press enter to search

Sabtu, 28/11/2020 23:16 WIB

Penyuap Nurhadi Sembunyi Pakai Mobil Nopol Pejabat Kemenpan-RB

Redaksi | Jum'at, 30/10/2020 20:16 WIB
Penyuap Nurhadi Sembunyi Pakai Mobil Nopol Pejabat Kemenpan-RB Bekas Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi Abdurrachman.

JAKARTA (Aksi.id) - Penyuap eks Sekretaris Mahkamah Agung Nurhadi Abdurrachman, Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto diduga menggunakan mobil berpelat nomor polisi RFO selama masa pelarian diri dari kejaran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dua sumber menyatakan penyuap Nurhadi yang juga menjadi buronan itu menggunakan mobil milik salah seorang pejabat di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB).

"Ternyata mobil B XXXX RFO merupakan kendaraan dinas atas nama kendaraan Kemenpan-RB," ujar sumber tersebut, Jumat (30/10).

Mobil berpelat RFO tersebut kini telah diamankan tim penyidik KPK. Terpisah, saat dikonfirmasi mengenai mobil tersebut, Pelaksana Tugas Juru Bicara Penindakan KPK, Ali Fikri, hanya menjawab pihaknya tengah mendalami hal tersebut.

"Sumber uang dan fasilitas bagian yang akan didalami," kata Ali.

Juru bicara berlatar belakang jaksa ini menuturkan lembaganya juga sedang mengkaji pengenaan Pasal perbuatan merintangi penanganan perkara (obstruction of justice).

"KPK akan mendalami lebih lanjut terkait penerapan Pasal 21 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dalam perkara ini dengan akan memanggil dan memeriksa pihak-pihak lain," imbuhnya.

Sementara itu, Menpan-RB Tjahjo Kumolo mengaku belum mengetahui mengenai mobil yang digunakan tersebut. Ia pun berjanji akan mendalami temuan tersebut.

"Belum mendengar terkait nomor polisi mobil tersebut. Sudah saya teruskan ke Sesmenpan-RB untuk dicek," ucap Tjahjo  dalam keterangan tertulis.

Dikonfirmasi terpisah, Sekretaris Kemenpan-RB, Dwi Wahyu Atmaji, menegaskan mobil yang digunakan Hiendra tersebut bukan milik kementeriannya.

"Saya pastikan itu bukan mobil milik Kemenpan-RB. Pelat nomor yang dipakai sudah tidak berlaku/ bodong," kata Dwi.

KPK berhasil menangkap Hiendra setelah yang bersangkutan melarikan diri selama waktu 8 bulan. Ia disangka telah menyuap Nurhadi sebesar Rp45,7 miliar untuk pengaturan perkara di pengadilan.

Suap diberikan agar Nurhadi mengupayakan pengurusan perkara antara PT MIT melawan PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) terkait dengan gugatan perjanjian sewa-menyewa depo container milik PT KBN seluas 57.330 meter persegi dan 26.800 meter persegi.

Sedangkan perkara lainnya yang diatur oleh Nurhadi adalah gugatan perbuatan melawan hukum yang dilayangkan Azhar Umar terhadap Hiendra Soenjoto di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Saat ini Hiendra sedang menjalani isolasi selama 14 hari untuk kemudian menjalani masa tahanan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) KPK cabang Pomdam Jaya Guntur.(ds/sumber CNNIndonesia.com)

Artikel Terkait :

-