press enter to search

Selasa, 20/10/2020 07:29 WIB

IMF Revisi Proyeksi Ekonomi Indonesia Jadi Minus 1,5 Persen

Redaksi | Rabu, 14/10/2020 08:59 WIB
IMF Revisi Proyeksi Ekonomi Indonesia Jadi Minus 1,5 Persen Ilustrasi.

JAKARTA (Aksi.id) - Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi 1,5 persen pada 2020, dalam laporan World Economic Outlook (WEO) Oktober 2020.
Proyeksi itu direvisi turun dari ramalan IMF sebelumnya, yakni minus 0,3 persen dalam World Economic Outlook (WEO) Juni 2020.

IMF mengatakan prospek pertumbuhan ekonomi di negara berkembang, kecuali China, terus memburuk.

Kondisi ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, meliputi penyebaran pandemi covid-19 yang terus berlanjut, sektor kesehatan yang kewalahan menangani perkembangan kasus, serta sektor penting yang terdampak parah seperti pariwisata, termasuk ketergantungan lebih besar pada keuangan eksternal, termasuk remittance.

"Semua negara berkembang diprediksi mengalami kontraksi tahun ini, termasuk negara dengan ekonomi besar yang sedang berkembang di Asia, seperti India dan Indonesia, yang masih mencoba mengendalikan pandemi," tulis IMF dalam laporan tersebut dikutip Rabu (14/10).

Namun, IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berbalik arah menguat menjadi 6,1 persen di 2021. Selanjutnya, pertumbuhan ekonomi diperkirakan kembali ke level 5,1 persen pada 2025.

Dibandingkan dengan negara 5 besar di Asia Tenggara, proyeksi ekonomi Indonesia berada di level moderat. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Malaysia minus 6 persen pada 2020, kemudian membaik 7,8 persen di 2021. Lalu, Thailand minus 7,1 persen pada 2020, kemudian membaik 4 persen di 2021.

IMF memperkirakan ekonomi Filipina jatuh paling dalam, yakni minus 8,3 persen pada 2020. Kemudian, membaik 7,4 persen pada 2021. Namun, IMF memprediksi Vietnam mampu tumbuh positif tahun ini sebesar 1,6 persen dan tahun depan 6,7 persen.

"Proyeksi IMF konsisten dengan pemberian bertahap stimulus fiskal Indonesia di 2020, termasuk mengembalikan defisit fiskal ke bawah 3 persen dari PDB pada 2023," tulis IMF.

Secara global, IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi global mengalami kontraksi 4,4 persen pada 2020. Kontraksi itu lebih baik dibanding prediksi IMF sebelumnya, yaitu minus 4,9 persen dalam World Economic Outlook (WEO) Juni 2020.

IMF menuturkan revisi kontraksi pertumbuhan ekonomi global itu mencerminkan hasil PDB kuartal II 2020 lebih baik dari yang diantisipasi IMF, khususnya PDB sebagian besar negara maju.

"Aktivitas ekonomi mulai meningkat lebih cepat dari yang diharapkan setelah penguncian wilayah dilonggarkan pada Mei dan Juni, serta indikator yang lebih kuat pemulihan ekonomi di kuartal ketiga," tutur IMF.

Selanjutnya, pertumbuhan global diproyeksikan kembali positif sebesar 5,2 persen pada 2021, atau sedikit lebih rendah dari proyeksi pada Juni lalu. Turunnya proyeksi itu sejalan dengan kontraksi lebih moderat pada 2020. (ds/sumber CNNIndonesia.com)