press enter to search

Senin, 18/01/2021 17:53 WIB

Perempuan Indonesia Korban KDRT di Australia yang Jumlahnya Meningkat di Masa Pandemi

Redaksi | Rabu, 02/12/2020 06:02 WIB
Perempuan Indonesia Korban KDRT di Australia yang Jumlahnya Meningkat di Masa Pandemi Nora yang berasal dari Indonesia mengalami tindak kekerasan dalam pernikahannya.. (ABC News: Herlyn Kaur)

Aksi.id - Ditendang, dipukul, bahkan ditusuk dengan pisau merupakan sebagian dari tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialami sejumlah perempuan di Australia, yang dilakukan suami mereka.

Sebagian yang mengalami hal ini adalah perempuan migran yang jauh dari negara asal mereka, dan kadang kesulitan untuk membicarakan apa yang mereka alami karena berbagai kendala.

Meski halangan itu masih ada sekarang semakin banyak perempuan dari berbagai latar belakang budaya di Australia mau mengungkapkan apa yang mereka alami di depan publik dan meminta pertolongan.

Salah satunya adalah Nora. Perempuan asal Indonesia ini bertemu mantan pasangannya ketika dia berlibur ke ibukota Australia Barat Perth.

Dia hamil dengan anak pertama mereka tidak lama setelah itu, sebelum kemudian kembali ke Indonesia untuk menikah.

Mereka memutuskan untuk tinggal di Perth.

"Ketika saya tiba di sini saya merasa ada sesuatu yang tidak beres," kata Nora.

Hidup sendirian terpisah dari keluarganya di Indonesia, Nora hanya bisa merasakan kesedihan dan tindak kekerasan yang dialaminya sendirian.

"Saya kira faktor rasa malu adalah yang paling utama. Saya tidak mau ayah saya, atau keluarga saya mengatakan "ya kan sudah dibilangi" makanya saya merahasiakan apa yang terjadi," ujarnya.

"Saya sudah tahu bagaimana sikap keluarga saya sehingga saya tidak memberitahu mereka."

Nora mengatakan keluarganya di Indonesia pasti akan menyalahkan dirinya karena meninggalkan pasangannya itu.

Menurut Nora, keluarganya menyampaikan bahwa Nora seharusnya melakukan hal lain dulu karena meninggalkan suami dianggap bukanlah tindakan sebagai seorang perempuan Muslim.

Keluarga Nora, katanya, juga menyarankan sebagai istri harus mengikuti apa yang diperintahkan suami.

"Itulah mengapa saya tidak mau memberitahu keluarga," kata Nora.

Nora mengaku pernah melihat tindak KDRT ketika masih kecil. Ia mengatakan apa yang dialaminya tidak berbeda dengan apa yang pernah dilihatnya itu.

"Saya pernah melihat tante saya dipukuli oleh paman saya. Tidak seorang pun yang mengatakan apa-apa," katanya.

"Dia menikahi untuk memanfaatkan saya"

Apa yang dialami Nora itu bukanlah hal yang aneh terjadi di Australia.

Setelah meninggalkan negerinya Ghana di Afrika, Gabrielle juga pindah ke Perth untuk menikah dengan pria yang sekarang sudah jadi mantan. Mereka bertemu saat pria tersebut liburan di Afrika.

Dia mengatakan tindak kekerasan yang dialaminya terjadi secara bertahap dan dimulai ketika dia sedang hamil.

"Dia menikahi saya untuk memanfaatkan saya secara seksual untuk kepentingan dirinya. Ketika saya tidak mau meladeninya, tindak kekerasan akan meningkat," kata Gabrielle.

Gabrielle juga merasa bahwa dia tidak pernah merasa diterima oleh keluarga suaminya dan mendapat perlakuan buruk karena latar belakang etnisnya.

"Mereka memperlakukan saya seperti barang hanya karena saya berkulit hitam," katanya.

"Ini tidak kelihatan. Mereka orang yang sangat rasis."

