press enter to search

Kamis, 29/10/2020 12:05 WIB

Penembakan di 2 Masjid Selandia Baru: Cerita WNI Jelang Vonis Pelaku, Sempat Takut Tapi Dapat Dukungan Penuh

Redaksi | Rabu, 26/08/2020 09:07 WIB
Penembakan di 2 Masjid Selandia Baru: Cerita WNI Jelang Vonis Pelaku, Sempat Takut Tapi Dapat Dukungan Penuh Keluarga korban tiba di gedung pengadilan di Christchurch, Selandia Baru.


CHRISTCHURCH (Aksi.id) - Brenton Tarrant melakukan penembakan di dua masjid di Selandia Baru. Sebanyak 51 orang meninggal akibat tindakannya.

Sidang kasus penembakan dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, kembali mendengarkan keterangan para keluarga korban.

Dalam sidang hari Selasa (25/08), Ambreem Naeem, yang kehilangan suami dan seorang anak dalam penembakan tersebut, mengatakan bahwa hukuman untuk pelaku harus berlaku selamanya.

Di kursi terdakwa, Brenton Tarrant, yang telah mengakui perbuatan membunuh 51 jemaah di dua masjid, tampak pasif dan tak menunjukkan ekspresi.

Pada sidang hari Senin (24/08), terungkap bahwa Tarrant memiliki rencana menjadikan masjid sebagai sasaran dan ingin membakar masjid-masjid ini "agar jatuh korban sebanyak mungkin".

Vonis untuk Tarrant rencananya dibacakan hari Kamis (27/08). Insiden ini mengguncang Selandia Baru dan masyarakat internasional.

Cerita mahasiswa Indonesia meloloskan diri dari penembakan di masjid Selandia Baru: `Allah mengarahkan saya`

Penembakan membuat trauma dan perasaan sangat terasa. Namun, sekarang kehidupan telah kembali normal dan bahkan toleransi antarumat beragama semakin tinggi, kata dua warga Indonesia yang bekerja dan belajar di sana.

Mereka mengungkapkan bagaimana pemerintah dan masyarakat Selandia Baru mengembalikan rasa aman dan percaya khususnya bagi umat Muslim.

Terlebih, kejadian itu juga meningkatkan keinginan masyarakat Selandia Baru untuk lebih mengetahui dan mengenal tentang Islam.

Pulihnya rasa aman dan meningkatnya toleransi

Nurfadilah tiba di Christchurch, Selandia Baru pada awal tahun 2019. Beberapa bulan terlewati, ia yang tengah menyelesaikan master tak menyangka berada di dekat peristiwa penembakan yang menewaskan 51 orang.

Usai belajar di kampus, Dila, panggilannya, yang berjalan kaki pulang menunju tempat tinggalnya, melihat beberapa ambulans melintas di depannya.

Ia baru mengetahui penembakan beberapa saat kemudian melalui pemberitaan televisi.

Peristiwa itu membuat Dila menjadi takut untuk keluar rumah selama satu dan dua pekan pertama.

"Pertama kali keluar usai kejadian bersama dua teman saya dari Malaysia yang pakai hijab awalnya takut. Tapi saat ketemu warga mereka sangat baik, peduli. Lalu pihak kampus bahkan mengantarkan makanan hingga ke rumah. Kami merasakan ada support," kata Dila kepada wartawan BBC News Indonesia, Raja Eben Lumbanrau.

"Bahkan kami disediakan transportasi oleh kampus dan mahasiswa, mengantar kami ke rumah masing-masing. Mereka ingin menyampaikan pesan `peristiwa itu bukan kami, kami ingin kalian imigran, Muslim, pendatang merasa aman di sini,`" kata Dila.

Rasa takut pun hanya berlangsung kurang dari dua bulan saja. Selebihnya kondisi perlahan semakin pulih dan kembali normal pada enam bulan, kata Dila yang menganggumi toleransi masyarakat di sana.

