press enter to search

Senin, 08/03/2021 06:55 WIB

Lukisan Tertua Babi Rusa Sedang Berkelahi Ditemukan Peneliti Australia di Leang Tedonge, Sulawesi Selatan

Redaksi | Sabtu, 16/01/2021 09:11 WIB
Lukisan Tertua Babi Rusa Sedang Berkelahi Ditemukan Peneliti Australia di Leang Tedonge, Sulawesi Selatan Lukisan pada dinding gua Leang Tedongnge di kawasan pegunungan karst di Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan, menggambarkan adegan babi rusa yang sedang beradu. Usia lukisan diperkirakan 45.500 tahun, menjadikannya sebagai lukisan tertua yang pernah ditemukan.

MAROS (Aksi.id) - Lebih dari 45.500 tahun silam, atau sekitar 435 abad sebelum Masehi, para seniman sibuk melukis pada dinding gua Leang Tedongnge yang terletak di kawasan pegunungan karst di Maros, Sulawesi Selatan.

Lukisan di dinding gua Leang Tedongnge ditemukan pada tahun 2017 oleh tim peneliti Australia dan Indonesia
Pengukuran uranium menyimpulkan usia lukisan lebih dari 45.500 tahun

Peneliti menduga seni lukis ini merupakan penanda adanya kebudayaan manusia modern di Pulau Sulawesi sejak 435 abad sebelum Masehi

Di bawah temaram cahaya api unggun, mereka dengan hati-hati melukis tiga ekor babi rusa, hewan khas Sulawesi, pada dinding gua dengan menggunakan pigmen merah tua.

Lukisannya sangat terperinci, lengkap dengan wajah hewan yang khas dan jambul rambut yang kaku.

Pekan ini, lukisan ini dan lukisan lainnya yang terdapat di gua-gua di kawasan itu, dipublikasikan dalam jurnal Science Advances.

Tim peneliti yang dipimpin oleh arkeolog dari Griffith University Australia dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Indonesia, memperkirakan para pelukis tersebut merupakan manusia modern atau Homo Sapiens.

Lukisan yang berusia puluhan ribu tahun ini, merupakan contoh ilustrasi tertua di dunia yang menggambarkan objek secara nyata dan bisa dikenali.

Menurut Profesor Adam Brumm dari Griffith University, selain "menakjubkan", contoh seni cadas semacam itu juga membantu melukiskan gambaran tempat tinggal dan pergerakan manusia dari Asia ke Australia.

"Kita tahu manusia modern, spesies kita ini, pasti telah melintasi bagian dunia ini untuk mencapai Australia setidaknya 65.000 tahun silam," kata Prof Adam.

Meski teknik penanggalan yang digunakan memberi batasan usia minimal pada lukisan 45.500 tahun, bisa jadi lukisan ini jauh lebih tua usianya.

Belum diketahui apakah para seniman pelukis babi rusa adalah nenek moyang dari kelompok yang berhasil sampai ke benua Australia.

Namun Profesor Adam mengatakan, penelitian mereka tentang seni cadas di permukiman manusia di wilayah Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya diharapkan bisa mengungkap lukisan yang jauh lebih tua.

Wilayah selatan Pulau Sulawesi dikenal sebagai surga seni cadas. Temuan lukisan pada dinding gua sudah ditemukan di wilayah ini pada tahun 1950-an.

Namun saat itu para arkeolog itu berasumsi lukisan-lukisan itu paling tua berusia 10.000 tahun.

Mereka menduga lingkungan tropis yang lembab telah menggerus dinding-dinding batu kapur di area tersebut dan menghancurkan semua seni cadas yang ada di dalamnya.

Namun dugaan mereka keliru.

Setelah ribuan tahun sejumlah lukisan telah ditutupi lapisan kalsit yang tipis, keras, dan tembus cahaya, diendapkan saat air yang kaya mineral menetes ke dinding batu. Campuran lainnya yaitu adanya unsur uranium.

Pada tahun 2014, Profesor Adam ikut dalam tim peneliti yang menggunakan teknik yang disebut seri uranium untuk menghitung usia lapisan kalsit ini di atas stensil tangan.

Mereka menemukan lukisan di bawahnya setidaknya berusia 39.900 tahun.

"Penemuan [tahun 2014] menarik karena pada saat itu, tradisi seni gua dianggap paling awal ditemukan di Eropa pada periode waktu yang sama, 40.000 tahun yang lalu," katanya.

