press enter to search

Kamis, 22/10/2020 16:12 WIB

Ajari Anak Menangkal Bahaya Sinar Biru dari Gadget

Dahlia | Sabtu, 17/10/2020 21:00 WIB
Ajari Anak Menangkal Bahaya Sinar Biru dari Gadget Foto: ilustrasi
Jakarta (aksi.id) - Selama pandemi COVID-19 beragam aktivitas kerja hingga sekolah dialihkan menjadi daring atau online lewat pembelajaran jarak jauh maupun Work From Home (WFH).
 
Tentu saja hal ini meningkatkan kuantitas penggunaan gawai di masyarakat. Bahkan seringkali masyarakat menjadi lupa waktu dan tidak menyadari akan bahaya atau dampak negatif penggunaan gawai bagi kesehatan mata dan kesehatan tubuh akibat paparan sinar biru (blue light).
 
Dalam rangka memperingati Hari Penglihatan Sedunia, dr. Sawitri Boengas, Sp.M. selaku Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (Ubaya) membagikan tips menjaga kesehatan mata orang dewasa maupun anak-anak dari paparan sinar biru pada gawai. 
 
dr. Sawitri mengatakan blue light merupakan sinar biru yang dipancarkan dari layar perangkat digital seperti smartphone, tablet, laptop, atau PC. Sinar biru pada perangkat gawai berfungsi untuk menerangi layar selama digunakan.
 
“Jika berkaitan dengan penglihatan, dalam kehidupan ini ada sinar ultraviolet (UV) dan panjang gelombang yang berbeda-beda. Panjang gelombang itu ada yang memiliki efek radiasi dan ada yang tidak. Setiap lapisan mata manusia sebenarnya sudah memiliki daya untuk menetralisir, namun tergantung dari panjang gelombang, jenis sinar, dan intensitas atau lamanya paparan sinar yang dapat berpengaruh pada kondisi mata,” kata dr. Sawitri, Rabu (14/10).
 
Dokter spesialis mata dari Rumah Sakit Katolik Vincentius A Paulo Surabaya ini menjelaskan jika dalam ilmu kesehatan mata, paparan sinar biru tergolong sebagai high-energy visible light (HEV light).
 
Umumnya paparan sinar biru dengan panjang gelombang antara 300 hingga 400 nm masih bisa menembus kornea serta diabsorpsi oleh iris dan pupil. "Namun, jika panjang gelombang antara 415 hingga 455 nm memiliki resiko lebih berbahaya dan bisa menyebabkan gangguan pada penglihatan," ucapnya.
 
Selain gawai, sumber alami terbesar dari jenis ini adalah matahari. Berbeda dengan paparan sinar dari gawai, sinar biru matahari dapat meningkatkan suasana hati atau perasaan bahagia seseorang.
 
Ia juga mengungkapkan, semua paparan sinar biru yang berlebihan memiliki dampak tidak baik bagi kesehatan mata. Seperti pada kornea yang dapat menyebabkan mata relatif kering, objek yang dilihat menjadi ganda (double), dan sukar melihat objek dari jarak dekat.
 
 
Ajari Anak Menangkal Bahaya Sinar Biru dari Gawai (1)
"Jika pada retina dapat menyebabkan kerusakan sel fotoreseptor, barrier pembuluh darah retina terganggu, dan adanya stress injury yaitu kerusakan oksidatif pada retina. Sedangkan pada lensa dapat menyebabkan katarak lebih cepat,” jelasnya.
 
Tak hanya itu, paparan sinar biru berlebih juga dapat menimbulkan resiko seseorang terkena degenerasi makula, glaukoma, dan penyakit retina degeneratif.
 
Bahkan pengguna gadget atau komputer dengan waktu yang lama juga bisa mengakibatkan terjadinya kelelahan mata atau disebut Computer Vision Syndrome (CVS). Paparan sinar biru yang berlebih di malam hari juga menyebabkan penurunan produksi hormon melatonin yang mengatur siklus tidur seseorang.
 
“Biasanya orang-orang sering menggunakan gawai di malam hari sampai lupa waktu, tanpa disadari paparan sinar biru itu menurunkan produksi hormon melatonin. Akhirnya mereka menjadi sulit untuk tidur. Sebaiknya kita tidak bermain gawai 2 jam sebelum tidur agar mata bisa beristirahat dan tidur menjadi berkualitas,” tambahnya.
 
Guna mencegah hal itu, beberapa cara dapat dilakukan untuk melindungi kesehatan mata dari paparan sinar biru berlebih pada gawai.
 
Pertama, pengguna bisa menerapkan metode 20-20-20 yaitu istirahatkan mata setelah 20 menit menggunakan gawai dengan mengarahkan pandangan mata untuk fokus pada objek yang jaraknya sekitar 20 kaki atau 6 meter selama 20 detik.
 
Kedua, menerapkan visual hygiene dengan mengatur posisi duduk atau jarak dengan gawa agar tidak terlalu dekat, atur tingkat kecerahan atau kontras gawai, atur penerangan cahaya di dalam ruangan agar tidak terlalu gelap atau terang, dan jangan lupa berkedip supaya mata tetap lembap.  
 
Ketiga, mengatur setelan gawai dengan memilih night mode agar tidak menyilaukan dan membuat mata lebih tenang ketika menggunakan gawai di malam hari. Selain itu, diusahakan tidak memegang gadget 2 jam sebelum tidur untuk menghindari insomnia atau gangguan tidur.
 
Keempat, mengonsumsi buah dan sayur yang mengandung vitamin A, nutrisi Zeazanthin dan Lutein. Seperti wortel, brokoli, bayam, tomat, alpukat, pisang, mangga, dan ubi jalar. 
 
Disamping itu, berdasarkan beberapa penelitian dr. Sawitri mengatakan jika penggunaan kacamata anti glare lebih efektif dan disarankan ketika beraktivitas terlalu lama di depan komputer atau gadget dibandingkan kacamata anti radiasi atau blue light.
 
Namun, tidak ada salahnya untuk menggunakan kacamata anti radiasi atau blue light khususnya bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan atau sering terpapar matahari.
 
“Karena mata adalah jendela dunia. Jagalah matamu agar tetap sehat dan dapat melihat keindahan dunia. Jangan menganggap sepele kesehatan mata, istirahat itu penting agar tidak menimbulkan gangguan kesehatan yang lain," pungkasnya. (lia/sumber:kumparan)
Keyword Anak Gadget