press enter to search

Selasa, 14/07/2020 16:55 WIB

Perjuangan India Menghapus Tabu Tentang Menstruasi: `Sudah Waktunya Tak Membungkam Mereka dengan Rasa Malu`

Redaksi | Selasa, 02/06/2020 07:46 WIB
Perjuangan India Menghapus Tabu Tentang Menstruasi: `Sudah Waktunya Tak Membungkam Mereka dengan Rasa Malu` Foto. NIRAJ GERA

Diskriminasi terhadap perempuan yang menstruasi berkembang luas di India, dimana menstruasi telah lama dianggap sebagai sesuatu yang tabu dan mereka yang menstruasi dipandang tidak suci.

Mereka sering dikecualikan dari acara sosial dan keagamaan, ditolak masuk ke kuil dan tempat suci dan bahkan dijauhkan dari dapur.

Pada kesempatan Hari Kebersihan Menstruasi yang diperingati setiap 28 Mei, fotografer pemenang penghargaan, Niraj Gera, berupaya untuk menghilangkan stigma periode dalam seri foto yang dinamai `Sacred Stains`.

A photograph from Sacred Stains seriesHak atas fotoNIRAJ GERA

Mengingat kurangnya percakapan tentang menstruasi, menurut sebuah penelitian, 71% gadis remaja di India tidak menyadari menstruasi sampai mereka mengalaminya sendiri.

Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa orang tua jarang mempersiapkan anak perempuan mereka untuk sesuatu yang mereka tahu pasti akan terjadi. Dan ketidaksiapan ini menyebabkan begitu banyak rasa takut dan kecemasan yang sebenarnya bisa dihindari.

Presentational white space
A photograph from Sacred Stains seriesHak atas fotoNIRAJ GERA
Presentational white space

Kesulitan mendapatkan akses akan pembalut adalah isu besar lainnya.

India memberlakukan pajak 12% untuk produk sanitasi pada 2018 setelah berbulan-bulan kampanye oleh para aktivis.

Para pegiat berpendapat bahwa produk-produk higienis menstruasi bukanlah barang mewah dan menstruasi bukanlah opsi yang bisa dipilih perempuan.

Namun, pembebasan pajak hanyalah langkah kecil menuju perjalanan yang jauh lebih lama untuk menjadikan kesehatan dan kebersihan menstruasi menjadi kenyataan yang mudah diakses bagi setiap perempuan di negara ini.

A photograph from Sacred Stains seriesHak atas fotoNIRAJ GERA

Menurut salah satu penelitian, hanya 36% dari 355 juta perempuan yang mengalami menstruasi menggunakan pembalut, sementara sisanya menggunakan kain, kulit, abu, daun, lumpur dan tanah dan bahan berbahaya lainnya untuk mengontrol menstruasi.

Dan para ahli kesehatan menstruasi mengatakan krisis virus corona saat ini telah memperburuk masalah lebih lanjut di India. Negara ini berada di bawah karantina wilayah ketat yang sangat berdampak pada produksi dan pasokan produk-produk kesehatan menstruasi.

A photograph from Sacred Stains seriesHak atas fotoNIRAJ GERA

Tentu saja, kemiskinan mempengaruhi perempuan yang menstruasi di India.

Menurut Plan International UK, badan amal pembangunan internasional, satu dari 10 gadis yang kurang beruntung di bawah usia 21 tahun tidak mampu membeli produk sanitasi dan menggunakan pengganti yang tidak higienis seperti koran, kertas toilet, dan kaus kaki.

A photograph from Sacred Stains seriesHak atas fotoNIRAJ GERA

Sejak usia dini, anak perempuan belajar hidup dengan rasa sakit dan ketakutan dan jarang kita melihat seorang gadis mencari bantuan ketika dalam ketidaknyamanan fisik atau mental karena menstruasi.

Tetapi dengan lonjakan penggunaan media sosial dalam beberapa tahun terakhir, perempuan juga mulai berbagi cerita tentang menstruasi.

Namun kebebasan ini sering dipertanyakan dan mereka yang membagikan cerita mereka diancam dengan larangan, sementara mereka yang berlindung pada nilai-nilai moral dan mempermalukan para perempuan itu bebas dari hukuman.

"Sudah waktunya untuk tidak membungkam mereka dengan rasa malu, tetapi memberi mereka kebebasan dan pengetahuan untuk mengatasi rasa sakit. Media sosial adalah alat yang kuat dan harus digunakan untuk menyebarkan kepositifan dan kesadaran di antara orang-orang," kata Niraj Gera.

A photograph from Sacred Stains seriesHak atas fotoNIRAJ GERA

Jutaan keluarga di penjuru India tidak mampu membeli produk kebersihan menstruasi.

Dalam foto di atas, seorang putri dari buruh harian menginginkan pembalut, kata Gera, namun merasa bersalah untuk meminta uang kepada orang tuanya untuk membeli pembalut tersebut.

Bagi mereka, itu adalah dilme menghabiskan uang untuk makanan untuk keluarga atau membeli pembalut perempuan.

Fotografer itu kemudian meluncurkan petisi melalui yayasannya - Humanity Foundation- menuntut distribusi pembalut gratis untuk semua perempuan dan gadis yang hidup di bawah garis kemiskinan di India.

A photograph from Sacred Stains seriesHak atas fotoNIRAJ GERA

Hampir 23 juta remaja perempuan India berhenti sekolah setiap tahunnya, setelah mereka mengalami menstruasi untuk pertama kali, menurut sebuah penelitian yang dilakukan pada 2014 oleh Dasra, sebuah badan amal yang menangani masalah kesehatan remaja.

Para juru kampanye mengatakan alasan utama adalah kurangnya toilet bersih di sekolah dan akses yang buruk ke produk sanitasi.

Ada juga ketakutan akan noda mentruasi dan gadis-gadis khawatir diejek oleh teman sekelas mereka.

Studi ini juga menemukan bahwa sejumlah besar perempuan menganggap menstruasi sebagai kotor, menjelaskan mengapa perempuan yang sedang menstruasi sering dikucilkan dari kegiatan sosial dan budaya dan dipaksa untuk menghadapi segala macam pembatasan.

A photograph from Sacred Stains seriesHak atas fotoNIRAJ GERA

"Ini saatnya bagi kita untuk menyadari bahwa menstruasi adalah proses biologis dan kerahasiaan tentang itu harus dilalui. Penting untuk menormalkan menstruasi dan menghapus tabu di sekitar proses alami ini," katanya.

"Berbicara [tentang menstruasi] adalah hal yang diperlukan untuk memulai transformasi dan sudah saatnya kita melakukannya."

(ny/Simber :BBCIndonesia/ Semua foto merupkan hak cipta fotografer Niraj Gera)