press enter to search

Sabtu, 05/12/2020 05:36 WIB

WHO Kritisi Percobaan Penelitian Virus Corona Kontroversial di Inggris

Redaksi | Rabu, 21/10/2020 14:37 WIB
WHO Kritisi Percobaan Penelitian Virus Corona Kontroversial di Inggris Juru bicara Badan Kesehatan Dunia (WHO), Margaret Harris

LONDON (Aksi.id) - Juru bicara Badan Kesehatan Dunia (WHO), Margaret Harris mengatakan, sukarelawan dalam penelitian terkait virus corona baru harus benar-benar memahami seluruh risiko yang muncul, seiring persiapan tim peneliti di Inggris untuk memulai percobaan kontroversial dengan menulari para sukarelawan yang sehat dengan virus itu.

Para peneliti ingin mempelajari penyakit itu dengan harapan bisa mempercepat pengembangan vaksin.

Pendekatan yang disebut sebagai “challenge study” atau “penelitian tantangan” itu memang berisiko, tetapi para pendukung penelitian itu mengatakan percobaan tersebut mungkin akan memberikan hasil yang lebih cepat dibanding penelitian standar yang harus menunggu untuk melihat apakah para sukarelawan yang diberi perawatan eksperimen itu akan jatuh sakit atau tidak.

Pemerintah Inggris sedang bersiap menanamkan investasi sebesar 33,6 juta poundsterling atau sekitar 43,4 juta dolar, dalam studi itu.

Imperial College London hari Selasa (20/10) mengatakan penelitian yang melibatkan sejumlah sukarelawan berusia 18-30 tahun yang berada dalam kondisi sehat itu akan dilakukan bersama Departemen Strategi Bisnis, Energi dan Industri, serta Royal Free London NHS Foundation Trust dan hVivo, suatu perusahaan yang telah berpengalaman melakukan penelitian semacam itu.

Dalam konferensi pers hari Selasa, Harris mengatakan mereka harus memastikan bahwa setiap orang yang terlibat “benar-benar memahami apa yang mereka pertaruhkan” dan mengetahui risiko penelitian ini.

Dalam tahap pertama kajian ini, tim peneliti akan menentukan tingkat paparan terkecil yang dibutuhkan untuk memicu penyakit ini. Mereka kemudian akan menggunakan model tantangan serupa untuk mengkaji seberapa jauh vaksin bekerja di dalam tubuh, tanggapan sistem kekebalan tubuh dan potensi perawatannya. (ds/sumber VOA Indonesia)