneapolis dibakar pada malam ketiga aksi protes atas tewasnya seorang pria kulit hitam tidak bersenjata saat ditahan.

Adapun kebijakan jam malam sudah diberlakukan di kawasan Minneapolis-Saint Paul, Minnesotas, mulai pukul 20:00 hingga 06:00 sejak Jumat malam dan berakhir pada Minggu pagi.

Pada hari Kamis, di malam ketiga aksi protes atas kematian Floyd, sebuah kantor polisi dibakar.

George FloydHak atas fotoREUTERS
Image captionDalam hari-hari terakhir, sejumlah bangunan lainnya juga dibakar, dijarah dan dirusak, sehingga pemerintah AS menurunkan pasukan Garda Nasional untuk mengontrol keadaan.

Selama hari-hari terakhir, sejumlah bangunan lainnya juga dibakar, dijarah dan dirusak, sehingga pemerintah AS menurunkan pasukan Garda Nasional untuk mengontrol keadaan.

Ada pula demonstrasi di tempat-tempat lainnya, diantaranya New York, Los Angeles, Chicago, Denver, Houston, Atlanta, Louisville, Phoenix, Columbus dan Memphis.

George FloydHak atas fotoREUTERS

Di Atlanta pada hari Jumat, kendaraan polisi dibakar ketika pengunjuk rasa berkumpul di dekat kantor CNN.

Kemarahan ini juga dilatari kematian dua orang kulit hitam di AS baru-baru ini, yaitu Ahmaud Arbery di Georgia dan Breonna Taylor di Kentucky.

Bagaimana George Floyd meninggal?

Laporan lengkap hasil pemeriksaan kesehatan belum diumumkan, tetapi materi pengaduan menyatakan bahwa pemeriksaan postmortem tidak menemukan bukti adanya "traumatic asphyxia atau cekikan".

George FloydHak atas fotoYASIN OZTURK/GETTY
Image captionDi Washington DC, AS, ratusan orang menggelar unjuk rasa menuntut agar seorang petugas polisi berkulit putih ditahan terkait kematian George Floyd, Jumat (29/05).

Hasil pemeriksaan sementara mencatat bahwa riwayat kondisi jantung George Floyd dan kombinasi dari "minuman keras atau obat-obatan (intoxicant) di tubuhnya" dan tindakan petugas polisi "kemungkinan berkontribusi pada kematiannya".

Laporan itu mengatakan bahwa Derek Chauvin, sang aparat polisi, menekan leher Floyd dengan menggunakan lututnya selama delapan menit dan 46 detik

George FloydHak atas fotoYASIN OZTURK/GETTY
Image captionSeorang pendemo membawa poster "Am I Next" dalam unjuk rasa di Washington DC, AS, memprotes keamtian George Floyd, Jumat (29/05).

Hampir dua menit sebelum dia mengangkat lututnya, petugas polisi lainnya memeriksa denyut nadi tangan kanan Floyd dan tidak dapat merasakan denyutnya.

Pria kulit hitam itu kemudian dilarikan ke rumah sakit Hennepin dengan ambulans dan dinyatakan meninggal sekitar satu jam kemudian.

Buku panduan kepolisian Minnesota menyatakan, di bawah kebijakan penggunaan kekerasan, petugas dilatih teknik untuk menekan leher dengan lutut tanpa harus menghambat aliran napas.

Teknik ini digolongkan sebagai pilihan kekerasan yang tidak mematikan.

Apa yang dikatakan Presiden Trump?

Di Gedung Putih pada hari Jumat, Presiden Donald Trump menyebut insiden kematian Floyd "mengerikan, kejadian mengerikan" dan mengatakan dia telah berbicara dengan keluarga Floyd, yang dia sebut sebagai "orang-orang hebat".

George FloydHak atas fotoSTEEL BROOKS/GETTY
Image captionRangkain bunga dan poster diletakkan di lokasi saat George Floyd ditekan lehernya oleh aparat kepolisian, Jumat (29/05), Minnesota, AS, pada hari keempat unjuk rasa memprotes tindakan polisi atas Floyd.

Trump mengatakan dia telah meminta departemen kehakiman untuk mempercepat penyelidikan, yang diumumkan pada Jumat, apakah ada hukum hak-hak sipil dilanggar dalam kasus kematian Floyd.

Presiden juga mengatakan, "para penjarah tidak seharusnya dibiarkan untuk menghilangkan suara-suara dari begitu banyak pemrotes yang memilih jalan damai".

Sebelumnya, dia menggambarkan para perusuh sebagai "penjahat" yang tidak menghormati ingatan sosok Floyd.

Apa reaksi keluarga dan pengacara Floyd?

Keluarga Floyd dan pengacaranya, Benjamin Crump, mengatakan penangkapan Derek Chauvin "layak disambut baik, tapi terlambat".

George FloydHak atas fotoJUSTIN SULLIVAN/GETTY
Image captionSeorang perempuan berteriak saat unjuk rasa memprotes kematian George Floyd di Oakland, California, Jumat (29/05).

Keluarga itu mengatakan mereka ingin agar Chauvin didakwa pasal pembunuhan tingkat pertama yang lebih serius. Mereka juga meminta agar diusut para perwira lain yang diduga terlibat.

Diserukan pula agar kota itu mengubah kebijakannya, dengan mengatakan: "Hari ini, keluarga George Floyd harus menjelaskan kepada anak-anaknya mengapa ayah mereka dieksekusi oleh polisi seperti terekam dalam video."

