press enter to search

Senin, 10/08/2020 19:36 WIB

Cerita Angkatan 2020, Belum Dapat Kerja, Malu Minta Orantua, Bisnis Sendiri di Tengah Corona

Redaksi | Sabtu, 11/07/2020 12:53 WIB
Cerita Angkatan 2020, Belum Dapat Kerja, Malu Minta Orantua, Bisnis Sendiri di Tengah Corona Kaktus dan sukulen yang dijual Anggi dan rekannya, Agus.

JAKARTA (Aksi.id) - Sejumlah lulusan universitas angkatan 2020 bercerita mengenai sulitnya mencari pekerjaan pada masa pandemi Covid-19 dan bagaimana mereka mencoba bertahan dengan berbisnis. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah iklan lowongan kerja di masa pandemi sempat anjlok hingga 75% pada April lalu.

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Keuangan, juga telah menyatakan akan melakukan moratorium penerimaan PNS hingga lima tahun ke depan.

Kementerian Ketenagakerjaan menyebutkan jumlah pengangguran diestimasi dapat mencapai antara 2,9 juta hingga 5,2 juta jiwa akibat pandemi.

`Indonesia berpotensi resesi` - dampak ekonomi akibat pandemi `jauh lebih berat` ketimbang krisis moneter 1998
Mencari kerja di saat krisis: Tips untuk lulusan 2020 dari lulusan 2008

Cerita pekerja migran Indonesia di tengah wabah virus corona: Dari tidak digaji, di-PHK, susah beli alat sikat gigi hingga tidur di atas lemari

`Cukupi kebutuhan dengan usaha kaktus`

Anggi Nindya, 23, lulus dari jurusan Tasawuf Psikoterapi dari sebuah universitas di Bandung, Jawa Barat, awal 2020.

Saat itu, Covid-19 belum terlalu berdampak di Indonesia.

"Awal-awal tahun masih optimis lamar-lamar kerja," ujar Anggi yang sempat melamar kerja ke sejumlah perusahaan untuk posisi marketing dan posisi lainnya.

"Lama-lama dengar orang di-PHK, diberhentikan, atau mereka yang nggak di-PHK, tapi nggak kerja juga. Banyak dengar kasus seperti itu. Merasa makin pesimis aja."

Dengan berbisnis, Anggi mengatakan ia tak perlu meminta uang dari orang tuanya.

Hingga pekan kedua Juli, Anggi belum juga diterima di perusahaan-perusahaan yang dilamarnya.

"Sempat kayak pesimis gitu, [berpikir] `ya udah ini nggak akan dapat kerjaan deh, kayaknya ini bakal nganggur lama`. Cukup sering ngobrol dengan teman-teman, `kok aku nggak dapat-dapat panggilan kerja ya?"

Namun, Anggi menolak berpangku tangan.

Sejak kuliah, ia dan seorang teman seangkatan kuliahnya, Agus Kurnia, menjalankan usaha menjual tanaman kaktus dan sukulen.

KPK sebut Kartu Prakerja `terdapat konflik kepentingan`, tanda-tanda ke tindak pidana korupsi?

Sebanyak 1,2 juta karyawan mengalami PHK dan dirumahkan di tengah pandemi, Kartu Prakerja dianggap tak efektif
Kartu Prakerja: Pemerintah klaim `tidak bagi-bagi kontrak pelatihan`, pengamat soroti transparansi
Sebelumnya, penghasilan yang dia dapatkan biasa digunakan untuk "jajan dan bersenang-senang".

Namun, pada masa pandemi, Anggi mengatakan bisnis itulah yang memberinya penghasilan sehingga tak perlu minta uang dari orang tua. Bahkan dia bisa membantunya memberi uang untuk adiknya.

Pada Juni lalu, ia mendapat pesanan suvenir pernikahan sebanyak 200 buah tanaman.

