press enter to search

Senin, 10/08/2020 19:39 WIB

Warga Palimanan Cirebon ini Malah Ngojol di Bekasi dan Tetap Setia dengan Gojek

Dahlia | Selasa, 14/07/2020 15:13 WIB
Warga Palimanan Cirebon ini Malah Ngojol di Bekasi dan Tetap Setia dengan Gojek Foto:aksi.id/BeritaTrans.com

BEKASI (aksi.id) – Ojek online (ojol) sudah menjamur di mana-mana, terutama Pulau Jawa. Menjadi pengemudinya adalah pilihan sebagian orang sebagai penghasilan tambahan.

Namun apa yang terjadi jika ada driver yang di kota tempat dia dan keluarganya tinggal telah tersedia jaringan untuk aplikasi ojol namun pengemudi tersebut memilih untuk merantau dan tinggal jauh dari keluarga hanya untuk pekerjaan yang sama.

Hal itu diceritakan oleh ojol mitra Gojek bernama Sarika (41). Warga Desa Cengkuang, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat.

Dia menerangkan, sudah menjadi mitra Gojek selama dua tahun belakangan, sebelumnya pekerjaannya ialah sebagai ojek pangkalan di Bulak Kapal, Bekasi sejak tahun 2000.

“Dulu ikut jualan roti, dapat duit beli motor, ikut belajar ngojek, tapi sekarang(ojek pangkalan) sewanya sudah enggak ada, makin seret abis sewanya, gojek ada lowongan, ya daftar aja langsung,” katanya saat ditemui BeritaTrans.com dan Aksi.id, Senin (13/7/2020) Sore.

Setelah selama seminggu, dia kembali dari kampung untuk merantau lagi ke Bekasi sebagai ojol dan mengaktifkan akun aplikasi drivernya pada Kamis (9/7).

“Saya baru narik lagi seminggu ini, kemarin ya  menganggur di rumah. Ada usaha dagangan sembako di rumah,” kata driver dengan motor berplat E asal Cirebon tersebut.

“Kemarin (8/7/2020) dari kampung (Cirebon) abis asar sampai sini (Bekasi) jam delapan malam, langsung ada penyemprotan. Tapi ada yang salah. Tadi saya tadi balik ke kantor di Summarecon mau tanya kesalahannya apa, rupanya belum terverifikasi kemarin pas nyemprot,” ungkap Sarika.

“Sekarang akun saya banyak potongan karena udah empat bulan gak bayar (administrasi bulanan ke akun bank), Kemarin saldo saya terakhir Rp3 ribu. Makanya saya narik ini tiap hari di potong,”katanya.

Selama di kampung, dia mengaku tidak ngojek. Hanya sesekali membantu usaha warung sembako di rumahnya, yang sebelumnya hanya dikerjakan oleh sang istri.

Padahal, ayah tiga orang anak ini, bisa saja ngojek dan mengaktifkan akunnya di seputaran Palimanan ataupun Cirebon.

“Banyak juga teman-teman yang biasa narik di sini (Bekasi). Kalau narik di Cirebon, beda bonus,” cetusnya.

Saat ini dia harus berhemat agar penghasilanya bisa dikirim ke kampung dan sebagian membiayai hidupnya di tempat perantauan di Kota Bekasi.

“Saya tinggal sama orang-orang perantauan Cirebon kontrak rumah sama-sama. Kerjaannya macam-macam,” cetusnya. (fahmi).