Bagaimana unjuk rasa bermula?

Protes bermula Selasa (26/5) sore saat ratusan orang turun ke perempatan lokasi terjadinya peristiwa. Peristiwanya sendiri terjadi pada Senin (25/5) malam.

Penyelenggara berupaya mempertahankan protes tetap berlangsung damai dan patuh pada penjarakan sosial terkait pandemi.

Para demonstran menyerukan yel-yel: “Saya tak bisa bernapas” dan “Itu bisa menimpa saya”.

Salah seorang pemrotes Anita Murray berkata kepada Washington Post: "Sebenarnya saya takut keluar rumah karena kita sedang di tengah-tengah pandemi begini. Tapi tak mungkin saya diam saja?"

Kerumunan ratusan orang itu lalu berjalan bersama ke kantor polisi tempat bertugasnya anggota polisi yang diduga bertanggung-jawab untuk pencekikan Floyd.

Protester in MinneapolisHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionSalah satu demonstran Minneapolis
Protesters run from tear gas near the Minneapolis Police third precinctHak atas fotoREUTERS
Image captionPolisi menembakkan gas air mata sementara demonstran melempar batu

Apa yang terjadi pada George Floyd?

Petugas kepolisian sedang menanggapi laporan penggunaan uang palsu, dan mereka mendekati Floyd yang sedang berada di kendaraannya.

Menurut polisi, ia diminta untuk menjauh dari kendaraannya dan secara fisik melawan petugas.

Screen grab of video posted on FacebookHak atas fotoDARNELLA FRAZIER
Image captionVideo insiden di Minneapolis diunggah ke media sosial

Pernyataan polisi menyebutkan: “Petugas berhasil memborgol tersangka dan mencatat ia tampak mengalami tekanan medis”.

Video yang diambil dari lokasi peristiwa tidak memperlihatkan bagaimana awal konfrontasi itu.

Video itu memperlihatkan seorang petugas polisi kulit putih menggunakan lututnya untuk menekan leher Floyd ke tanah.

George FloydHak atas fotoTWITTER/RUTH RICHARDSON
Image captionGeorge Floyd berulang kali menyatakan ia tidak dapat bernapas

George Floyd mengerang "tolong, saya tak bisa bernapas" dan "jangan bunuh saya" sementara itu orang-orang yang lewat menyerukan kepada para petugas untuk melepaskannya.

George Floyd lalu berhenti bergerak, dan ambulans tiba untuk membawanya ke rumah sakit. Tak lama Floyd meninggal di sana.

Apa tanggapan resmi?

Tidak lama setelah insiden ini melahirkan kemarahan publik, ada sejumlah aparat kepolisian yang terkait insiden dipecat. Ketika itu, wali kota Jacob Frey mengatakan langkah memecat pada petugas itu “sudah tepat”.

Katanya: "Berkulit hitam di Amerika bukan alasan untuk dibunuh. Selama lima menit kita menyaksikan petugas polisi kulit putih menekan lututnya ke leher seorang pria kulit hitam. Lima menit. Ketika kita mendengar seseorang minta tolong, kita seharusnya menolong."

Polisi Federal Amerika atau FBI menyelidiki kejadian ini dan akan menyampaikan temuan mereka kepada kejaksaan Minnesota untuk mencari kemungkinan adanya kejahatan federal.

Senator Minnesota Amy Klobuchar menyerukan adanya penyelidikan menyeluruh. Katanya: "Keadilan harus ditegakkan untuk pria ini dan keluarganya, keadilan harus ditegakkan di masyarkaat, keadilan harus ditegakkan di negara kita."

Satu hal yang sulit dibicarakan di AS

Banyak seruan agar para petugas ini dituntut dengan tuntutan melakukan pembunuhan.

Mengapa kasusnya sangat sensitif?

Tuduhan kebrutalan polisi kerap disorot sejak gerakan Black Lives Matter. Ini bermula sesudah dibebaskannya petugas ronda lingkungan George Zimmerman sehabis ia menembak mati seorang remaja Afrika-Amerika Trayvon Martin bulan Februari 2012.

Kematian Michael Brown di Ferguson dan Eric Garner di New York tahun 2014 memicu protes massal.

"Saya tak bisa bernapas" menjadi seruan protes nasional sesudah Garner, seorang pria tak bersenjata, melontarkannya saat ditahan polisi dengan cara dicekik karena dituduh menjual rokok ketengan secara ilegal.

Petugas polisi Kota New York yang terlibat dalam pembunuhan Garner dipecat lima tahun kemudian, tapi tak ada yang dituntut hukuman.

Peristiwa terbaru kebrutalan polisi adalah penembakan terhadap seorang perempuan kulit hitam di rumahnya di Louisville oleh tiga orang polisi kulit putih dari Kentucky. Lalu ada pula penembakan seorang pria oleh petugas polisi di Maryland.

Kepolisian di Georgia juga dituduh mencoba menyembunyikan pembunuhan terhadap seorang pemuda kulit hitam yang gemar berolahraga lari, Ahmaud Arbery, yang ditembak sampai mati oleh anak dari seorang pensiunan polisi.

Paige Fernandez dari organisasi American Civil Liberties Union, berkomentar soal kasus terbaru di Minnesota ini: "Video tragis ini memperlihatkan sedikit sekali perubahan yang terjadi yang mungkin bisa menghalangi polisi mengambil nyawa orang kulit hitam." (ny/Sumber: BBCIndonesia)