press enter to search

Kamis, 28/01/2021 03:00 WIB

Pengacara Anita Kolopaking Dongkol Duit Legal Fee dari Djoko Tjandra Tertahan di Andi Irfan

Redaksi | Rabu, 25/11/2020 15:44 WIB
Pengacara Anita Kolopaking Dongkol Duit Legal Fee dari Djoko Tjandra Tertahan di Andi Irfan Pengacara Anita Kolopaking dan Andi Irfan bersaksi di Sidang Penangki.

JAKARTA (Aksi.id) - Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan mantan pengacara Djoko Tjandra, Anita Dewi Kolopaking sebagai saksi dalam sidang lanjutan perkara atas terdakwa Pinangki Sirna Malasari, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Rabu (25/11).

Dalam persidangan Anita mengungkapkan jika uang legal fee keseluruhan yang dijanjikan Djoko Tjandra kepada dirinya akan dititipkan melalui Andi Irfan Jaya .

"Pada hari sebelum kami berangkat ke bandara (menuju Jakarta) kami makan pagi itu Pak Djoko ingetin saya lagi legal fee kamu saya titip Andi Irfan ya. Semua ya pak? Iya udah beres," kata Anita dalam persidangan.

Atas pernyataan Anita, jaksa pun kembali menanyakan terkait jumlah uang legal fee yang dimaksud Anita. "Legal fee yang saudara maksud sebanyak USD500.000 atau USD200.000?" tanya jaksa.

"Hak saya 200.000 (USD). Success fee 200.000 (USD) itu nanti kalau sudah selesai," jawab Anita.

Kemudian, jaksa menanyakan kepada Anita setelah sesampainya di Indonesia bagaimana proses dirinya meminta uang legal fee yang telah dititipkan kepada Andi Irfan.

"Karena saya merasa dekat dengan terdakwa (Pinangki) jadi saya tanyakan terus ke Pinangki, mba tolong dong sudah dititipkan ke Andi Irfan, kan kata bapak sudah dititipkan ke Andi Irfan. Jadi saya menanyakan terus ke beliau," kata Anita.

Setelahnya, Anita terus berkomunikasi dengan Pinangki menanyakan sampai sekitar pukul 19.00 Wib. Akan tetapi Pinangki menyampaikan jika uang yang dititipkan dari Andi Irfan belum diterimanya.

"Tapi kata beliau nanti saya tanya tapi sampai malam jam 7, enggak ada kabar lalu kemudian setelah menjelang malam saya terus komunikasi kan sama Mba Pinangki. Tolong dong, belum ada mbak. Saya sempat dongkol, padahal bapak bilang titip ke Andi Irfan jadi saya yakin enggak mungkin bapak bohong," katanya.

"Jadi saya enggak tagih sih cuma tolong bilang ke Andi Irfan. Terus saya karena butuh cashflow untuk operasional, saya agak desak beliau. Yaudah mbak bisa enggak mbak pinjamkan saya dulu nanti pas Andi Irfan kasih bisa potong. Lalu pas jam 9 (malam) Pinangki kasih tahu saya sudah Mbak Anita ke sini aja ambil," sambungnya.

Setelah disuruh Pinangki untuk ke rumahnya, Anita pun mengaku jika dirinya bersama suami langsung ke tempat Pinangki untuk mendapatkan uang pinjaman. Hal itu dilakukan, karena uang yang dititipkan pada Andi Irfan tak kunjung diserahkan.

"Jadi saya ke sana, kemudian Mba Pinangki bilang ambil saja lah ini (uang pinjaman), Andi irfan belum ngasih. Nah di situ saya menjadi dongkol karena itu hak saya, mengapa saya jadi minjam (ke Pinangki)," ungkapnya.

Usai mendatangai Pinangki, Anita mengakui hanya menerima uang sebanyak USD50.000 yang dipinjamkan dari Pinangki. Karena fee yang dijanjikan Djoko Tjandra melalui Andi Irfan belum diberikan.

"Saudara terima USD 50 dari Andi Irfan apa terdakwa (Pinangki)?" kembali jaksa memastikan.

"Dari terdakwa (Pinangki)," jawab Anita.

Isi Dakwaan

Sebelumnya, Pinangki didakwa menerima uang senilai USD500.000 dari Djoko Tjandra untuk mengurus fatwa di Mahkamah Agung (MA). Hal itu dilakukan agar Djoko Tjandra (yang saat itu masih buron) tidak dieksekusi dalam kasus hak tagih atau cassie Bank Bali.

"Terdakwa Pinangki Sirna Malasari telah menerima pemberian atau janji berupa uang USD500.000 dari sebesar USD1.000.000 yang dijanjikan Joko Soegiarto Tjandra sebagai pemberian fee yaitu supaya terdakwa mengurus fatwa Mahkamah Agung agar pidana penjara yang dijatuhkan kepada Joko Soegiarto Tjandra tidak bisa dieksekusi sehingga Joko Soegiarto Tjandra bisa kembali ke Indonesia tanpa harus menjalani pidana," kata Jaksa Penuntut Umum membacakan surat dakwaan.

Perkara ini dimulai saat Pinangki bertemu sosok Rahmat dan Anita Kolopaking pada September 2019. Saat itu, Pinangki meminta agar Rahmat dikenalkan kepada Djoko Tjandra.

Kemudian, Anita Kolopaking akan menanyakan ke temannya yang seorang hakim di MA mengenai kemungkinan terbitnya fatwa bagi Djoko Tjandra. Guna melancarkan aksi itu, Djoko Tjandra meminta Pinangkk untuk membuat action plan ke Kejaksaan Agung.

"Untuk melancarkan rencana tersebut, Djoko Tjandra meminta kepada terdakwa mempersiapkan dan membuat action plan terlebih dahulu dan membuat surat ke Kejaksaan Agung menanyakan status hukum Joko Soegiarto Tjandra, lalu terdakwa menyampaikan akan menindaklanjuti surat tersebut," lanjut jaksa.

Pada tanggal 12 November 2019, Pinangki bersama Rahmat menemui Djoko Tjandra di Kuala Lumpur, Malaysia. Kepada Djoko Tjandra, Pinangki memperkenalkan diri sebagai orang yang mampu mengurus upaya hukum.

Jaksa pun mendakwa Pinangki melanggar Pasal 5 ayat 2 juncto Pasal 5 ayat 1 huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (selanjutnya disebut UU Tipikor) subsider Pasal 11 UU Tipikor. Pinangki juga didakwa Pasal 3 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang pencucian uang serta didakwa terkait pemufakatan jahat pada Pasal 15 jo Pasal 5 ayat 1 huruf a UU Tipikor subsider Pasal 15 jo Pasal 13 UU Tipikor. (ds/sumber CNNIndonesia.com)