press enter to search

Rabu, 20/01/2021 16:14 WIB

Seorang Pengedara Ojol di Bangli Diciduk Polisi, Diduga Cetak dan Edarkan Uang Palsu

Redaksi | Rabu, 13/01/2021 14:29 WIB
Seorang Pengedara Ojol di Bangli Diciduk Polisi, Diduga Cetak dan Edarkan Uang Palsu Uang palsu.


BALI (Aksi.id) - Seorang pria bernama Abdul Gafur (32) diciduk anggota Polres Bangli, Bali, karena diduga mencetak dan mengedarkan uang palsu secara online.

"Uang yang diedarkan sekitar Rp14 juta, dari bulan November 2020," kata Kasat Reskrim Polres Bangli AKP Androyuan Elim, Rabu (13/1).

Pelaku memproduksi uang palsu di tempat indekosnya, Jalan Tirta Gangga, Lingkungan Subak Aya, Kabupaten Bangli, Bali.

Pelaku bekerja sebagai ojek online, karena terhimpit ekonomi maka melakukan tindak kejahatan tersebut.

Terungkapnya aksi pelaku berawal pada Kamis (7/1) lalu sekitar pukul 19.30 WITA. Pihak kepolisian mendapatkan informasi bahwa ada seseorang yang mencetak uang palsu.

Kemudian polisi melakukan penyelidikan dan menemukan pelaku. Saat diinterogasi, pelaku mengakui sejak bulan Nopember 2020 sudah mengedarkan serta mencetak uang palsu berbagai pecahan.

"Selanjutnya pelaku beserta barang bukti dibawa ke Polsek Bangli untuk proses lebih lanjut," imbuhnya.

Pelaku membuat uang palsu menggunakan kertas HVS dengan pecahan mulai dari Rp 20 ribu, Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu.

Selain itu, terduga pelaku juga sempat mencoba mengedarkan uang palsu itu dengan membeli rokok ke pedagang kaki lima. Namun diketahui dan akhirnya pelaku berpura-pura dan meminta maaf dan menggantinya dengan uang asli.

Kemudian pelaku mencari pembeli lewat grup uang palsu di Facebook. Setelah ada yang berminat dikirim lewat jasa pengiriman barang. Uang palsu senilai Rp 1 juta pelaku jual seharga Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu.

"Jadi yang beli-beli macam-macam ada yang dari Jogja, Jakarta, Jawa Timur. Rata-rata penjualannya dia itu Rp 1 juta uang palsu dijual dengan harga sampai Rp 200 hingga 300 ribu," jelasnya.

Polisi mengamankan barang bukti gambar uang pecahan Rp 100 ribu sebanyak 29 lembar, gambar uang pecahan Rp 50 ribu sebanyak 200 lembar, 1 lembar kertas yang berisikan 3 gambar pecahan Rp 50 ribu, 48 lembar kertas yang berisikan masing-masing berisikan 1 gambar pecahan Rp 20 ribu, 37 lembar kertas berisi gambar pecahan Rp 10 ribu, 1 lembar kertas berisi 1 gambar pecahan Rp 100 ribu, 1 printer warna hitam, 1 printer warna hitam putih, 1 penggaris besi, dan sejumlah bukti lainnya.

"Dia jual secara online, jadi diumumkan dan dia masuk ke grup uang palsu. Di sana dia transaksi melalui online dan dia kirim menggunakan JNT ke tempat orang yang beli itu secara online. Pemesannya banyak sekitar itulah (puluhan)," ujar Elim. (ds/sumber Merdeka.com)