Anggi mengatakan usahanya itu tak hanya membantu secara finansial, tapi juga mampu mengalihkan pikirannya saat "merasa stres setelah mengirim dokumen lowongan pekerjaan".

"Usaha bisa bikin aku sedikit lupa soal lowongan kerja itu," ujarnya.

Meski usahanya sudah berjalan, Anggi mengatakan tetap berharap bisa bekerja di sektor formal karena menurutnya pengalaman itu akan memberinya pelajaran yang tak didapatkannya di bisnisnya.

`Masa sudah selesai, masih minta duit orang tua?`

Hal senada diucapkan Bayu Bahari, 25, yang lulus dari jurusan Jurusan Teknik Informatika di sebuah sekolah tinggi di Makassar, Sulawesi Selatan, Maret lalu.

Bayu menceritakan prosesnya mencari kerja terhambat kampus yang tutup akibat pandemi Covid-19.

"Mau cari kerja, tapi kantor saja di Makassar banyak PHK karyawan. Bagaimana kita mau masuk kerja?"

"Sekarang sudah ada yang buka lowongan, tapi kebanyakan karyawannya sendiri [yang sebelumnya diberhentikan] yang dipanggil masuk. Persaingan masih susah," ujar Bayu, yang bermimpi untuk bekerja di Jakarta.

Bayu menambahkan ia sempat kesulitan mengambil ijazah karena kampusnya yang tutup akibat Covid-19, padahal dokumen itu penting untuk mencari kerja.

Bayu akhirnya fokus mengurus kedai kopi yang ia rintis akhir 2019 lalu.

"Dari pada tinggal di rumah nggak makan, mending kerja. Kebetulan saya banyak teman yang suka ngopi di luar. Mending saya buka usaha sendiri," katanya.

"Malu juga masa sudah selesai kuliah masih minta duit orang tua? Dengan usaha ini saya survive (selamat) di kondisi sekarang."

Meski usahanya berkembang, Bayu mengatakan ia tetap berkeinginan mengaplikasikan ilmunya sebagai pekerja IT kala pandemi usai.

`Daripada hanya nonton drakor`
Helsa Mustika, yang lulus dari Fakultas Ilmu Komunikasi di sebuah universitas di Bandung, Jawa Barat, Februari lalu, mengasah kemampuannya memasak di sela-sela menunggu panggilan kerja.

Ia sudah menjalani sejumlah proses wawancara kerja secara daring, tapi belum mendapat panggilan kerja hingga pekan pertama Juli.

"Gara-gara pandemi, aku jadi suka ngulik-ngulik. Jadi ingin buat makanan ini-itu. Lihat Youtube, lihat Instagram, ketemu masakan-masakan unik jadi ingin coba," kata Helsa yang ingin menjadi jurnalis itu.

Ia akhirnya menemukan resep rawon khas Surabaya, makanan yang digemarinya. Dia lantas mencoba membuatnya.

Awalnya, ia hanya meminta teman-temannya mencicipi masakannya.

"Pada bilang enak teh jual aja, ya udah aku jual akhirnya," kata Helsa yang memulai bisnisnya di bulan puasa lalu.

Helsa, yang juga dibantu oleh ibunya dalam bisnis itu, mengatakan merasa puas karena setiap hari pasti ada yang memesan makanannya.

"Bisnis ini mengisi kegiatan aku daripada hanya nonton drakor (drama Korea), nggak ada kegiatan lain."

"Meski udah kerja aku tetap mau membesarkan bisnis ini."

"Meski udah kerja aku tetap mau membesarkan bisnis ini," ujar Helsa.

Sementara, di Manado, Sulawesi Utara, Debora Sitinjak, 23, mengatakan pentingnya mengembangkan kemampuan dan hobi saat pandemi.

Debora, lulusan jurusan bisnis di sebuah universitas di Manado, Sulawesi Utara, kini berjualan tato temporer sambil menunggu situasi cukup aman untuk mencari pekerjaan.

