press enter to search

Jum'at, 05/03/2021 04:03 WIB

Berkat Tol Laut, Harga Kebutuhan Masyarakat di Indonesia Timur Turun hingga 30%

Dahlia | Rabu, 17/02/2021 15:36 WIB
Berkat Tol Laut, Harga Kebutuhan Masyarakat di Indonesia Timur Turun hingga 30% Program tol laut

JAKARTA (aksi.id) - Berkat keberadaan program tol laut, harga kebutuhan masyarakat di Indonesia timur turun.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, daerah yang dilewati tol laut saat ini masyarakatnya sudah menikmati penurunan harga barang antara 20 – 30 persen.

Ya, Kementerian Perhubungan cq. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut pun terus melakukan optimalisasi dan akselerasi program tol laut dengan cara menambah trayek baru. 

Hal ini dilakukan dalam rangka menunjang pendistribusian barang dan pengembangan ekonomi di daerah terpencil dan daerah belum berkembang serta dalam upaya menurunkan hingga pangkas disparitas harga antara wilayah Indonesia Bagian Barat dengan Indonesia Bagian Timur.

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut, Capt. Antoni Arif Priyadi mengungkapkan, selama ini wilayah Indonesia Timur terkenal dengan disparitas harga yang cukup tinggi. 

"Hal itu disebabkan oleh tingginya biaya distribusi logistik dari daerah produsen ke daerah tersebut," ujarnya di Jakarta, Rabu (17/2/2021).

Inilah yang mendasari lahirnya program Tol Laut dengan tujuan memangkas biaya logistik sehingga harga yang diterima oleh masyarakat sebagai pengguna akhir menjadi tidak terlalu mahal dan konektivitas antardaerah.

Dia mengatakan, rute tol laut awalnya hanya memiliki 2 trayek di tahun 2015. Seiring berjalannya waktu, trayek tersebut terus bertambah karena manfaatnya yang sudah dirasakan masyarakat secara nyata.

Di tahun 2016 mengalami peningkatan enam trayek, berlanjut pada tahun 2017, ada 13 trayek baru Tol Laut. Kemudian di 2018 bertambah lagi 18 trayek. Di 2019 bertambah 20 trayek dan di 2020 bertambah 26 trayek. Penambahan jumlah trayek tersebut selalu diiringi dengan penambahan jumlah Pelabuhan dan kapal.

“Untuk tahun 2021 ini, Ditjen Hubla menambah empat trayek baru sehingga keseluruhan menjadi 30 trayek. Melibatkan 106 pelabuhan, yang terdiri atas sembilan pelabuhan pangkal, dan 97 pelabuhan singgah,” kata dia.

Dari data tersebut, menunjukkan bahwa program Tol Laut selama ini telah berhasil mengurangi disparitas harga yang selama ini menjerat masyarakat terutama di wilayah Indonesia Timur serta daerah Tertinggal, Terpencil, Terluar dan Perbatasan (3TP).

Dia melanjutkan, untuk membantu Indonesia Bagian Timur terbebas dari disparitas harga, maka diperlukan pelayaran yang berkesinambungan, tetap dan teratur melalui penyelenggaraan angkutan barang di laut ke seluruh wilayah Indonesia. 

"Hal ini terjawab dengan dilakukannya penambahan rute baru Tol Laut dengan kode T-19 di Papua yang dilayani oleh penugasan kapal milik PT Pelni yaitu Kapal Logistik Nusantara 2," tutur Capt. Antoni.
 
Adapun yang melatarbelakangi penetapan rute tersebut berdasarkan Inpres No. 9 Tahun 2020 tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua Dan Papua Barat.

Dia juga berharap kehadiran trayek baru ini dapat menjadi sarana untuk memasarkan produksi lokal berupa hasil pertanian atau perkebunan serta hasil perikanan untuk diangkut melalui kapal ini ke tujuan pasar yang lebih menguntungkan.

Dia menambahkan, dengan adanya rute tol laut tersebut, membuka pelabuhan-pelabuhan baru, diantaranya Pelabuhan Kokas di Kabupaten Fak fak, Pelabuhan Korido di Kabupaten Supriori dan Pelabuhan Depapre di Kabupaten Jayapura dalam rangka Ships Promote the Trade.

“Dengan adanya rute tol laut di wilayah Papua tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan layanan pelabuhan sehingga dapat memperlancar arus barang, menurunkan biaya logistik dan meningkatkan pemerataan di daerah 3TP,” pungkas Capt. Antoni. (omy)