press enter to search

Jum'at, 30/10/2020 03:07 WIB

Ahli STMKG Peringatkan: Awan Cumulonimbus Skala Besar, Warga Jakarta dan Sejumlah Wilayah Mesti Waspada

Redaksi | Senin, 21/09/2020 14:18 WIB
Ahli STMKG Peringatkan: Awan Cumulonimbus Skala Besar, Warga Jakarta dan Sejumlah Wilayah Mesti Waspada Udara Jakarta.


JAKARTA (Aksi.id) - Ahli dari Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG) Deni Septiadi memperingatkan, adanya hujan dalam intensitas lebat yang akan melanda Jakarta dan sejumlah wilayah.

Ahli di bidang petir dan atmosfer ini menjelaskan, hasil pengamatan dia, telah terbentuk sistem konvektif skala besar atau Mesoscale Convective Systems (MCSs) di atas Jakarta yang merupakan suatu sistem kompleks dari kumpulan awan Cumulonimbus (Cb) yang tentu saja sangat berbahaya. Karena itu warga Jakarta sekitarnya mesti waspada.  

"Secara rinci jenis MCS ini dalam meteorologi disebut sebagai Mesoscale Convective Complex (MCC) yang merupakan salah satu jenis dari MCS terbesar," jelas Deni, Senin (21/9).

Inisiasi MCC dimulai saat ukuran (size) telah memenuhi kriteria temperatur selimut awan ≤-32°C dengan luasan area ≥100.000 km2 (tipe A) atau Interior awan dingin (cold cloud) dengan temperatur ≤-52°C dengan area ≥50.000 km2 (tipe B). Saat luasan maksimum selimut awan tercapai, nilai eksentrisitas yang menggambarkan bentuk mendekati lingkaran harus mencapai ≥0,7

Deni menerangkan, dari citra satelit sistem skala meso ini telah terbentuk lebih dari 10 jam dengan inisiasi awal pembentukan di Selat Karimata sebelah Timur Laut Belitung. Temperatur puncak awan sistem konvektif ini terpantau mencapai -80°C.

"Palembang, Jambi, Bengkulu, Banten, Jakarta, Bandung dan sekitarnya perlu mewaspadai potensi hujan lebat bahkan ekstrem, banjir, longsor, serta petir. Sistem konvektif skala meso ini juga dapat memicu gelombang laut mencapai 4-6 m di laut Jawa bagian utara dan selatan," beber dia.

Banjir besar yang pernah terjadi pada Januari 2013 silam merupakan contoh betapa MCC perlu untuk diwaspadai.

Gelombang laut mencapai 4-6 m di laut Jawa bagian utara dan selatan," beber dia.

Banjir besar yang pernah terjadi pada Januari 2013 silam merupakan contoh betapa MCC perlu untuk diwaspadai.
Deni Septiadi

Ahli di bidang petir dan atmosfer ini menjelaskan, hasil pengamatan dia, telah terbentuk sistem konvektif skala besar atau Mesoscale Convective Systems (MCSs) di atas Jakarta yang merupakan suatu sistem kompleks dari kumpulan awan Cumulonimbus (Cb) yang tentu saja sangat berbahaya.   

"Secara rinci jenis MCS ini dalam meteorologi disebut sebagai Mesoscale Convective Complex (MCC) yang merupakan salah satu jenis dari MCS terbesar," jelas Deni kepada kumparan, Senin (21/9).

Inisiasi MCC dimulai saat ukuran (size) telah memenuhi kriteria temperatur selimut awan ≤-32°C dengan luasan area ≥100.000 km2 (tipe A) atau Interior awan dingin (cold cloud) dengan temperatur ≤-52°C dengan area ≥50.000 km2 (tipe B). Saat luasan maksimum selimut awan tercapai, nilai eksentrisitas yang menggambarkan bentuk mendekati lingkaran harus mencapai ≥0,7
Deni Septiadi

Deni menerangkan, dari citra satelit sistem skala meso ini telah terbentuk lebih dari 10 jam dengan inisiasi awal pembentukan di Selat Karimata sebelah Timur Laut Belitung. Temperatur puncak awan sistem konvektif ini terpantau mencapai -80°C.

"Palembang, Jambi, Bengkulu, Banten, Jakarta, Bandung dan sekitarnya perlu mewaspadai potensi hujan lebat bahkan ekstrem, banjir, longsor, serta petir. Sistem konvektif skala meso ini juga dapat memicu gelombang laut mencapai 4-6 m di laut Jawa bagian utara dan selatan," beber dia.

Banjir besar yang pernah terjadi pada Januari 2013 silam merupakan contoh betapa MCC perlu untuk diwaspadai. (ds/sumber Kumparan)