press enter to search

Senin, 10/08/2020 17:44 WIB

Indonesia Masih Jauh dari Puncak Pandemi Covid-19

Redaksi | Sabtu, 04/07/2020 16:50 WIB
Indonesia Masih Jauh dari Puncak Pandemi Covid-19 Ilustrasi. (ist)

JAKARTA (Aksi.id) - Ahli epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mengatakan Indonesia masih jauh dari puncak pandemi, walaupun jumlah kasusnya terus meningkat di atas 1.000 setiap harinya. Ia melihat, puncak Covid-19 akan terlihat kalau sudah terjadi penurunan kasus secara bertahap dalam kurun waktu tertentu. Bahkan Pandu memperkirakan, jumlah kasus virus corona di Indonesia masih akan meningkat sampai akhir tahun ini.

“Belum. Indonesia kan penduduknya besar. Nanti kalau sudah turun berarti sudah terasa kita sudah mencapai puncak. Lagi naik-naiknya. Masih jauh. Sampai akhir tahun bisa enggak turun-turun,” ujarnya, di Jakarta, Jumat (3/7).

Lebih lanjut Pandu menjelaskan jumlah testing dengan metode real time PCR kepada orang yang positif juga dinilainya masih rendah. Sejauh ini, ia hanya melihat DKI Jakarta dan Jawa Barat yang sudah melakukan testing dengan jumlah cukup banyak. Angka jumlah spesimen yang di tes setiap harinya, yang selalu diumumkan oleh jubir, kata Pandu tidak mencerminkan angka yang berarti, karena menurutnya rumah sakit bisa saja melakukan dua sampai tiga kali tes kepada orang yang sama untuk memperoleh hasil negatif.

“Jadi kan kalau kita hanya melihat angka itu kadang-kadang itu tidak tahu dari berapa orang yang dites. Jadi informasi yang disampaikan oleh jubir itu tidak informatif, bisa dipersepsikan beda. Harusnya tanya angka itu dari berapa orang yang di tes. Itu berapa persen positivity rate-nya. Orang terpaku sama angka, itu kan angka absolut, bukan angka relatif,” jelasnya.

Terus meningkatnya jumlah kasus baru setiap harinya, ujar Pandu, mencerminkan bahwa penularan masih terjadi di tengah masyarakat. Diakuinya memang sulit untuk membuat masyarakat patuh melakukan tiga M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan). Padahal menurutnya, kalau masyarakat patuh hal tersebut akan lebih ampuh dibandingkan dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Pemerintah, menurutnya saat ini kurang mengintervensi dan menggalakkan tiga M tersebut di tengah-tengah masyarakat dan cenderung lebih terfokus pada usaha memperbaiki perekonomian yang anjlok.

“Boleh dibuka (ekonomi), susahnya kan mempraktekan tiga M itu. Jadi yang dilupakan hanya membuka tapi tidak meningkatkan proporsi yang patuh terhadap tiga M . Dibuka saja untuk perekonomian jalan, tapi tiga M itu harus dipakai. Jadi intervensi public health tiga M itu dan melakukan testing dan melacak dan isolasi itu menjadi tulang punggung supaya ekonomi bisa jalan tapi public health intervensinya tetap jalan,” paparnya.

Ia pun menyarankan pemerintah untuk memperkuat testing dengan metode real time PCR dan menghentikan penggunaan rapid test, karena hasilnya tidak akurat dan hanya menghabiskan anggaran negara.

Kasus Corona di Indonesia Tembus 60.000

Juru bicara penanganan kasus virus corona Dr Achmad Yurianto melaporkan pada Jumat (3/7) Indonesia kini memiliki 60.695 kasus Covid-19, setelah ada penambahan 1.301 kasus baru hari ini.

Penambahan kasus terbanyak masih diperoleh dari provinsi Jawa Timur dengan 353 kasus baru, sementara Sulawesi Selatan menyumbang 180 kasus baru hari ini. Sehingga lima provinsi dengan jumlah kasus kumulatif Covid-19 terbanyak adalah Jawa Timur (13.048), DKI Jakarta (11.961), Sulawesi Selatan (5.559), Jawa Tengah (4.293) dan Kalimantan Selatan (3.447).

Yuri juga mengumumkan ada 901 pasien yang sudah diperbolehkan pulang hari ini, sehingga total pasien yang telah pulih mencapai 27.568. Jumlah kematian masih terus meningkat. Sebanyak 49 orang meninggal dunia, sehingga jumlah total penderita yang meninggal pun menjadi 3.036. Jumlah orang dalam pemantauan (ODP) kini 38.767, sementara jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) 13.609. (ds/sumber VOA Indonesia)