press enter to search

Senin, 25/01/2021 08:05 WIB

Warga Uighur di Turki Gelar Protes di Depan Konsulat China

Redaksi | Jum'at, 08/01/2021 09:06 WIB
Warga Uighur di Turki Gelar Protes di Depan Konsulat China Uighur Turki yang tinggal di Istanbul berkumpul memprotes China atas perlakuan pada anggota keluarga mereka yang telah ditahan secara paksa di kamp-kamp Tiongkok.



ISTANBUL (Aksi.id) - Warga Uighur Turki yang tinggal di Istanbul masih terus menggelar protes di depan konsulat China menuntut informasi terkait kondisi keluarga mereka yang ditahan di kamp konsentrasi dan kerja paksa di China.

Menandai hari protes ke-13, para pengunjuk rasa terdiri dari akademisi, pengusaha dan pegawai negeri mengatakan mereka tidak mendengar kabar dari anggota keluarga mereka di China selama bertahun-tahun.

Para pengunjuk rasa membawa spanduk dalam empat bahasa berbeda untuk menarik perhatian terhadap penderitaan anggota keluarga mereka.

Sejauh ini, tidak ada staf konsulat China yang berbicara dengan mereka, kata seorang pengunjuk rasa.

Omer Faruk Yazici, seorang politisi dari Partai Saadet Turki, yang menghadiri protes tersebut mengatakan, "Hari ini bukan hanya sejarah individu yang dicuri dan dihapus, tetapi juga seluruh bangsa.”

Dia mengutuk kebijakan tidak manusiawi dari pemerintah China.

"Yang lebih mengecewakan adalah seluruh dunia tetap diam menghadapi kekejaman ini," tambah Yazici.

China banyak dikritik karena memasukkan warga Uighur ke kamp-kamp, dan ada laporan tentang tindakan sterilisasi paksa terhadap wanita Uighur.

Kebijakan Beijing di Xinjiang telah menuai kecaman luas dari kelompok-kelompok hak asasi termasuk Amnesty International dan Human Rights Watch, yang menuduhnya mengucilkan 12 juta orang Uighur di China, yang sebagian besar adalah Muslim.

Wilayah itu adalah rumah bagi 10 juta warga Uighur. Kelompok Muslim Turki, yang membentuk sekitar 45 persen dari populasi Xinjiang, telah lama menuduh otoritas China melakukan diskriminasi budaya, agama dan ekonomi.

Lebih dari satu juta orang, atau sekitar 7 persen dari populasi Muslim di Xinjiang, ditahan dalam kamp "pendidikan ulang politik", menurut pejabat AS dan pakar PBB.

Kamp-kamp tersebut telah dikaitkan dengan kerja paksa dan pemandulan paksa. (ds/sumber HAS)

Artikel Terkait :

-