Sekarang, lebih dari setahun terlewati, kata Dila, kondisi Kembali menjadi normal, bahkan terjadi peningkatan keamanan di rumah ibadah.

"Sekarang mau ke masjid harus register, lebih ketat masuk tempat ibadah. Lalu musala di kampus yang hanya patroli menjadi berjaga setiap saat. Kami merasa aman," kata perempuan kelahiran Makasar tersebut.

"Kami merasa disayang sama warga dan pemerintah di sini. Ini pelajaran untuk kita semua, bagaimana warga peduli satu sama lain, pemerintah baik dan peduli dengan warganya," katanya.

Meningkatnya keinginan tahu tentang Islam

Para penyintas dan anggota keluarga korban serangan masjid di New Zealan tahun lalu akan berbicara dalam sidang yang dijadwalkan akan dilaksanakan dalam empat hari.

Bahkan kata Dila, peristiwa tersebut meningkatkan rasa ingin tahu warga lokal dan warga lain untuk belajar tentang Islam.

Hal itu senada dengan yang diungkapkan Carissa Paramita, WNI yang tinggal di Auckland, Selandia Baru.

"Dulu open day masjid, pengunjungnya puluhan, hanya orang-orang tertentu saja yang datang. Sekarang hingga ratusan. Interest orang terhadap Islam meningkat. Keingintahuan dan simpati dengan Muslim lebih meluas," kata Mita, panggilannya.

Mita yang telah tinggal di Selandia Baru selama enam tahun mengatakan apa yang dilakukan Brenton Tarrant tidak merepresentasikan kebebasan beragama di sana. Ia tidak pernah menemukan sekalipun tindakan diskriminasi terhadap umat Muslim.

"Sebelum kejadian, di sini jalan pakai gamis, peci, hijab itu biasa saja, tidak ada pandangan miring, lalu pengajian berjalan biasa, tidak ada yang melarang. Selandia Baru sangat terbuka dengan perbedaan, kebebasan beragama dan bertoleransi tinggi. Namun, kejadian ini mengungkap bahwa masih ada yang rasis dengan imigran dan juga Muslim jika ditelaah lebih dalam, dan mereka biasanya tinggal di daerah selatan," kata Mita.

Koordinator fungsi penerangan dan sosial budaya KBRI Selandia Baru, Adek Triana Yudhaswari mengatakan secara umum masyarakat di Selandia Baru, termasuk WNI tetap tenang dan bersabar menunggu keputusan pengadilan terhadap Brenton Tarrant.

Adek tidak melihat ada aksi protes yang dilakukan komunitas Muslim dan lainnya turun.

Dukungan moral tertuang secara tertulis di sosial media dan aplikasi komunikasi WhatsApp.

"Umat Muslim secara umum mengharapkan agar pelaku teroris tersebut dihukum dengan seberat beratnya dan seadil-adilnya. Beberapa diantaranya mengharapkan agar pelaku teroris tersebut dihukum mati meskipun hukuman terberat di Selandia Baru adalah penjara seumur hidup.

"Komunitas Muslim juga berharapa semoga setelah putusan pengadilan ini berakhir, umat Muslim di Selandia Baru bisa menerimanya dengan lapang dada dan bisa mendapatkan kesempatan untuk move on," kata Adek.

Sidang hari pertama: `Saya tidak bisa memaafkan Anda`

Dalam sidang vonis hari Senin, terungkap bahwa Brenton Tarrant punya rencana menjadikan masjid ketiga sebagai sasaran dan ingin membakar masjid-masjid ini "agar jatuh korban sebanyak mungkin".

Tarrant, seorang warga Australia, mengaku bersalah atas 51 dakwaan pembunuhan, 40 percobaan pembunuhan dan satu dakwaan terorisme.

Laki-laki berusia 29 tahun ini menghadapi hukuman seumur hidup dan mungkin tak akan bisa dibebaskan lebih awal, jenis hukuman yang belum pernah dikeluarkan di Selandia Baru.

