press enter to search

Sabtu, 15/08/2020 20:19 WIB

Diusir AS, India dan Inggris, Siap siap Indonesia Jadi Sasaran Empuk TikTok

Redaksi | Jum'at, 24/07/2020 09:15 WIB
Diusir AS, India dan Inggris, Siap siap Indonesia Jadi Sasaran Empuk TikTok Aplikasi TikTok. FOTO/ Ist
JAKARTA (Aksi.id)  - Amerika Serikat, Inggris dan India telah memblokir aplikasi TikTok karena dianggap aplikasi ini bisa mengancam keamanan data pengguna. Mau tak mau kini TikTok menaruh harapan lebih ke Indonesia. 

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo mencap China sebagai "kekaisaran jahat" dan memperingatkan orang-orang Inggris untuk tetap waspada tentang aplikasi berbasis China seperti TikTok

Mike Pompeo memperingatkan terhadap negara-negara yang masih mengunakan TikTok akan berakhir di tangan Partai Komunis China." tutur Pompeo seperti dilansir dari Daily Kamis (23/7/2020).

TikTok menjadi aplikasi di luar kategori game yang paling banyak di unduh di seluruh dunia pada Juni 2020. Aplikasi besutan ByteDance itu meraih 87 juta angka unduhan. Dibandingkan pada periode Juni 2019, ada 52,7% peningkatan unduhan.

"Negara-negara yang paling banyak memasang aplikasi selama periode ini adalah India sebesar 18,8 persen dari total unduhan dan Amerika Serikat sebesar 8,7 persen," tulis Sensor Tower dikutip dari laman resminya, Sabtu (11/7/2020). 

Menurut Priori Data, India merupakan pasar terbesar TikTok. Sepanjang pertengahan tahun 2020, Aplikasi video pendek tersebut mencapai 99,8 juta unduhan (Juni). TikTok disebut-sebut merugi hingga USD 6 miliar atau Rp 87 triliun akibat pemblokiran oleh pemerintah India.

Amerika Serikat (AS) menyusul India dengan 45,6 juta unduhan TikTok. Namun pihak keamanan nasional AS juga meninjau perusahaan di balik TikTok, ByteDance pada November tahun lalu. Hasil investigasinya menyatakan adanya dugaan pengambilan data pengguna. Kini isu tersebut tengah mencuat secara global, TikTok tengah dihempas isu pencurian data pengguna untuk persaingan bisnis dan politik.

China masih menjadi pasar terbesar TikTok dengan menyumbang 69 persen total penghasilan sepanjang 2019 . Disusul Amerika Serikat dan Inggris dengan sumbangan penghasilan masing-masing sebesar 20 persen dan 2 persen.

Popularitas TikTok di Indonesia juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan populasi yang diproyeksikan sekitar 269 juta jiwa pada 2020, TikTok lantas menjadi buah bibir masyarakat sejak 2018. Saat itu mereka baru saja mengakuisisi Musical.ly dan Bowo Alpenliebe jadi artis TikTok yang mengundang banyak kontroversi.
(ny/Sumber: Sindonews.com)