press enter to search

Sabtu, 05/12/2020 07:17 WIB

Tunangan Mendiang Jamal Khashoggi Gugat Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman Atas Tuduhan Pembunuhan

Redaksi | Rabu, 21/10/2020 14:49 WIB
Tunangan Mendiang Jamal Khashoggi Gugat Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman Atas Tuduhan Pembunuhan Hatice Cengiz, tunangan mendiang wartawan Jamal Khashoggi.


WASHINGTON (Aksi.id) - Tunangan mendiang jurnalis Jamal Khashoggi mengajukan gugatan terhadap putra mahkota Arab Saudi atas tuduhan memerintahkan pembunuhan. Hatice Cengiz dan kelompok hak asasi yang dibentuk Khashoggi menggugat Mohammed bin Salman dan lebih dari 20 orang lainnya. Mereka meminta kompensasi yang besarannya tidak disebutkan.

Khashoggi dibunuh oleh tim agen Saudi saat mendatangi Konsulat Kerajaan Arab Saudi di Istanbul, Turki, pada 2018.

Putra mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, membantah memerintahkan pembunuhan itu.

Khashoggi adalah seorang kritikus pemerintah Saudi terkemuka yang hidup dalam pengasingan di AS. Ia sering menulis untuk Washington Post.

Dalam gugatan perdata yang diajukan di Washington DC pada hari Selasa, warga negara Turki, Cengiz mengklaim telah terjadi kerugian secara fisik maupun finansial atas kematian Khashoggi.

Kelompok hak asasi manusia yang dibuat Khashoggi, Democracy for the Arab World Now (Dawn) mengatakan operasinya terhambat karena kematian itu.

Gugatan tersebut mengklaim bahwa Khashoggi dibunuh "berdasarkan arahan terdakwa Mohammed bin Salman".

"Tujuan dari pembunuhan itu jelas - untuk menghentikan advokasi Khashoggi di Amerika Serikat ... untuk reformasi demokrasi di dunia Arab," kata gugatan tersebut.

Dalam konferensi video pada hari Selasa, pengacara Cengiz dan Dawn mengatakan fokus dari gugatan tersebut adalah agar pengadilan AS membuat putra mahkota bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut dan untuk mendapatkan dokumen yang mengungkapkan kebenaran, demikian dilaporkan surat kabar Washington Post.

"Jamal yakin segala sesuatu mungkin terjadi di Amerika dan saya menaruh kepercayaan saya pada sistem peradilan sipil Amerika untuk mendapatkan ukuran keadilan dan akuntabilitas," kata Cengiz dalam sebuah pernyataan.

Siapakah Jamal Khashoggi?

Khasoggi adalah jurnalis Saudi terkemuka, yang meliput cerita-cerita besar, termasuk invasi Soviet ke Afghanistan dan kebangkitan pemimpin al-Qaeda Osama bin Laden, untuk berbagai media berita Saudi.

Selama beberapa dekade, pria berusia 59 tahun itu dekat dengan keluarga kerajaan Saudi dan juga menjabat sebagai penasihat pemerintah.

Tapi lama kelamaan dia tidak disukai dan dia mengasingkan diri di AS pada 2017.

Dari sana, dia menulis kolom bulanan di Washington Post yang mengkritik kebijakan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, putra Raja Salman dan penguasa de facto Arab Saudi.

Dalam kolom pertamanya untuk Post pada September 2017, Khashoggi mengatakan dia takut ditangkap dalam serangkaian tindakan keras terhadap orang-orang yang berbeda pendapat, operasi yang diawasi oleh pangeran.

Bagaimana Jamal Khashoggi meninggal?

Dia terakhir terlihat memasuki konsulat Saudi pada 2 Oktober 2018 untuk mendapatkan surat-surat yang dibutuhkannya untuk menikahi Cengiz.

Setelah mendengarkan rekaman audio percakapan di dalam konsulat yang dibuat oleh intelijen Turki, pelapor khusus PBB Agnes Callamard menyimpulkan bahwa Khashoggi "dibunuh secara brutal" hari itu.

Jaksa penuntun publik Saudi menyimpulkan bahwa pembunuhan itu tidak direncanakan sebelumnya.

Dikatakan pembunuhan itu diperintahkan oleh kepala sebuah "tim negosiasi" yang dikirim ke Istanbul untuk membawa Khashoggi kembali ke Saudi "dengan cara persuasi" atau, jika gagal, "dengan paksa".

Wartawan itu ditahan secara paksa setelah berupaya melepaskan diri dan disuntik dengan obat dalam dosis tinggi yang mengakibatkan overdosis dan menyebabkan kematiannya, menurut jaksa penutut Saudi.

Tubuhnya kemudian dipotong-potong dan diserahkan ke "kolaborator" lokal di luar konsulat. Sisa-sisa tubuhnya tidak pernah ditemukan.

Jaksa Turki menyimpulkan bahwa Khashoggi mati lemas segera setelah dia memasuki konsulat, dan tubuhnya dihancurkan.

Pada Desember 2019, Pengadilan Pidana Riyadh menjatuhkan hukuman mati kepada lima orang karena "melakukan dan berpartisipasi langsung dalam pembunuhan korban".

Sebanyak tiga orang lainnya dijatuhi hukuman penjara total 24 tahun karena "menutupi kejahatan ini dan melanggar hukum".

Tiga orang dinyatakan tidak bersalah, termasuk mantan wakil kepala intelijen Arab Saudi, Ahmad Asiri.

Saud al-Qahtani, mantan penasihat senior Putra Mahkota Mohammed bin Salman, diselidiki oleh penuntut umum Saudi tetapi tidak dituntut. Bulan lalu, media pemerintah melaporkan bahwa lima hukuman mati diubah menjadi hukuman penjara 20 tahun. (ds/sumber BBC Indonesia)