Selain bekerja, Debora mengatakan, ia menjaga mentalnya dengan menari, kegiatan yang menjadi hobinya sejak lama.

"Di saat kita bosan-bosannya di rumah, cobalah cari aktivitas yang mungkin bisa bikin mood kalian bagus dan tetap produktif di rumah," katanya.

Debora Sitinjak mengembangkan bisnis tato temporer sambil menunggu peluang kerja.

`Anak muda cepat beradaptasi`
Anggi Afriansyah, Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengatakan upaya sejumlah lulusan 2020 untuk berbisnis merupakan langkah mereka beradaptasi.

"Ini menggambarkan situasi di mana sebagian anak muda dengan cepat melakukan adaptasi terhadap berbagai situasi sulit saat ini," ujar Anggi.

Hal itu, menurut Anggi mencerminkan pentingnya seseorang memiliki softskilldan bagaimana lembaga pendidikan harus berperan mengasah keahlian itu.

Warga mencari informasi tentang pendaftaran program Kartu Prakerja gelombang kedua di Jakarta, (20/4).

"Penting bagi seseorang untuk memiliki softskill memadai, seperti berkomunikasi, berkolaborasi, dan menggunakan teknologi terbaru. Juga kemampuan menjual produk atau mempromosikan dirinya sehingga orang lain bisa terkesan terhadap kerja-kerja yang dilakukan," ujar Anggi.

Ia mengatakan lembaga pendidikan perlu bergerak ke arah itu, termasuk mempertajam kemampuan mahasiswa berpikir kritis.

"Sehingga mereka mempunya daya tahan memadai ketika menghadapi ketidakstabilan saat ini atau masa depan," kata Anggi.

Sejumlah buruh berjalan keluar dari pabrik Beesco Indonesia di Karawang, Jawa Barat, Rabu (03/06). Kementerian Ketenagakerjaan meminta para pengusaha merekrut kembali pekerja atau buruh yang terkena PHK dan dirumahkan akibat pandemi COVID-19 dengan harapan dapat mengurangi angka pengangguran dan memperluas kesempatan kerja baru.

Sayangnya, menurut Anggi, belum semua lembaga pendidikan fokus mengembangkan soft skill siswa karena kurangnya tenaga pengajar dan faktor lainnya.

Ke depannya, Anggi mengatakan, lembaga pendidikan perlu terus mengasah keahlihan yang selaras dengan jurusan pendidikan mahasiswa, salah satunya dengan mengadakan webinar-webinar.

"Sehingga mereka bisa cari cara atau celah yang memungkinkan mereka tetap bisa bertahan atau membuat pekerjaan-pekerjaan baru yang tidak tergantung investasi global."

`Stimulus bagi pengusaha`
Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziah, mengatakan meski dampak pandemi tak bisa diselesaikan tahun ini, pihaknya tetap menargetkan 800.000-900.000 orang tetap terserap ke dunia kerja hingga akhir 2020.

Ida mengatakan pemerintah tengah menyiapkan stimulus ekonomi bagi pelaku usaha agar bisa bertahan di masa pandemi sehingga dapat tetap mempekerjakan pekerja.

Sejumlah korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) mendirikan tenda dan bermalam sebagai bentuk protes di depan kantornya, Makassar, Sulawesi Selatan (09/07).

Upaya lainnya, kata Ida, adalah dengan memberikan pelatihan-pelatihan keterampilan di Balai Latihan Kerja (BLK) yang dikelola pemerintah.

"Jadi yang sekarang dilakukan Kemenaker, disamping melakukan pelatihan vokasi, memberikan skilling (pelatihan keterampilan), upskiling (pendalaman keterampilan), reskilling (pelatihan keterampilan baru), kami juga memperluas kesempatan kerja melalui pelatihan kewirausahaan.

"Jadi kalau misalnya pasar kerjanya masih terbatas maka kita dorong mereka mengembangkan usaha secara mandiri," ujarnya. (ds/sumber BBC Indonesia)

Artikel Terkait :

-