press enter to search

Senin, 10/08/2020 18:08 WIB

Hotman Paris Curhat ke UAS, Pernah Mau Bunuh Diri karena Stres

Redaksi | Sabtu, 11/07/2020 12:31 WIB
Hotman Paris Curhat ke UAS, Pernah Mau Bunuh Diri karena Stres Ustadz Abdul Somad dan Hotman Paris Hutapea.

JAKARTA (Aksi.id)  - Pengacara Hotman Paris Hutapea ternyata memiliki pengalaman hidup yang berliku. Baru-baru ini Hotman Paris curhat hampir bunuh diri ke pemuka agama Ustadz Abdul Somad (UAS).

Hotman Paris menceritakan masa terberat dalam hidupnya kepada UAS dalam bincang digital. Awalnya, UAS bertanya mengenai pengalaman hidup Hotman Paris.

"Abang pernah merasa sulit dalam hidup? Apa hal yang menurut abang paling sulit selama menjalani hidup?,” ujar UAS dikutip dari laman Youtube Ustadz Abdul Somad Official, Minggu (14/6/2020).

Dalam postingan yang berjudul ‘Bincang Bersama Hotman paris’ itu Hotman mengaku ia berasal dari keluarga berada. Sejak kecil, ia tak pernah merasakan kesulitan dalam segi finansial.

"Saya kebetulan dari kecil bukan dari keluarga miskin. termasuk orang yang berada untuk ukuran kecamatan. Saya tidak pernah susah dari segi keuangan. Saya 10 bersaudara 6 orang sarjana murni orangtua yang sekolahkan ke Unversitas," jawab Hotman.

Namun, pernah suatu ketika Hotman menghadapi saat-saat terberat dalam hidupnya hingga terbesit ingin mengakhiri hidupnya. Kala itu ia merasa sangat stres saat bekerja di bidang yang tak sesuai dengan latar belakang dan kemampuannya.

"Yang tersulit saya hadapi hampir pernah mau bunuh diri," ujar Hotman.

"Waktu saya dari kantor pengacara internasional Adnan Buyung, oleh Profesor Subekti waktu itu yang menulis KUH perdata. Saya diminta masuk ke Bank Indonesia. Tapi saat itu saya melihat saya tidak punya masa depan di sana," lanjutnya.

Hotman merasa ia tak bisa berkembang dan mendapatkan pundi-pundi rupiah seperti yang ia harapkan. Terlebih, ia memiliki latar belakang pendidikan sarjana hukum dan merasa tidak cocok dengan pekerjaan yang digelutinya saat itu.

"Saya itu sarjana hukum, disuruh hitang data, hitung neraca, di situlah saya menjadi pesimis dan stres. Hari demi hari akhirnya, saya hampir bunuh diri minum baygon," ungkapnya.

Namun, ia menceritakan tak jadi melakukan aksinya karena tiba-tiba tersadar oleh tukang becak. Tukang becak memberi pelajaran secara tak langsung.

"Tapi pas saya mau minum baygon tiba-tiba mendengar tukang becak di depan rumah yang sedang main gaplek tiba-tiba tertawa. Saat itu saya pikir, dia saja (tukang becak) bisa bahagia hidupnya ketawa-ketawa. Saya ini yang pegawai BI sarjana hukum mau bunuh diri itulah tekad i have to do it," tuturnya.

Sejak itu, Hotman merasa wajib memilih pekerjaan sesuai passion, keahlian dan kesukaan.

Keputusannya itu ternyata membawanya menuju keberhasilan.om)

"Saya harus pilih pekerjaan yang saya suka and i will do it the maksimum way. dan berhasil," tutupnya. (ds/sumber Suara.com)