Karena tinggal begitu jauh dari keluarga asalnya, Gabrielle mengatakan keterpencilannya membuat keadaan lebih buruk.

"Setelah tiga tahun baru saya memberitahu keluarga karena saya tidak mau bapak saya mengatakan, `kan sudah saya peringati sebelumnya," katanya.

Walau Gabrielle masih mengkhawatirkan keselamatan diri dan anaknya, penyesalan lain yang masih ada adalah dia seharusnya sudah meninggalkan suaminya lebih cepat.

"Selamat" karena pindah ke Australia

Mina yang lahir di Afghanistan pindah dari Iran ke Perth tujuh tahun lalu.

Setahun lalu dia memutuskan meninggalkan suaminya setelah mengalami KDRT secara fisik, emosional dan juga keuangan dari suaminya, yang juga selingkuh dengan perempuan lain.

Dia menceritakan apa yang dialaminya kepada ABC dengan bantuan penerjemah.

"Kekerasan itu terjadi selama bertahun-tahun dan ketika sudah di Perth juga. Saya tidak punya siapa pun yang bisa menolong. Saya harus merasakan semua tindak kekerasan."

"Dia menusuk saya dua kali di paha dan punggung. Bekas lukanya masih ada."

"Saya hamil tujuh bulan ketika dia menendang perut saya. Saya hamil lagi ketika dia mendorong jatuh dari sepeda motor."

Mina mengatakan kepindahan ke Australia sebenarnya menyelamatkan jiwanya.

"Berulang kali saya memikirkan untuk melapor ke polisi, namun jelas sekali di Iran tidak ada bantuan yang bisa diharapkan dari pihak berwenang dan polisi untuk perempuan."

"Bila kita ke polisi,biasanya kebanyakan pria dan agar mereka mau membantu, kita harus menyuap mereka, atau mengetahui orang penting di atas agar laporan kita didengar."

"Bila saya memberitahu staf rumah sakit bahwa saya dipukuli dan ada keterlibatan polisi, dan suami saya tahu saya yang mengadu, dia bisa membunuh saya."

Pengetahuan terbatas mengenai hak dan hukum

Dalam pembicaraan ABC dengan para perempuan ini adalah bahwa latar belakang budaya, masa kecil dan budaya di negeri asal mempengaruhi cara mereka menghadapi kekerasan yang dialami.

Kadang menceritakan peristiwa yang dialami kepada orang lain, apalagi dengan pihak berwenang sesuatu yang tidak pernah dibayangkan akan dilakukan.

Namun sekarang dengan berjalannya waktu semakin banyak perempuan dari kalangan migran yang berani melapor mengenai tindak KDRT yang mereka alami.

Di Pusat Kesehatan Multibudaya Ishar di Perth, petugas di sana lebih banyak mengkonsentrasikan diri untuk membantu mnereka yang mengalami masalah dari berbagai latar belakang budaya.

Sekarang ini di sana mereka sudah membantu sekitar 300 perempuan berkenaan dengan masalah kekerasan dalam rumah tangga dibandingkan 89 perempuan yang meminta bantuan serupa di tahun 2018.

Rata-rata pusat layanan itu membantu 12 perempuan setiap bulan yang merupakan klien baru.

Direktur eksekutif Ishar Andrea Creado mnengatakan data polisi dan juga data umum belum bisa menggambarkan berapa banyak perempuan yang mengalami KDRT karena banyak yang masih enggan melapor karena berbagai alasan.

"Banyak perempuan yang terlibat adalah mereka yang baru-baru ini tiba di Australia.

"Mereka memiliki kemampuan bahasa Inggris terbatas, tidak memiliki pengetahuan mengenai hak sebagai perempuan di Australia dan masih memerlukan bantuan penerjemah.

"Pasangan yang melakukan KDRT sengaja membatasi para perempuan ini belajar bahasa Inggris sebagai bentuk untuk mengontrol mereka."

Untuk melindungi mereka nama-nama korban KDRT ini diganti dengan nama lain.  (ny/Sumber: abc.net.au)