press enter to search

Jum'at, 30/10/2020 11:57 WIB

Tertular Covid-19 Dua Kali, Seorang Pria di AS Mengalami Gejala `Lebih Parah`, Kasus yang Timbulkan Pertanyaan Soal Kekebalan

Redaksi | Rabu, 14/10/2020 07:16 WIB
Tertular Covid-19 Dua Kali, Seorang Pria di AS Mengalami Gejala `Lebih Parah`, Kasus yang Timbulkan Pertanyaan Soal Kekebalan

Aksi.id - Seorang pria di Amerika Serikat telah tertular Covid-19 dua kali dan gejala-gejala yang ia alami pada kejadian kali kedua berkembang menjadi lebih membahayakan daripada yang pertama, menurut laporan pada dokter.

Pria berusia 25 tahun itu membutuhkan perawatan di rumah sakit setelah ia mengalami kekurangan oksigen akibat fungsi paru-paru yang terganggu.

Infeksi ulang jarang terjadi dan pria itu sekarang telah pulih.

Meski demikian, studi yang diterbitkan di Lancet Infectious Diseases, menimbulkan pertanyaan tentang tingkat kekebalan tubuh terhadap virus.

Tetapi studi di Lancet Infectious Diseases, menimbulkan pertanyaan tentang seberapa besar kekebalan yang dapat dibangun terhadap virus.

Pria dari Nevada itu tidak memiliki masalah kesehatan maupun kekurangan pada kekebalan yang membuatnya sangat rentan terhadap Covid.

Apa yang terjadi dan kapan

  • 25 Maret - Gejala gelombang pertama, termasuk sakit tenggorokan, batuk, sakit kepala, mual dan diare
  • 18 April - Dia dites positif untuk pertama kalinya
  • 27 April - Gejala awal sembuh total
  • 9 dan 26 Mei - Hasil tesnya negatif dua kali
  • 28 Mei - Dia mengalami gejala lagi, kali ini termasuk demam, sakit kepala, pusing, batuk, mual dan diare
  • 5 Juni - Tes positif untuk kedua kalinya, dan hipoksia (oksigen darah rendah) dengan sesak napas

Para ilmuwan mengatakan pasien itu terjangkiti virus corona dua kali, dan bukan infeksi awal menjadi tidak aktif dan kemudian berkembang kembali.

Perbandingan kode genetik virus yang diambil selama setiap serangan gejala menunjukkan bahwa kode itu terlalu berbeda untuk disebabkan oleh infeksi yang sama.

"Penemuan kami menandakan bahwa infeksi sebelumnya belum tentu melindungi dari infeksi di masa depan," kata Dr Mark Pandori, dari University of Nevada.

"Kemungkinan infeksi ulang dapat memiliki implikasi signifikan bagi pemahaman kita tentang kekebalan terhadap Covid-19."

Dia mengatakan bahkan orang yang telah pulih harus terus mengikuti pedoman seputar jarak sosial, masker wajah, dan cuci tangan.

line
 
Analysis box by James Gallagher, health and science correspondent
 

Para ilmuwan masih bergulat dengan masalah pelik antara virus corona dan kekebalan.

Apakah setiap orang menjadi kebal? Bahkan orang dengan gejala yang sangat ringan? Berapa lama perlindungan bertahan?

Ini adalah pertanyaan penting untuk memahami bagaimana virus akan mempengaruhi kita dalam jangka panjang dan mungkin berimplikasi pada vaksin dan gagasan seperti kekebalan kawanan.

Sejauh ini, infeksi ulang tampaknya jarang terjadi - hanya ada beberapa contoh dari lebih dari 37 juta kasus yang dikonfirmasi.

Laporan di Hong Kong, Belgia dan Belanda mengatakan mereka tidak lebih serius dari yang pertama. Satu kasus di Ekuador mencerminkan kasus AS yang lebih parah, tetapi tidak memerlukan perawatan rumah sakit.

Namun, saat ini masih merupakan periode awal masa awal pandemi, dan menurut catatan kasus-kasus sebelumnya terkair virus corona menunjukkan bahwa perlindungan diperkirakan akan berkurang.

Saat negara-negara mengalami gelombang kedua virus, kita mungkin mulai mendapatkan jawaban yang lebih jelas. 

Sebelumnya ada asumsi bahwa gelombang kedua infeksi Covid-19 akan lebih ringan, karena tubuh telah belajar melawan virus untuk pertama kalinya.

Masih belum jelas mengapa pasien dari Nevada itu menjadi sakit parah untuk kedua kalinya. Satu gagasan adalah kemungkinan dia mulai mungkin telah terpapar pada dosisvirus yang lebih besar.

Masih menjadi suat kemungkinan kekebalan awal memperburuk infeksi kedua. Hal ini telah didokumentasikan dengan penyakit seperti demam berdarah, di mana antibodi yang dibuat sebagai respons terhadap satu jenis virus dengue menyebabkan masalah jika terinfeksi oleh jenis lain.

Paul Hunter, dari Universitas East Anglia, mengatakan penelitian itu "sangat memprihatinkan" karena celah waktu yang kecil antara kedua infeksi tersebut, serta tingkat keparahan infeksi kedua.

"Mengingat fakta bahwa hingga saat ini lebih dari 37 juta orang telah terinfeksi, kami berharap akan mendengar lebih banyak insiden jika infeksi ulang yang sangat dini dengan penyakit parah biasa terjadi.

"Masih terlalu dini untuk mengatakan dengan pasti apa implikasi dari temuan ini untuk program imunisasi apa pun. Tetapi temuan ini memperkuat poin bahwa kami masih belum cukup tahu tentang tanggapan kekebalan terhadap infeksi ini." (ny/Sumber: BBCIndonesia)