press enter to search

Selasa, 19/01/2021 02:52 WIB

China Pasang Ratusan Juta CCTV: Mungkinkah Warganya Bisa Menghindar dari Kamera Pengawas Itu?

Redaksi | Jum'at, 27/11/2020 10:02 WIB
China Pasang Ratusan Juta CCTV: Mungkinkah Warganya Bisa Menghindar dari Kamera Pengawas Itu? Seniman Deng dan relawan mencoba menghindari kamera-kamera CCTV yang tersebar di China.

BEIJING (Aksi.id) - Pada akhir Oktober lalu, barisan orang mengenakan rompi menyala berdiri di Happiness Avenue, di pusat kota Beijing, China.

Mereka bergerak perlahan dengan hati-hati di sepanjang trotoar. Beberapa orang berjongkok dan yang lainnya memiringkan kepala ke arah bawah, memancing rasa penasaran khalayak sekitar yang mengabadikan gerak-gerik mereka menggunakan kamera.

Adegan itu merupakan pertunjukan yang dipentaskan oleh seniman Deng Yufeng, yang mencoba menunjukkan betapa sulitnya menghindari kamera CCTV di ibu kota China.

Ketika pemerintah dan perusahaan di seluruh dunia meningkatkan investasi mereka pada jaringan keamanan, ratusan juta lebih kamera pengawas ditargetkan terpasang pada 2021 - dan kebanyakan dari kamera CCTV itu akan berada di China, menurut analis industri IHS Markit.

Hingga 2018, sudah ada sekitar 200 juta kamera pengawas di China. Dan pada 2021, menurut Wall Street Journal, jumlah ini diperkirakan mencapai 560 juta unit, atau bila dirata-rata sekitar satu kamera untuk setiap 2,4 warga.

China mengatakan pemasangan kamera CCTV ini untuk mencegah tindak kriminal.

Pada 2018, jumlah korban pembunuhan berencana per tiap penduduk dalam populasi di China 10 kali lebih rendah daripada di AS, menurut kantor PBB urusan Narkoba dan Kejahatan.

Tetapi semakin banyak warga China yang justru mempertanyakan imbas kamera itu terhadap privasi mereka.

Mereka juga bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika data pribadi mereka dibobol.

`Relawan yang direkrut`
Warga China jarang menyampaikan protes terkait upaya pengawasan pemerintah.

Sebab menggelar aksi protes bukannya tanpa risiko.

Tapi orang kreatif seperti Deng menggunakan cara inovatif untuk mengungkap masalah ini ke publik.

Sebelum tampil, ia mengukur panjang dan lebar Happiness Avenue.

Deng kemudian mencatat merek 89 kamera CCTV di sekitar jalan itu lalu memetakan sebaran dan jangkauannya.

Dan akhirnya, ia merekrut relawan secara online.

Mereka membutuhkan lebih dari dua jam untuk berjalan sejauh 1,1 km di sepanjang Happiness Avenue.

Mereka berhasil menghindari wajah mereka dari tangkapan kamera, tetapi Deng mengatakan "hampir tidak mungkin" untuk menghindari pengambilan gambar sepenuhnya.

"Saya pikir hanya ada beberapa kamera dan saya bisa dengan mudah menunduk dan melindungi diri dari kamera, tapi ternyata tidak demikian. Kamera-kamera itu benar-benar ada di mana-mana dan mustahil untuk menghindarinya."

Pasar gelap

Ini bukan pertama kalinya Deng mencoba meningkatkan kesadaran publik tentang privasi dan keamanan digital.

Dua tahun lalu, mantan pematung itu membeli data pribadi lebih dari 300.000 penduduk di seluruh negeri dari pasar gelap online dan memajangnya di sebuah museum di Wuhan untuk umum.

Polisi menutup pameran itu, dua hari setelah dibuka.

Setelah pindah ke Beijing awal tahun ini, Deng melihat semakin banyak kamera di depan gedung apartemennya dan di seluruh kota.

