press enter to search

Selasa, 26/01/2021 22:18 WIB

Proyek MRT Fase II Dilema Wajib Kontraktor Jepang

Dahlia | Sabtu, 31/10/2020 17:35 WIB
Proyek MRT Fase II Dilema Wajib Kontraktor Jepang Foto:istimewa

JAKARTA (aksi.id) – Proyek MRT Jakarta fase II saat ini mengalami kendala. Sebab, paket segmen 2 (Harmoni-Kota) hingga kini belum juga mendapatkan kontraktor karena proses tendernya gagal.

Pemicunya adalah kontraktor dari Jepang belum berminat menggarap MRT Jakarta karena berisiko besar mengerjakan proyek saat pandemi COVID-19. Persoalan ini menjadi dilematis karena proyek tidak bisa dikerjakan kontraktor selain dari Jepang, sementara pihak MRT Jakarta ingin proyek segera jalan.

Kewajiban memakai kontraktor Jepang menjadi perjanjian dengan JICA (Japan International Cooperation Agency) selaku pembiaya proyek. Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim mengatakan untuk membuka pintu bagi kontraktor non Jepang bisa saja dilakukan, tapi menjadi opsi terakhir.

MRT Jakarta masih akan mencoba berdiskusi dengan JICA dan Pemerintah Jepang untuk mencari berbagai opsi. Selain itu, MRT Jakata masih berpegangan pada kontrak pinjaman yang sudah dilakukan dengan pihak JICA, namun tetap meminta ada solusi.

“Dalam loan agreement, main contractor-nya itu Jepang, dalam situasi begini kami mau menghormati. Kalau masih belum ada yang mau, kita meminta agar JICA dan Jepang kasih solusi mekanisme pengadaan lainnya yang bisa digunakan,” ungkap Silvia dalam webinar bersama wartawan, Jumat (30/10/2020).

Opsi yang masih dipertimbangkan bila proses tender gagal adalah dengan melakukan penunjukan langsung atau membuka kesempatan kepada kontraktor lokal.

“Bila semua opsi itu tidak bisa dijalankan bisa lah kita bicara jangan cuma kontraktor Jepang saja. Tapi itu last chance banget, we hope nggak kesitu,” kata Silvia.

Membuka pintu kontraktor selain Jepang akan membuat kesepakatan pinjaman untuk pembiayaan proyek ini bisa berubah, bahkan berkurang. Sejauh ini, JICA memberikan Rp 22,5 triliun kepada MRT Jakarta untuk membangun fase II dari Bundaran HI ke Kota.

“Kalau mekanisme loan segala macam itu kan negosasi. Bisa aja bentuk loannya berubah kalau non Japan contractor, bisa jadi berkurang,” kata Silvia.

Semenjak proyek MRT fase II bermasalah soal tender dan kontraktornya, banyak perusahaan di berbagai negara sudah menunjukan minat untuk masuk. Mulai dari Korea Selatan, China, hingga Prancis.

“Semenjak ada kesulitan di fase II, kita banyak mendapatkan request dan usulan dari kontaktor non Jepang yang siap. Dari luar negeri ya dari Korea Selatan, China, Prancis juga ada,” kata Silvia.

Sementara itu, untuk proyek pada fase berikutnya, Silvia mengatakan pihaknya akan membuka pintu untuk pihak lain masuk. Dia menegaskan untuk fase selanjutnya pihaknya tidak menggantungkan diri pada pihak Jepang saja. Apalagi kerja sama dengan Jepang saat ini menghadapi masalah.

“Kalau fase berikutnya fase III, IV, dan fase seterusnya, sebenarnya dari awal kita terbuka untuk melihat pendanaan dari source lain. Bukan cuma JICA dan Jepang, dan kenyataaanya kita alami hal begini (masalah tender), semakin menunjuan kita nggak bisa bergantung pada satu pihak,” ungkap Silvia.

Di sisi lain, pihaknya juga masih punya pekerjaan rumah sederet pengembangan rute MRT yang harus dibangun. “Fase berikutnya itu kita terbuka untuk melihat sumber lain, karena kita butuh gerak cepat menyelesaikan banyak lines,” ungkapnya.

Untuk fase III sendiri, yang rencananya menghubungkan daerah timur dan barat Jakarta, menurut Silvia sudah ada 3 negara yang menyatakan minat. Mulai dari China, Jerman, sampai Korea Selatan.

“Fase III Kalideres-Ujung Menteng kita sudah ada pembicaraan dengan AIIB, itu Chinese base. Salah satu potensi lainnya ada dari Jerman, lalu Korsel juga bilang berminat,” ungkap Silvia. (dan/Detikcom/Foto: Ist)