press enter to search

Minggu, 01/11/2020 04:30 WIB

Covid-19: Apa Bisa Dipelajari dari Vaksinasi Massal Flu Babi `Gagal` 1976?

Redaksi | Kamis, 01/10/2020 21:17 WIB
Covid-19: Apa Bisa Dipelajari dari Vaksinasi Massal Flu Babi `Gagal` 1976? Ilustrasi. (ist)

JAKARTA (Aksi.id) - Flu babi yang mewabah di Amerika Serikat pada 1976, membuat presiden AS saat itu mengumumkan upaya untuk memvaksinasi semua warga negaranya.

Richard Fisher menemukan kesalahan dalam kebijakan itu yang dapat menjadi pelajaran untuk saat ini.

Pascal Imperato sedang mengantre untuk divaksin, ketika juru kamera juga berada di sana untuk mengabadikan momen itu.

Saat itu sekitar pukul 10.30 pagi tanggal 12 Oktober 1976, dan Imperato berada di Klinik Kesehatan Chelsea, sebuah gedung Art Deco di sisi barat bawah Manhattan.

Klinik itu adalah satu dari sekitar 60 lokasi yang tersebar di sekitar New York, yang bersiap untuk memvaksinasi hampir semua warga di kota.

Tahun itu, kekhawatiran akan pandemi flu babi membayangi, jadi Presiden Gerald Ford memerintahkan vaksinasi massal yang belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika Serikat.

Vaksinasi terhadap Imperato menandai hari pertama vaksinasi di New York.

Imperato adalah wakil komisaris kesehatan dan ketua gugus tugas yang bertugas meluncurkan program vaksinasi di kota itu, jadi dia secara sukarela difoto untuk media massa saat divaksin.

Walikota New York City, ketika ditanya, telah menolak berpartisipasi, jadi Imperato mengambil alih. Jumlah orang yang mau divaksin banyak saat itu.

Namun, apa yang dimaksudkan sebagai pembukaan seremonial dan pencitraan hubungan masyarakat yang positif berubah menjadi suram.

Pekan itu, surat kabar mulai melaporkan berita meresahkan dari klinik vaksin di Pittsburgh: tiga kematian yang tampaknya tidak dapat dijelaskan karena serangan jantung.

"Saya ingat hari itu. Saya mengingatnya dengan jelas," kenang Imperato.

"Saya melihat berita utama itu di kereta bawah tanah dan berkata, `Ya Tuhan. Semua kacau balau di sini."

Pascal Imperato pada 1970-an. Ia memimpin kampanye vaksinasi flu babi di Kota New York.

Berita utama yang muncul kemudian ternyata lebih buruk.

Dua hari kemudian, tabloid New York Post menulis artikel berjudul "Adegan di Klinik Kematian Pennsylvania", yang menampilkan kisah emosional tetapi hampir pasti dilebih-lebihkan tentang: "Satu orang yang sudah tua, Julia Bucci, 75 tahun, meringis melihat jarum suntik di lengannya, lalu ia mundur beberapa langkah, lalu jatuh mati di lantai klinik, tepat di depan mata mereka. "

Cerita-cerita itu ternyata salah dan menyesatkan.

Tapi itu hanya salah satu dari banyak masalah yang melanda "kasus flu babi tahun 1976", ketika seorang presiden AS memutuskan untuk segera memberikan vaksin kepada seluruh penduduk Amerika berdasarkan sains yang tidak benar dan kelalaian politik.

Gugatan hukum, efek samping, dan liputan media negatif menyusul, dan peristiwa tersebut merusak kepercayaan masyarakat pada sistem kesehatan selama bertahun-tahun yang akan datang.

Apa yang terjadi bahkan mungkin meletakkan dasar bagi pandangan keliru mereka yang anti terhadap vaksin.

Saat dunia terburu-buru meluncurkan vaksin kepada miliaran orang saat ini, apa yang dapat kita pelajari dari peristiwa nahas tahun 1976?

Kasus itu dimulai di pangkalan pelatihan Angkatan Darat AS di New Jersey.

Pada bulan Februari 1976, beberapa tentara di Fort Dix jatuh sakit karena flu babi yang sebelumnya tidak dikenal. Tidak ada yang bersentuhan dengan babi, jadi ada asumsi bahwa penularan antar manusia sudah terjadi.

Pengujian mengungkapkan bahwa virus itu telah menyebar ke lebih dari 200 orang.

Pandemi tahun 1957 dan 1968 masih segar dalam ingatan, dan ada ketakutan bahwa pandemi influenza serupa tahun 1918, yang telah menewaskan puluhan juta orang, akan terjadi.

Penyelidikan lebih lanjut menemukan bahwa orang di bawah usia 50 tahun tidak memiliki antibodi terhadap jenis virus baru ini.

Keputusan mendesak dibutuhkan.

Pejabat kesehatan masyarakat menyadari mereka mungkin memproduksi vaksin dan mendistribusikannya kepada publik pada akhir tahun jika mereka bertindak cepat.

