press enter to search

Selasa, 01/12/2020 15:03 WIB

Mendikbud Nadiem: Tak Ada Rencana Hapus Mata Pelajaran Sejarah, Kakek Saya Pejuang

Redaksi | Minggu, 20/09/2020 21:44 WIB
Mendikbud Nadiem: Tak Ada Rencana Hapus Mata Pelajaran Sejarah, Kakek Saya Pejuang Mendikbud Nadiem Makarim saat rapat kerja bersama Komisi X DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.

JAKARTA (Aksi.id) - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim memberi klarifikasi atas isu yang beredar soal rencana penyederhanaan kurikulum dengan penghapusan mata pelajaran (mapel) Sejarah.

Isu itu mencuat setelah beredar petisi agar Presiden Jokowi mengembalikan posisi mata pelajaran Sejarah sebagai mapel wajib untuk siswa SMA/SMK sederajat. Petisi ini dibuat oleh Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) di laman change.org pada 15 September.

"Saya terkejut dengan betapa cepat informasi tidak benar menyebar mengenai isu mapel Sejarah. Saya ingin ucapkan tidak ada sama sekali kebijakan, regulasi, atau perencanaan penghapusan mapel sejarah di kurikulum nasional," ucap Nadiem dalam keterangan yang dibagikan Kemendikbud di media sosial, Minggu (20/9).

Pendiri Gojek itu menyebut, isu ini keluar karena ada presentasi internal yang bocor tentang salah satu ide penyederhanaan kurikulum. Padahal, Kemendikbud punya puluhan versi kurikulum yang berbeda dan sedang dikaji dalam uji publik.
"Penyederhanaan kurikulum tidak akan dilakukan sampai tahun 2022."

Di tahun 2021, Nadiem akan melakukan berbagai macam prototyping kurikulum di Sekolah Penggerak yang terpilih, bukan dalam skala nasional.  

"Jadi, sekali lagi tidak ada kebijakan apa pun yang akan keluar di 2021 dalam skala kurikulum nasional. Apalagi, penghapusan mata pelajaran sejarah," tegas Nadiem.  

Kakek Nadiem Pejuang Kemerdekaan

Nadiem mengaku terkejut karena akibat isu itu, komtimennya terhadap sejarah kebangsaan dipertanyakan. Padahal, misi Nadiem adalah memajukan pendidikan sejarah agar kembali relevan dan menarik bagi anak-anak.

"Kakek saya adalah salah satu tokoh perjuangan dalam kemerdekaan Indonesia di tahun 1945. Ayah dan ibu saya aktivis nasional untuk membela hak asasi rakyat Indonesia dan berjuang melawan korupsi. Anak-anak saya tidak mengetahui bagaimana melangkah ke masa depan tanpa mengetahui dari mana mereka datang," bebernya.

Justru, misi Nadiem sebagai menteri ingin menjadikan sejarah menjadi suatu hal yang relevan untuk generasi mudah dengan media yang menarik dan relevan.

"Sekali lagi saya imbau masyarakat, jangan biarkan informasi yang tidak benar menjadi liar. Semoga klarifikasi ini bisa menenangkan masyarakat. Sejarah adalah tulang punggung dari identitas nasional kita. Tidak mungkin kami hilangkan," pungkas Nadiem. (ds/sumber Kumparan.com)