press enter to search

Selasa, 20/10/2020 07:48 WIB

Namarin: Beri Kesempatan Sama Peserta Lelang Operator Pelabuhan Patimban!

Dahlia | Kamis, 15/10/2020 20:29 WIB
Namarin: Beri Kesempatan Sama Peserta Lelang Operator Pelabuhan Patimban! Foto:istimewa

JAKARTA (aksi.id) – National Maritime Institute (Namarin) minta pemerintah memberikan perlakuan dan kesempatan yang sama terhadap semua entitas bisnis yang berminat dan tertarik mengikuti proses lelang operator Pelabuhan Patimban.

“Dengan memberi kesempatan yang sama, Kementerian Perhubungan sebagai pemilik proyek bisa leluasa menentukan siapa yang paling kompeten untuk menjadi operator pelabuhan yang merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional tersebut,” ujar Direktur Namarin Siswanto Rusdi di Jakarta, Kamis (15/10/2020).

Kata dia, pelabuhan sebagai bagian dari mata rantai logistik memiliki peran sentral dalam perekonomian nasional.

Oleh karenanya, harus ada equal treatment, baik untuk kalangan swasta murni, perusahaan PMA maupun BUMN yang ingin menjadi operator Pelabuhan Patimban.

“Saat ini muncul kesan bahwa pemerintah menomorduakan BUMN, khususnya Pelindo sebagai operator pelabuhan dalam proses lelang
Pelabuhan Patimban. Padahal beberapa BUMN sejak awal sudah menyatakan minat dan ketertarikannnya untuk terlibat dalam operasional di Patimban,” bebernya.

Siswanto mengingatkan, pemerintah harus memiliki indikator yang terukur dalam menentukan siapa yang akan menjadi operator Pelabuhan Patimban.

Indikator-indikator itu harus bisa dipakai untuk mengukur kapabilitas, baik secara teknis dan operasional, maupun kemampuan keuangan perusahaannya.

“Nantinya, siapapun operator yang terpilih harus mampu membangun dan mengelola ekosistem logistik, sebagaimana yang sekarang terjadi di Pelabuhan Tanjung Priok. Operator Patimban harus siap memfasilitasi arus keluar masuk barang dari berbagai wilayah produktif terutama di utara Jawa Barat, seperti Subang, Indramayu, Cirebon, Brebes, dan sekitarnya,” ujarnya.

Paradigma dunia kepelabuhanan sudah berkembang pesat dalam dua dekade terakhir. Pelabuhan tak lagi semata-mata bekerja sebagai tuan tanah yang melayani sandar kapal dan bongkar-muat.

Industri kepelabuhanan dituturkan Siswanto,sudah bergerak jauh sebagai mata rantai logistik, yang berperan sebagai fasilitator perdagangan antarpulau, antarnegara bahkan antarbenua.

“Bahkan di banyak tempat, pelabuhan membangun jejaring khusus dengan pihak pelayaran (liner) dan industri,” ungkapnya.

Artinya, operator tak akan cukup kalau sekadar memiliki sumber daya manusia (SDM), alat, serta sistem kerja.

“Operator pelabuhan dituntut memiliki kapabilitas membangun industri kepelabuhanan yang efektif dan efisien, dan kuncinya ada pada jejaring dan pengalaman,” pungkas dia. (omy)