Industri farmasi baru saja menyelesaikan pembuatan vaksin untuk penyakit flu biasa.

Mereka juga memiliki keunggulan: ayam jantan.

Saat itu, vaksin influenza diproduksi di telur ayam yang telah dibuahi. Ayam jantan musim itu akan disembelih, jadi keputusan yang lambat akan menambah penundaan beberapa bulan untuk pembuatan vaksin.

Pada bulan Maret, Presiden Ford mengumumkan program senilai US$137 juta pada 1976 untuk memproduksi vaksin pada musim gugur.

"Tujuannya adalah untuk mengimunisasi setiap pria, perempuan, dan anak-anak di AS, dan dengan demikian merupakan program imunisasi terbesar dan paling ambisius yang pernah dilakukan di Amerika Serikat," tulis Imperato dalam makalah tahun 2015 yang merefleksikan peristiwa tersebut.

Dengan melihat ke belakang, mudah untuk melihat bahwa ketakutan itu tidak berdasar.

Jenis flu babi yang terlihat di Fort Dix tidak berbahaya, dan pandemi tak terjadi.

Belakangan, para peneliti menemukan bahwa jenis flu babi yang jinak telah menyebar di populasi AS jauh sebelum yang satu itu diidentifikasi di pangkalan militer.

Dan para ilmuwan yang takut akan flu Spanyol terulang lagi tidak tahu bahwa influenza 1918 dihasilkan oleh unggas, bukan babi.

Para peneliti pada saat itu juga menderita suatu bentuk bias: berdasarkan pengalaman dari tahun 1950-an dan 60-an, mereka berasumsi pandemi influenza besar terjadi dalam siklus 11 tahun, padahal sebenarnya pandemi terjadi secara tidak beraturan.

Jadi, seperti yang terjadi sepanjang pandemi Covid-19 pada 2020, para ilmuwan hanya dapat memberikan saran terbaik berdasarkan pengetahuan yang tidak lengkap.

Banyak pejabat kesehatan masyarakat yang skeptis dan tidak yakin juga, termasuk Imperato di New York.

"Saya pikir kami semua setuju bahwa ya, itu mungkin tidak mungkin, tetapi kami tidak dapat sepenuhnya yakin," kenangnya.

Ford memang mengadakan pertemuan dengan para ilmuwan terkemuka untuk memutuskan apakah harus ada program vaksinasi, tetapi "itu ditafsirkan sebagai peristiwa politik daripada proses ilmiah", menurut David Sencer, direktur Pusat Pengendalian Penyakit kala itu.

Namun, itu tidak berarti bahwa para ilmuwan bersikap netral dalam ketidakpastian.

Seperti yang disimpulkan oleh mantan presiden Institute of Medicine Harvey Fineberg dalam tinjauan kejadian pada tahun 2008, banyak ilmuwan senior mendukung vaksin dengan agenda yang sudah ada sebelumnya.

Beberapa peneliti melihat peluang untuk meningkatkan kredensial lembaga atau bidang mereka di panggung nasional, tulisnya, sementara yang lain berpegang pada "keyakinan bahwa pencegahan penyakit dengan vaksinasi adalah kesempurnaan yang dapat dicapai dari kondisi manusia".

Ketika musim panas AS tiba, tidak ada wabah yang muncul secara nasional atau internasional, tetapi upaya produksi vaksin terus berlanjut.

Empat perusahaan farmasi telah mulai memproduksi vaksin, dan pengujian masuk tahap uji klinis. Tapi di bulan Juni, ada masalah yang akan berdampak luas selama bertahun-tahun setelahnya.

Itu dimulai ketika produsen mengumumkan permintaan asuransi tanggung gugat yang mereka ajukan ditolak pemerintah, maka secara efektif mereka memberhentikan operasi mereka.

Mereka meminta Kongres untuk mengganti kerugian mereka kelak, tapi permohonan itu juga ditolak.

Selama berminggu-minggu, hal ini menghambat rencana pejabat kesehatan seperti Imperato, tetapi yang utama, telah merusak kepercayaan publik.

"Sementara ultimatum perusahaan produksi mencerminkan tren litigasi di masyarakat Amerika, pesan bawah sadar yang tidak disengaja, dan tidak salah berbunyi `Ada yang salah dengan vaksin ini,`" tulis Sencer.

"Mispersepsi publik ini, baik yang dibenarkan atau tidak, memastikan bahwa setiap kejadian terkait kesehatan yang terjadi setelah vaksinasi flu babi akan diteliti dan dikaitkan dengan vaksin tersebut."

Pada bulan Juli, pemerintahan Ford setuju untuk menanggung biaya tuntutan hukum dan meminta Kongres untuk mengesahkan undang-undang terkait itu.

Programnya itu berjalan kembali seperti rencana awal, tapi sudah terlambat memperbaiki persepsi masyarakat. (ds/sumber BBC Indonesia)

Keyword Covid Flu Babi