Dalam sidang hari Senin, Tarrant bertemu langsung dengan korban yang selamat dan keluarga mereka.

Salah satu di antaranya adalah Maysoon Salama, yang kehilangan anak laki-lakinya, Atta Elayyan.

Salama mengatakan tindakan Tarrant tak bisa dipahami dan menambahkan, "Saya tak bisa memaafkan Anda."

"Anda telah memberi kuasa ke diri Anda sendiri untuk mencabut 51 nyawa orang-orang yang tak berdosa, satu-satunya kesalahan mereka, di mata Anda, adalah mereka ini orang-orang Islam," kata Salama, sambil menahan tangis.

Serangan pada 15 Maret 2019, dalam beberapa bagian, oleh Tarrant disiarkan secara langsung di internet.

Pertama-tama ia menuju Masjid Al Noor dan menembaki orang-orang yang salat Jumat. Kemudian ia menuju Masjid Linwood dan membunuh orang-orang di rumah ibadah ini.

Insiden mengejutkan masyarakat internasional dan memicu pemerintah Selandia Baru mengubah undang-undang tentang senjata api.

Para penyintas dan anggota keluarga korban akan berbicara dalam sidang yang dijadwalkan akan dilaksanakan dalam empat hari.

Sidang digelar di gedung pengadilan di Christchurch, kota tempat Tarrant melakukan serangan.

Ruang pengadilan tambahan di dalam kompleks pengadilan di Christchurch disediakan untuk para penyintas dan kerabat korban yang terbunuh.

Tarrant, 29, dari New South Wales, Australia, sebelumnya membantah tuduhan terhadapnya dan akan dijadwalkan akan diadili pada Juni lalu, sebelum ia membatalkan pembelaannya.

Dia sekarang menghadapi hukuman minimum 17 tahun, tetapi Hakim Cameron Mander, hakim Pengadilan Tinggi yang memimpin kasus ini, memiliki kuasa untuk menghukumnya seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat.

Lebih dari 60 orang akan memberikan kesaksian secara langsung pada sidang itu.

Beberapa telah melakukan perjalanan dari luar negeri dan menjalani aturan karantina 14 hari untuk bisa bersaksi.

Dr Hamimah Tuyan, yang suaminya, Zekeriya Tuyan, meninggal hampir tujuh minggu setelah ditembak di Masjid An-nur, terbang dari Singapura untuk mengikuti sidang itu.

Dr Tuyan mengatakan kepada BBC bahwa dia sempat ragu-ragu apakah ia akan menulis pernyataan yang akan dibacakannya di depan Tarrant.

Ia khawatir bahwa itu mungkin "menambah narsisismenya", tetapi pada akhirnya ia memutuskan bahwa dia akan melakukannya.

"Saya belum benar-benar punya waktu untuk memikirkan bagaimana perasaan saya terhadapnya atau bagaimana perasaan saya saat melihat dia secara langsung," katanya.

"Saya harap saya akan tenang."

Ratusan orang lainnya hanya bisa menonton persidangan melalui video dari ruang sidang lain di kota itu untuk menjaga jarak sosial.

Proses persidangan tidak akan ditampilkan langsung kepada masyarakat umum.

Hakim Mander mengatakan dalam perintah yang dikeluarkannya bulan ini bahwa pengadilan memiliki wewenang untuk membatasi publikasi pernyataan korban jika diperlukan.

Serangan Tarrant terhadap dua masjid, yang beberapa bagiannya disiarkan langsung secara daring, mengejutkan dunia dan mendorong Selandia Baru membuat perubahan cepat pada undang-undang terkait senjata di negara itu.

Kurang dari sebulan setelah penembakan, parlemen negara itu memberikan suara 119 banding 1 terkait reformasi yang melarang senjata militer semiotomatis.

Bagian-bagian yang dapat digunakan untuk merakit senjata api juga dilarang.

Pemerintah menawarkan untuk memberi kompensasi kepada pemilik senjata dalam skema pembelian kembali. (ds/sumber BBC Indonesia)