press enter to search

Senin, 18/01/2021 17:48 WIB

AS Sewa Pesawat Sipil Mata-matai China di Laut China Selatan

Dahlia | Jum'at, 13/11/2020 12:35 WIB
AS Sewa Pesawat Sipil Mata-matai China di Laut China Selatan Foto: ilustrasi

Jakarta (aksi.id)  - Sebuah organisasi melaporkan pergerakan baru Amerika Serikat (AS) di Laut China Selatan. South China Sea Probing Initiative menuding Paman Sam telah menggunakan jet pribadi swasta untuk memantau aktivitas China di sejumlah perairan termasuk laut kaya minyak itu.

Dilansir dari South China Morning Post (SCMP), lembaga think tank yang berpusat di Beijing tersebut mengatakan, ada tiga pesawat pengintai sewaan yang telah dikirim ke Okinawa di Jepang dan Manila di Filipina sejak Maret. Pesawat-pesawat itu berjenis Tenax Aerospace CL-604 dan Bombardier CL-650.


Dalam laporan itu Pesawat Tenax Aerospace CL-604 dilaporkan mendarat di Pangkalan Udara Kadena di Okinawa pada 30 Maret dan berpatroli di sekitar Laut China Timur dan Laut Kuning pada 7 April. Pesawat itu dikirim dalam misi melintasi Laut Cina Selatan pada 16 Juli, dengan berhenti di Pangkalan Udara Clark di Filipina untuk pengisian bahan bakar.

"Dari Maret hingga 11 November, pesawat Tenax itu telah melakukan 139 penerbangan ke Laut Cina Timur, Laut Kuning dan Selat Taiwan, dan 17 penerbangan ke Laut Cina Selatan," kata lembaga itu dikutip SCMP Jumat (13/11/2020).


Selanjutnya Pesawat Bombardier CL-650 dikerahkan ke Laut China Timur pada 3 Agustus. Pesawat itu juga terbang di Laut China Selatan pada 20 Agustus.

Sementara itu, pesawat pengintai ketiga dari Meta Special Aerospace mendarat di Manila pada 14 Agustus dan juga melakukan misi di dekat wilayah negeri Duterte itu yang disengketakan dengan China. Menurut South China Sea Probing Initiative, langkah dini diambil sebagai semacam tes untuk melihat reaksi Beijing.

"Ada lebih banyak fleksibilitas dalam menggunakan jet dari perusahaan swasta dan dapat mengurangi ketegangan diplomatik dibandingkan dengan pesawat militer [bila melakukan kegiatan yang sama]," kata laporan itu.

Selain itu, langkah ini merupakan langkah serius Washington untuk masuk dalam konflik teritorial maritim dengan China.

"Ini juga menandakan bahwa AS akan meningkatkan kehadirannya di kawasan Indo-Pasifik melalui kolaborasi antara militer, penjaga pantai, dan sektor keamanan swasta."

Hubungan AS dan China masih sangat panas. Meski dalam perhitungan cepat petahana Presiden Donald Trump disebut kalah dari Joe Biden, pemimpin dari Partai Republik itu masih melancarkan sejumlah `serangan` ke China.

Kemarin, AS mengharamkan para investornya untuk berinvestasi di 31 perusahaan Negeri Panda yang dianggap berafiliasi untuk kepentingan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China. Mneteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyebut, urusan AS dengan China belum tamat. (lia/sumber:cnbcindonesia.com)