"[Kamera-kamera ini mewakili] kekuasaan pemerintah - dan `gangguan` mereka ke dalam kehidupan warga negara," katanya.

"Kebanyakan orang mungkin terbiasa dengan kamera di jalan.

"Tapi saya tetap memperhatikan secara tidak sadar.

"Ketika banyak kamera menghadap saya, saya selalu berusaha menghindarinya.

"Ini adalah reaksi bawah sadar - seperti perasaan konflik dalam diri saya, bahkan jika saya tidak melakukan sesuatu yang buruk."

Deng membagi jalan menjadi lima tingkat:

Tingkat satu yang tidak dipasangi kamera
Tingkat tiga, dengan kamera-kamera di depan dan belakang
Tingkat lima, dengan kamera di semua sisi

"Salah satu area tersulit adalah pintu masuk tempat parkir mobil, yang terletak di sebelah perusahaan besar, sehingga ada lima kamera yang mengarah ke satu tempat pada waktu yang sama," kata Deng.

"Juga sangat sulit berhadapan dengan kamera yang berputar.

"Jadi saya terkadang harus diam di satu tempat selama dua atau tiga jam untuk merekam seberapa sering kamera diputar."

Mobil polisi

Deng membuat serangkaian "langkah taktis" sebagai bagian dari instruksi untuk relawan.

Saat ada kamera di satu sisi, para relawan diminta berjalan ke samping, seperti kepiting.

Sedangkan untuk menghindari kamera dipasang di tempat yang tinggi, mereka harus berpegangan pada dinding dan melewati tepi bawahnya.

Di area dengan banyaknya kamera, diperlukan alat-alat tambahan sebagai pembantu, seperti dedaunan, papan reklame, dan bahkan mobil polisi yang diparkir sementara.

Namun, terlepas dari perencanaannya yang matang, ada kejutan ketika Deng dan relawannya akhirnya berdiri di Happiness Avenue untuk eksperimen tersebut.

"Di tengah jalan, kami melihat bahwa beberapa kamera telah ditambahkan," kata Deng.

"Saya bingung karena saya baru mengunjungi jalan ini kurang dari dua minggu lalu.

"Tapi kami berhasil berimprovisasi.

"Dan kami menyesuaikan rute kami sedikit."

Media China mengatakan sebagian besar kamera CCTV adalah bagian dari proyek Sky Net pemerintah.

Tahun lalu, New York Times melaporkan data pengenalan wajah yang memungkinkan polisi China mencocokkan wajah di kamera dengan sejumlah profil, termasuk:

Kritikus mengatakan pihak berwenang memanfaatkan sepenuhnya jaringan pengawasan untuk memantau para pembangkang dan menghentikan aksi protes.

Pada 2018, polisi China menggunakan sistem pengenalan wajah untuk menangkap lebih dari 60 tersangka di konser penyanyi pop Hong Kong, Jacky Cheung, di China daratan.

Tapi tidak semua warga China kritis terhadap pengawasan pemerintah.

Joyce Ge mengatakan beberapa teman sekelasnya tidak terkesan dengan keterlibatan dirinya dalam percobaan bersama Deng tersebut.

"Mereka mengatakan wajar bagi publik untuk menyerahkan sebagian kebebasan dan hak mereka kepada pemerintah karena mereka [pemerintah] pada akhirnya bertanggung jawab atas keselamatan publik," katanya.

Peserta lain dalam proyek Deng, Kaka - bukan nama sebenarnya - khawatir tentang keamanan data.

Kaka, 32, yang bekerja di industri periklanan, mengatakan ia yakin informasi terkait identitasnya telah disusupi, yang menyebabkan peristiwa pemerasan terhadapnya.

Kaka membawa serta putrinya, yang berusia lima setengah tahun, peserta termuda dalam proyek tersebut.

Ia berkata, "Ketika kami selesai, putri saya berkata kepada saya dengan rasa kemenangan, `Bu, kita akhirnya mengalahkan kamera-kamera itu`." (ds/sumber BBC News Indonesia)

Artikel Terkait :

-