press enter to search

Sabtu, 15/08/2020 20:57 WIB

PBB Perkirakan 7 Juta Anak Bakal Kekurangan Gizi dan 180.000 Orang Terancam Meninggal Akibat Pandemi Covid-19

Redaksi | Minggu, 02/08/2020 14:27 WIB
PBB Perkirakan 7 Juta Anak Bakal Kekurangan Gizi dan 180.000 Orang Terancam Meninggal Akibat Pandemi Covid-19 Kekurangan gizi di masa kanak-kanak dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat serta masalah kesehatan lainnya yang dirasakan seumur hidup.

SWISS (Aksi.id) - Krisis sosial dan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi virus corona atau covid-19 berpotensi menyebabkan hampir tujuh juta anak mengalami stunting akibat kekurangan gizi, kata Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi.

Bahkan sebelum Covid-19 diperkirakan telah ada 47 juta balita yang mengalami penurunan berat badan dengan cepat (wasting) di tingkat sedang hingga parah yang sebagian besar tinggal di Afrika sub-Sahara dan Asia Tenggara.

Kini, akibat lockdown dan terganggunya rute bantuan vital dalam perdagangan internasional, PBB memperingatkan bahwa pandemi virus corona akan menciptakan "efek antar generasi" pada kesehatan jutaan manusia.

Ratusan juta orang terancam kelaparan, PBB minta sumbangan Rp152 triliun untuk lawan dampak pandemi
Kematian anak akibat Covid-19 di Indonesia `tinggi`, `tak ada biaya berobat` hingga `ditolak rumah sakit karena penuh`
Mengapa begitu banyak janda kelaparan bahkan meninggal karena kekurangan gizi?

Dalam sebuah artikel pada jurnal medis The Lancet, tim ahli menunjukkan hasil estimasi pemodelan komputer tentang pasokan makanan di 118 negara miskin dan berpenghasilan menengah.

Hasilnya, mereka menemukan bahwa wasting akibat kekurangan gizi tingkat sedang hingga berat untuk anak di bawah usia lima tahun akan meningkat 14,3% atau setara dengan 6,7 juta kasus tambahan.

Wasting terjadi ketika tubuh kekurangan gizi akut sehingga otot dan lemak dalam tubuh mulai berkurang dengan cepat.

Skenario terburuk: 180.000 anak terancam meninggal

Anak-anak yang selamat dari kelaparan Ethiopia mendapat penghasilan per tahun 3-8% lebih rendah selama hidup mereka daripada teman sebaya mereka.

Sejumlah penelitian juga telah menunjukkan hubungan yang jelas antara wasting dengan kondisi kesehatan kronis dan parah di kemudian hari.

"Kekurangan nutrisi pada balita di fase awal kehidupan akibat dampak mendalam pandemi Covid-19 dapat menciptakan konsekuensi antar-generasi untuk pertumbuhan dan perkembangan anak dan dampak seumur hidup pada pendidikan, risiko penyakit kronis dan pembentukan manusia secara keseluruhan," tulis para peneliti, sebagaimana dikutip kantor berita AFP.

Dalam permodelan tersebut, skenario terburuk akibat pandemi virus corona yaitu menyebabkan anak kecil kehilangan 50% asupan nutrisi dan layanan perawatan, dimana hampir 180.000 berpotensi meninggal dunia di tahun ini saja.

Wasting bertanggung jawab atas satu dari 10 kematian bayi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa pandemi akan membuat sekitar 140 juta orang masuk ke dalam kemiskinan ekstrem - yaitu, hidup dengan kurang dari US$1,90 atau Rp27 ribu sehari.

Tim Kesehatan mengatakan jumlah kematian terkait faktor yang berhubungan dengan makanan di Yaman mengalami peningkatan.

Di negara-negara yang telah mengalami krisis kemanusiaan, UNICEF (Badan PBB untuk anak-anak) telah memperingatkan bahwa, hingga 100% layanan nutrisi penting dapat terganggu.

Dalam sebuah surat terbuka yang ditandatangani oleh kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, tertulis bahwa kondisi ini dapat diminimalisir dampaknya, jika dilakukan penambahan anggaran bantuan minimal US$2,4 miliar untuk melindungi anak-anak yang berisiko.

Dunia terancam dilanda bencana kelaparan akibat pandemi Covid-19, kata PBB

"Kita harus melangkah maju bersama dengan tindakan yang berkelanjutan dan melakukan investasi pada nutrisi hari ini dan mengurangi dampak krisis Covid-19 dan potensi warisan antargenerasi terkait kelaparan dan kekurangan gizi pada anak-anak," katanya.(ds/sumber BBC Indonesia)