press enter to search

Sabtu, 10/04/2021 19:20 WIB

Menilik Museum Islam Pertama di Australia, Ada Batik Parang dan Pelaut Makassar

Redaksi | Kamis, 04/03/2021 13:24 WIB
Menilik Museum Islam Pertama di Australia, Ada Batik Parang dan Pelaut Makassar Ilustrasi.

MELBOURNE (Aksi.id) - Islamic Museum of Australia atau IMA merupakan destinasi wisata halal yang wajib dikunjungi saat bertandang ke Australia. Selain karena bangunannya yang kaya akan arsitektur Islam, berdirinya museum ini juga menjadi bukti bahwa seni dan budaya Islam begitu berarti bagi Negeri Kanguru tersebut.

Museum yang terletak di 15 A Anderson Road, Thornbury, Negara Bagian Victoria ini dibangun untuk memberikan edukasi kepada Muslim di Melbourne, Australia, tentang kontribusi Islam bagi masyarakat di sana. Islamic Museum Australia mengumpulkan sejarah dan budaya Islam yang bertumbuh dan mempengaruhi pertumbuhan masyarakat Australia sejak ratusan tahun lalu.

Kumparan berkesempatan mengikuti tur virtual ke Islamic Museum Australia yang disiarkan langsung oleh Kedutaan Australia Jakarta pada Rabu (3/3). Dibangun tahun 2010, ini merupakan museum Islam pertama di Negeri Kanguru.

Museum ini memperlihatkan sejarah dan peninggalan artistik dari kontribusi Muslim di Australia. Beberapa karya seni yang dipamerkan terdiri dari kaligrafi, lukisan, keramik, tekstil dan seni Islam.

``Museum ini memberikan kesempatan kepada masyarakat di Australia untuk melihat dan mempelajari tentang keharmonisan komunitas di Australia. Juga memfasilitasi pengetahuan tentang nilai dan kontribusi Muslim bagi masyarakat Australia melalui beragam jenis konten dan kegiatan interaktif,`` kata Emma Bourke, juru bicara Kedutaan Australia Jakarta dalam tur, Rabu (3/3).

Dirancang oleh Desypher, sebuah perusahaan arsitektur berbasis di Melbourne, museum ini memiliki gaya arsitektur yang unik. Education Director Islamic Museum Australia, Sherene Hassan, mengatakan bahwa salah satu yang mendorong didirikannya museum ini adalah untuk memberikan gambaran utuh tentang Islam kepada masyarakat.

Museum Islam pertama di Australia itu benar-benar mengenalkan Islam seutuhnya bagi penduduk Australia. Saat masuk ke museum, pada bagian pertama adalah pengenalan tentang Islam, mulai dari sejarah Islam hingga pengertian dan rukun Islam, serta beberapa petikan ayat dalam Al-Quran.

IMA juga merekam sejarah panjang keterlibatan Muslim di Indonesia, dengan kemunculan Islam di Australia sekitar tahun 1700-an silam. Juddan Aburman, pengelola Islamic Museum Australia, yang juga warga negara Indonesia menjelaskan bahwa Islam pertama kali diperkenalkan di Australia oleh para pelaut dari Makassar yang melakukan perdagangan di Pantai Utara Australia.

Juddan mengatakan para pelaut asal Makassar tersebut pertama kali melakukan perjalanan ke Pantai Utara Australia dan memperkenalkan agama Islam ke orang Aborigin pada abad ke-17. Dari jalinan kerja sama perdagangan itulah masyarakat Makassar mulai memperkenalkan Islam kepada penduduk Aborigin di Arnhem Land.

Sejarah Islam di Australia itu digambarkan dalam sebuah karya seni berupa patung perahu kayu yang digunakan para pelaut asal Makassar. Bukan hanya perahu pelaut asal Makassar, museum ini juga menyuguhkan beberapa potret masjid megah di Indonesia, salah satunya Masjid Batu Baraguang di Kamang Hilia, Sumatera Barat.

Foto masjid tersebut menampilkan gambaran suasana masjid di Indonesia ketika waktu petang menjelang salat maghrib. Foto itu memperlihatkan banyak anak-anak Tanah Datar yang bermain sepak bola di depan bangunan masjid yang di kelilingi oleh pohon kelapa dan pegunungan.

Yang tak kalah menarik dari karya yang ditampilkan di dalam museum ini adalah kain batik bermotif parang yang dipajang di salah satu sudut area museum. Juddan mengatakan, batik parang tersebut merupakan hadiah dari Indonesia yang diberikan kepada Pemerintah Australia saat museum ini pertama kali dibuka pada 2014 silam.

Batik Parang sering kali diartikan sebagai keris atau pedang oleh orang-orang di luar Jawa, namun orang Jawa menyebut motif ini sebagai lidah api. Motif ini dinilai sebagai simbol dari pertarungan di dalam diri melawan dosa dengan mengendalikan nafsu dan keinginan mereka, sehingga kebijaksanaan dan karakter yang mulia menang. Hal ini dinilai sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Tak jauh dari patung perahu kayu itu, terpampang sebuah gambar bangunan masjid yang sangat megah. Masjid tersebut adalah tempat ibadah Muslim pertama di Australia yang dibangun oleh kaum penunggang unta dari Australia pada 1861. Ia adalah Masjid Marree yang berada di Australia Selatan. (ds/sumber Kumparan.com)