press enter to search

Minggu, 17/01/2021 23:37 WIB

Sopir Asal Banyurip Pekalongan ini Harus Bawa Bus Setia Negara Keliling Jakarta dan Bekasi untuk Dapat Penumpang

Dahlia | Selasa, 03/11/2020 21:14 WIB
Sopir Asal Banyurip Pekalongan ini Harus Bawa Bus Setia Negara Keliling Jakarta dan Bekasi untuk Dapat Penumpang Foto:aksi.id/BeritaTrans.com

BEKASI (aksi.id) – Adalah Suratman 35 Tahun, sopir bus ini harus menyambangi berulang kali setiap terminal di Jabodetabek untuk memenuhi jumlah penumpang yang akan diberangkatkan kembali ke Pekalongan.

Sopir bus antarkota antarprovinsi (AKAP) PO Setia Negara ini juga menceritakan sepinya penumpang di jalan bak kuburan dan penghasilannya juga menurun.

“Ini treknya ya mas, dari Jawa (Pekalongan) kita buang (mengantar) penumpang satu Jakarta. Mulai (terminal) Rambutan, Lebakbulus, Kalideres, Sampe ke Priok dan Pulo Gebang. Balik lagi ke Bekasi, ke Pulogebang, balik lagi ke Priok, baru pulang Pulogebang lagi baru ke Jawa,” cerita Suratman kepada BeritaTrans.com dan Aksi.id, Selasa (20/10/2020).

Warga Kelurahan Banyurip, Pekalongan, Jawa Tengah, ini bercerita awalnya saat berangkat dari Pekalongan hanya membawa 20 penumpang. Dan itu membuat uang setoran dan operasinal atau uang jalan kurang sehingga dia lama untuk perpal atau nunggu antrean untuk diberangkatkan kembali.“Saya dari kemarin tujuh hari di sini dari Pulogebang ke sini (Terminal Bekasi),” ujar Suratman ayah dua orang anak ini.

“Kalau dulu (sebelum pandemi) dari sana full dari sini full berangkat (dari terminal) masing-masing,”tambahnya.

Saat pandemi Covid-19 diakuinya, armadanya yang berada di terminal Bekasi hanya menampung penumpang dan diberangkatkan dengan armada Setia Negara yang lain,”Mobil cuma nampung penumpang yang berangkat (bus) yang lain,” ungkapnya.

“Makanya lama, saya musti nunggu penumpang cukup dulu. Kemarin startnya saya bawa 20, uang jalan kurang,” tambah ayah dua orang anak ini.

Begitupun saat berada di perjalanan, tidak ada penumpang yang seperti biasanya yang akan memberhentikan bus dari pinggir jalan.

“Di jalan enggak ada orang sama sekali, udah kayak kuburan aja,” sambungnya.

Dengan tarif Rp130 ribu penumpang dan hanya membutuhkan waktu delapan jam perjalanan dari Jakarta ke Terminal di Kajen, Pekalongan. Namun karena akibat pandemi tidak beraninya masyarakat bepergia,n dia harus lebih lama di jalan.

Saat berangkat dari awal Terminal di Kajen, Pekalongan, penumpang masih dirasakannya lebih lumayan dan dia bersama kru lainnya tidak akan sampai berhari-hari perpal atau ngetem.

“Sekarang 30 orang aja susah, paling sering 20 penumpang, ya mentoknya 25 lah,” celotehnya.

Penghasilan yang berkurang juga tetap disyukurinya walau tidak mendapatkan banyak. Dan bantuan pemerintah saat ini diakuinya masih diterima dan dia merasa terbantu, “Alhamdulillah masih dibantu sama pemerintah. Rp250 ribu dikasi sama sembako,” ungkapnya. (fahmi).

Keyword sopir bus