press enter to search

Jum'at, 23/10/2020 03:18 WIB

Tempat Isolasi RS Rujukan Corona di Jakarta Terisi 81 Persen

Redaksi | Jum'at, 25/09/2020 10:12 WIB
Tempat Isolasi RS Rujukan Corona di Jakarta Terisi 81 Persen RS Rujukan Covid di Jakarta.

JAKARTA (Aksi.id) - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan saat ini kapasitas tempat tidur isolasi di sejumlah rumah sakit rujukan virus corona (Covid-19) di Jakarta sudah mencapai 81 persen. Angka tersebut menurutnya masih perlu ditekan.

Anies mengatakan tingkat keterpakaian ruang isolasi dan ICU khusus Covid harus terus ditekan hingga di bawah 60 persen, sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO).

"Dari jumlah tempat tidur isolasi sebanyak 4.812, hingga 23 September, persentase keterpakaiannya sebesar 81 persen," kata Anies lewat keterangan tertulis, Kamis (24/9).

Sementara itu, jumlah tempat tidur ICU di RS rujukan, dari total 695 unit, persentase keterpakaiannya sebesar 74 persen hingga 23 September.

Menurut Anies, tingkat keterisian tempat tidur isolasi dan ruang ICU di RS rujukan itu meningkat seiring dengan meningkatnya kapasitas tes di Jakarta.

Ia mengatakan, Jakarta telah melakukan tes PCR terhadap 857.863 orang atau 80.588 orang per sejuta penduduk hingga 23 September. Kapasitas tes di Jakarta per minggu lebih dari 6 kali lipat standar WHO.

WHO diketahui menetapkan standar jumlah tes ideal bagi setiap wilayah sebanyak 1 orang per 1.000 populasi setiap minggu.

Saat ini Pemprov DKI Jakarta menggandeng sejumlah rumah sakit pusat, TNI/Polri, BUMN, dan Swasta untuk meningkatkan kapasitas tempat tidur. Namun, upaya untuk menekan laju penyebaran virus corona juga perlu terus dilakukan.

Anies sebelumnya mengatakan saat ini penyebaran Covid-19 di Ibu Kota mulai menunjukkan tanda-tanda melandai. Kendati begitu, menurutnya, semua pihak harus tetap waspada.

Ia juga menekankan perlunya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diperketat untuk meredam penyebaran kasus positif Covid-19. Sebab, tanpa pembatasan ketat dan diiringi dengan tes yang dilakukan secara masif, menurutnya penambahan kasus harian bisa mencapai 2.000 kasus per hari pada pertengahan Oktober.

"Tanpa pembatasan ketat dan dengan tingkat pengetesan tetap seperti saat ini, pertambahan kasus harian di Jakarta diprediksi akan mencapai 2.000 per hari pada pertengahan Oktober, sedangkan kasus aktif akan mencapai 20.000 pada awal November," tuturnya.

Oleh sebab itu, Anies memutuskan untuk kembali memperpanjang PSBB jilid II selama dua pekan. Perpanjangan PSBB jilid II akan dimulai Senin (28/9) sampai dengan 11 Oktober 2020. (ds/sumber CNNIndonesia.com)