"Penemuan lukisan-lukisan ini di belahan lain dunia menantang pendapat soal asal mula tradisi seni gua yang canggih," ujar Profesor Adam.

Bertahun-tahun kemudian Profesor Adam dan peneliti lainnya telah menemukan dan mengetahui usia seni cadas yang lebih kompleks di Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya, termasuk lukisan berburu paling awal dalam seni prasejarah.

Dengan usia minimal 43.900 tahun, lukisan itu merupakan seni cadas hewan tertua yang diketahui hingga sekarang.

Kini, lukisan babi tiga ekor babi rusa, dua ekor di antaranya tampak sedang beradu, ditemukan oleh tim pada tahun 2017 di sebuah gua bernama Leang Tedongnge, tak begitu jauh dari Kota Makassar.

Ketika Profesor Max Aubert dari Griffith University mengumpulkan sampel kalsit dari gua Leang Tedongnge, dia menjadi orang Barat pertama yang menginjakkan kaki di sana.

"Sangat menakjubkan datang ke sana," kata Profesor Max. "Sekitar satu jam berjalan kaki, jadi kita mendaki gunung, lalu menuruni sisi lain, dan jalan setapak semakin sempit."

"Lalu kita akan melewati lorong gua dan berakhir di lembah yang masih asli," jelasnya kepada ABC.

Dari sampel ini dan kunjungan berikutnya, Profesor Max dan rekannya menghitung usia lukisan babi rusa itu setidaknya 45.500 tahun.

Mereka juga menganalisis satu set lukisan hewan dan stensil tangan di gua terdekat bernama Leang Balangajia, yang ditemukan pada 2018, dan menghitung lukisan-lukisan itu berusia setidaknya 32.000 tahun.

Dr Damien Finch dari University of Melbourne yang merupakan pakar teknik penanggalan seni cadas Australia, mengatakan meskipun laporan tentang lukisan Leang Tedongnge hanya menggunakan satu teknik penanggalan, namun hasilnya konsisten dengan analisis lain dari lokasi sekitarnya.

"Kita mencari tren atau bukti, dan itulah yang penting dan yang telah mereka capai dalam penelitian ini," kata Finch, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

"Mereka memiliki sejumlah tanggal. Jadi ini bukan yang pertama, yang cenderung membuat semuanya lebih kredibel," jelasnya.

Tim peneliti tampaknya akan semakin memastikan usia lukisan ini dengan bantuan Dr Renaud Joannes-Boyau, ahli geokronologi di Southern Cross University Australia.

Penanggalan seri uranium saat ini memberikan usia untuk bagian termuda dari lapisan kalsit, lapisan paling atas, tetapi lapisan di bawahnya bisa jadi jauh lebih tua.

Dr Renaud yang tidak terlibat dengan penemuan awal, telah memasang instrumen yang menggunakan laser untuk melepaskan sejumlah kecil kalsit dari lapisan tertua langsung di atas lukisan itu.

Jika terbukti efektif, teknik tersebut dapat menentukan usia minimum seni cadas yang lebih tepat.

Profesor Adam Brumm berspekulasi bahwa hal itu menggambarkan terjadinya interaksi sosial.

Babi rusa yang khas Sulawesi (Sus celebensis) adalah hewan endemik di pulau ini dan hidup berkelompok yang terdiri dari empat hingga sembilan ekor.

"Dalam lukisan ini babi rusa di sebelah kanan tampaknya terlibat dalam perkelahian. Ada gerakan dinamis di mana seekor babi rusa seperti melompat ke udara," jelasnya.

"Sedangkan seekor babi rusa lainnya di sebelah kiri sepertinya duduk agak miring dan hati-hati, yang menurut saya, sedang mengamati apa yang terjadi," ujar Prof Adam.

Lukisan ini, katanya, menjadi bukti bahwa manusia modern awal telah mengamati dan memahami perilaku hewan di sekitarnya.

Menurut Dr Renaud, manusia modern awal mungkin mulai mengembangkan seni mereka pada pohon, namun kita tidak dapat menemukan sisa-sisanya.

Situasi pandemi COVID-19 telah menghentikan kerja lapangan tim peneliti pada tahun 2020. Namun Prof Adam bertekad untuk kembali setelah situasi aman.

"Kami belum beruntung menemukannya lukisan lebih tuas dari 45.000 tahun. Tapi kami yakin ada di sana. Kami akan mencarinya," ujarnya. (ds/sumber ABC News Indonesia)