press enter to search

Minggu, 11/04/2021 12:11 WIB

Kopi Asal Indonesia Disukai di Australia, Tapi Volume Ekspornya Masih Rendah

Redaksi | Kamis, 04/03/2021 06:23 WIB
Kopi Asal Indonesia Disukai di Australia, Tapi Volume Ekspornya Masih Rendah Keluarga petani kopi di wilayah utara New South Wales, Willem, Rebecca, John, dan June Zentveld.(ABC Landline: Halina Baczkowski)

Aksi.id - Warga Australia dikenal terobsesi dengan kopi, namun tidak sampai satu persen biji kopinya diproduksi dari tanaman kopi yang dibudidayakan di Australia.

Australia masih menggantungkan impor kopinya dari sejumlah negara, seperti Brasil.

Kopi impor dari Indonesia cukup digemari di Australia, meski jika dibandingkan dengan Brasil, volume dan nilai ekspor kopi Indonesia ke Australia lebih rendah.

"Kopi asal Indonesia disukai konsumen di sini karena umumnya jenis Arabica dengan cita-rasa yang lebih kaya," ujar Ayu Siti Maryam dari Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) di Sydney.

Namun menurut Ayu, kopi impor asal Indonesia tidak tepat bila dibandingkan dengan kopi asal Brasil yang umumnya berupa jenis Robusta yang cita-rasanya lebih pahit.

"Tidak comparable karena yang satunya Arabica dan yang lainnya Robusta," ujar Ayu kepada wartawan ABC Indonesia Farid M. Ibrahim, Senin kemarin (01/03).

AYU-SITI-MARYAM-768x822-1-280x300.jpeg
Kepala ITPC Sydney Ayu Siti Maryam (Supplied)

Data yang disampaikan ITPC Sydney menunjukkan nilai ekspor biji kopi Indonesia ke Australia mencapai US$10,7 juta atau sekitar Rp152 miliar pada tahun 2019.

Nilai ekspor ini sebenarnya mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2017 yang nilainya mencapai US$22 juta lebih.

"Penurunan terjadi karena adanya bencana Gunung Sinabung yang meletus di tahun 2018, sehingga supply mengalami penurunan," jelas Ayu.

Dia mengatakan daerah utama pengekspor kopi ke Australia yaitu Gayo di Aceh, Jawa Barat dan daerah lainnya di Sumatera.

Menurut data Biro Pusat Statistik RI, Indonesia tercatat sebagai negara eksportir kopi terbesar ke-7 di dunia dengan pangsa ekspor sebesar 4,05 persen pada 2019.

Brasil menempati urutan pertama dengan penguasaan pasar 14,02 persen, disusul Jerman 8,7 persen, Vietnam 7,8 persen, Swiss 7,3 persen, Kolumbia 7,1 persen, dan Italia 4,8 persen.

Secara nasional, daerah pengekspor kopi terbesar adalah Banten 32,08 persen, disusul Lampung 22,9 persen, Sumatera Utara 22 persen, Jawa Timur 13,01 persen, dan Aceh 7,1 persen.

Jawa Barat berada di urutan ke-8 dengan tujuan ekspor antara lain ke Australia.

Di Australia sendiri, meski bukan penghasil kopi, namun pasar kopi tergolong sangat besar dengan pendapatan sebesar US$1,4 miliar pada tahun 2017 atau sekitar Rp20 triliun.

Tingkat konsumsi kopi di Australia mencapai 1,8 juta karung kopi berukuran 60 kilogram.

Jika dirata-ratakan perkapita, setiap warga Australia menghabiskan kopi hampir 2 kilogram di tahun 2019, kebanyakan berupa kopi giling dan hanya sekitar 0,5 kg kopi instan.

Kopi produksi Australia masih mahal

Saat ini, sejumlah petani di Australia mulai membudidayakan tanaman kopi di sejumlah area perkebunan di kawasan yang iklimnya mendukung, misalnya di daerah Newrybar di utara negara bagian New South Wales serta Far North di Queensland.

Kopi Australia memiliki cita-rasa seperti kacang tanah dengan tingkat keasaman dan kafein yang lebih rendah.

Candy MacLaughlin
Petani kopi di wilayah Far North Queensland Candy MacLaughlin. (ABC Landline: Halina Baczkowski)

Harga kopi produksi Australia saat ini masih lebih mahal dibandingkan dengan kopi impor, yang biaya produksinya diperkirakan jauh lebih murah.

"Kami masuk ke pasar kopi dengan kesadaran bahwa kami akan bersaing dengan produk yang lebih murah," ujar Rebecca Zentveld, yang menanam kopi di Newrybar di utara New South Wales.

Ia mengatakan untuk bisa bersaing, maka petani kopi Australia haruslah berinovasi dalam mekanisasi panen dan pengolahan.

Rebecca dan suaminya John mengembangkan usaha kopi ke model "crop to cup" atau dari hasil panen ke cangkir kopi, setelah mengalami penjualan biji kopi saja tidaklah menguntungkan.

Petani kopi lainnya, seperti keluarga MacLaughlin di Far North Queensland juga semakin kreatif dengan produk mereka.

Keluarga ini melakukan eksperimen dengan kopi fermentasi dan berkarbonasi, serta menggunakan limbah kopi untuk membuat berbagai produk untuk lulur tubuh.

"Industri anggur selalu mengembangkan cita-rasa, sehingga saya berharap industri kopi bisa mengikuti hal seperti itu," kata Candy MacLaughlin.

Budaya minum kopi bermula di kalangan orang Italia di Melbourne

A man in a blue collared shirt stands at a counter with several cups of ground coffee.
Simon Brooks, yang berprofesi sebagai coffe taster, menyebut biji kopi produksi Australia sulit ditemukan di pasaran. (ABC Landline: Halina Baczkowski)

Budaya minum kopi di Australia, menurut Simon Brooks, pencicip kopi profesional yang dikenal dalam industri ini sebagai Q-grader, bermula dari kebiasaan orang Italia yang tinggal di Melbourne.

"Kita (orang Australia) merupakan salah satu peminum kopi paling terdidik di dunia," ujarnya.

"Semuanya dimulai di Melbourne di kalangan orang Italia dan terus berkembang dari sana," jelas Simon.

"Saat pertama kali masuk di industri ini pada tahun 2001, gelombang kedua dalam budaya minum kopi baru saja berlangsung dan di situlah mulai berkembang specialty coffee (bukan kopi instan)," katanya.

Simon menjelaskan, perkebunan kopi di Australia hanya mampu menghasilkan sekitar 400 ton biji kopi, sedangkan volume impor mencapai 80.000 ton.

Karena itu, kata Simon, kopi produksi Australia sangat sulit ditemukan di pasaran.

Namun sejumlah petani mengatakan para penikmat kopi masih mengabaikan pemasok lokal.

Menurut Candy MacLaughlin, keberadaan perkebunan kopi di Australia mungkin belum banyak diketahui.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengenal kopi produksi Australia adalah mengenalkannya ke perusahaan penggilingan kopi.

"Tujuan akhirnya adalah membuat konsumen mencari kopi produksi Australia sendiri," ujarnya.