press enter to search

Minggu, 17/01/2021 22:47 WIB

Sopir Primajasa ini Mengeluh Paceklik Penumpang di Rute Bekasi-Garut

Dahlia | Jum'at, 06/11/2020 11:58 WIB
Sopir Primajasa ini Mengeluh Paceklik Penumpang di Rute Bekasi-Garut Foto:aksi.id/BeritaTrans.com

BEKASI (BeritaTrans.com) – Sopir bus  antarkota dalam provinsi (AKDP) ini keluhkan sepinya penumpang sehingga pendapatannya juga merosot selama pandemi Covid-19.

Adalah Anto 50 Tahun, pengemudi bus PO Primajasa, yang menceritakan pendapatn berkurang lantaran penumpang semakin sepi.

“Sekarang repot untuk sehari-hari,” ujar Anto, di Terminal Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (5/11/2020).

Dari ketersediaan bangku penumpang yang berjumlah 45 orang, Anto hanya boleh mengisinya sebanyak 22 orang saja, artinya hanya berkapasitas 50 persen. Hal itu guna mematuhi peraturan protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Pengakuan ayah tiga orang anak ini, dia tidak pernah mengangkut penumpang sebanyak 50 persen lantaran suasana masih pandemi Covid-19. Masyarakat masih enggan berpergian. Bahkan saat libur panjang cuti bersama dan maulid Nabi Muhammad kemarin dia juga tidak merasakan dampak libur yang biasanya akan ramai orang berpergian

“Ini baru ada 10 orang penumpang, biasanya kurang pun,…kemarin bawa 13 orang,” cerita warga kelurahan Dua Ratus, Margajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat itu.

Bahkan saat masa libur kemarin, Anto mengaku malah lebih lama di jalan lantaran macet yang diakibatkan oleh kendaraan pribadi.

“Kemarin yang biasanya normal 4,5 jam, kemarin itu bisa lima jam lebih,” ungkap Anto.

Untuk sistem upahnya sebagai sopir, Anto mengaku tidak ada sistem yang diubah dari sebelum pandemi maupun saat pandemi. Dia digaji dari bagi hasil, upahnya hanya sebanyak 15 persen dari pendapatan jumlah penumpang yang dia bawa dari Garut-Bekasi dan sebaliknya.

Dengan tarif per penumpang Rp85 ribu, dia juga kerap hanya membawa penumpang sebanyak 20 orang untuk satu kali rit atau pulang pergi.

“Misalnya dapat 20 itu PP (pulang pergi), 15 persenlah. Alhamdulillah, buat makan sih ada,” katanya.

Anto mengaku, dengan penghasilan seluruh penumpang tersebut juga harus tertutupi uang operasional terlebih dahulu, baik bahan bakar bus, biaya tol dan keperluan lainnya. Dia pun juga harus membagi dua dengan seorang kernet yang telah membantu dia selama perjalanan.

Bukan hanya Anto, sepinya penumpang juga dirasakan seluruh sopir PO yang ada di Terminal Bekasi. Bahkan ada sebagian mereka juga harus dirumahkan sementara atau juga ada yang berjalan secara bergantian karena adanya pengurangan jumlah armada. (fahmi).