press enter to search

Sabtu, 15/05/2021 05:59 WIB

Melihat Partai Ummat: Sejumlah Tokoh PAN dan Alumni 212 Memperkuat, Partai Mana Berpotensi akan Tergerus?

Redaksi | Minggu, 02/05/2021 01:01 WIB
Melihat Partai Ummat: Sejumlah Tokoh PAN dan Alumni 212 Memperkuat, Partai Mana Berpotensi akan Tergerus? Amien Rais saat mendeklarasikan Partai Ummat

KUNINGAN (Aksi.id) - Partai Ummat gagasan Amien Rais telah dideklarasikan secara nasional, Kamis (29/4/2021). Acara deklarasi Partai Ummat ditayangkan di YouTube Amien Rais Official.

Sebelum lebih jauh memberikan penilaian terhadap partai besutan mantan Ketua Umum Muhammadiyah dan Ketua Umum PAN ini, mari kita pahami dulu fakta berikut.

Menantu Amien Rais, Ridho Rahmadi menjadi sorotan publik setelah dirinya ditunjuk menjadi Ketua Umum Partai Ummat.

Partai Ummat diketahui merupakan partai besutan Amien Rais yang dideklarasikan secara daring via YouTube Amien Rais Official, Kamis 29 April 2021.

Sebetulnya, nama Ridho Rahmadi tidak pernah muncul saat nama Partai Ummat mencuat.

Penunjukkan Ridho Rahmadi menjadi Ketua Umum Partai Ummat muncul pada detik-detik terakhir.

“Setelah saya ditunjuk sebagai Ketua Umum Partai Ummat, jujur saja secara batin, jasmani, rohani saya kaget,” kata Ridho lalu tertawa dalam wawancara eksklusif dengan Tribun Jogja, Jumat (30/4/2021).

Ridho memang bukan politisi.

Latar belakangnya adalah seorang akademisi di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Selama ini, suami dari Tasniem Rais, putri Amien Rais itu mendalami ilmu Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dan teknologi informasi.

Studinya pun tidak main-main.  Ia mendapatkan gelar Sarjana Komputer (SKom) di UII.

Seiringan berjalannya waktu, Ridho pun melanjutkan kuliah di Johannes Kepler University di Austria.

Saat menjalani program master, pria berusia 36 tahun itu mengikuti double degree di Republik Ceko, tepatnya Czech Technical University yang terletak di Praha.

Pada 2013, beberapa tahun setelah program masternya selesai, Ridho seperti tancap gas meraih gelar doktor.

Dia kemudian kuliah doktoral di Radboud University di Nijmegen, Belanda selama kurang lebih 4,5 tahun dan melakukan riset-riset, sehingga lulus pada tahun 2019.P

"Pas partai ini dibicarakan, saya itu tim Information Technology (IT). Jadi, saya bangun platform IT, kantornya ya di Pandeansari ini,” jelasnya.

Latar blakangnya sebagai peneliti di Pusat Studi Sains Data UII itu juga membawanya menjadi pencipta platform chat dengan server pribadi.

Dia juga yang menciptakan aplikasi survei agar data yang dihimpun saat survei tidak terbatas hanya di DKI Jakarta saja. 

“Mendekati deklarasi kepengurusan, saya itu malah tidak ada proyeksi, keluarga juga tidak ada, jadi murni di belakang layar. Namun, saat saya ikut diskusi dewan pendiri, Ustad Sambo justru memberikan alasan mengapa saya cocok jadi Ketum,” kata Ridho.

Sehingga, penunjukkan Ridho sebagai Ketua Umum Partai Ummat justru datang dari Ansufri Idrus Sambo atau yang akrab disapa Ustaz Sambo. Diiamerupakan Sekretaris Dewan Majelis Syuro, Partai Ummat.

“Iya, alasan-alasan itu malah bukan dari Bapak,” katanya.

Ridho pun berpikir cepat.

Ia harus menimbang-nimbang mau atau tidak didapuk menjadi Ketua Umum Partai Ummat dalam waktu sepersekian menit.

Saya jadi berpikir cepat. Akhirnya, saya kembalikan ke niat saya. Saya merasa ini totalitas dan perjuangan di jalan Allah juga. Saya ingin bersama dengan Bapak. Bismillah, saya yakin jadi Ketum,” kata Ridho.

Proses pun berlanjut.

Semenjak terpilih menjadi Ketua Umum Partai Ummat, Ridho yang semula berkutat dengan teknologi, mau tidak mau kembali beradaptasi.

Dia harus membiasakan diri dengan sistem kerja partai yang serba cepat.

Bahkan, saat ini, dalam satu waktu, Ridho memikirkan tentang pembentukan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) hingga ke akarnya.

Dia juga yang memikirkan tentang badan hukum dari partai itu agar bisa ikut kontestasi demokrasi di 2024 nanti.

Sejumlah Tokoh PAN Migrasi

Sejumlah tokoh dari Partai Amanat Nasional (PAN) kini menjadi pengurus Partai Ummat ini.

Dua di antara tokoh tersebut yakni Sugeng dan Buhari Kahar Muzakkar.

Tokoh dari Jawa Timur, Sugeng mendapat posisi Wakil Ketua Umum II DPP Partai Ummat.

Selama ini, Sugeng dikenal sebagai orang dekat Amien Rais.

Dia merupakan mantan petinggi PAN di Jawa Timur.

Posisi terakhir yang ia emban sebelum akhirnya keluar dari PAN adalah Ketua Majelis Pertimbangan Partai PAN Jawa Timur.

Setelah memutuskan keluar dari PAN, Sugeng juga termasuk tokoh yang turut menyiapkan Partai Ummat di Jawa Timur.

Dia menjadi Ketua Tim Persiapan Pendirian Partai Ummat Jatim.

Sugeng keliling ke berbagai daerah di Jatim untuk melakukan konsolidasi.

 Saat ini, Sugeng mendapatkan tugas untuk terus membesarkan Partai.

 Dia memegang beberapa daerah, termasuk untuk wilayah Jawa.

Awalnya, Sugeng mengaku bukan tujuannya untuk menjadi pengurus apalagi hingga tingkat pusat.

Namun, lantaran kepercayaan yang diberikan akhirnya membuat dia menerima untuk masuk di jajaran DPP.

"Kami terus konsolidasi, ini deklarasi setelah itu ngurus ke Kementerian."

"Kita tinggal nyusun administrasinya. Mungkin saya keliling untuk membantu teman-teman di bawah di provinsi lain untuk penyiapan administrasi," ujarnya, dikutip dari Surya.co.id, Kamis (29/4/2021).

Mantan Sekretaris DPW PAN Sulawesi Selatan, Buhari Kahar Muzakkar, kini menjadi lokomotif Partai Ummat Sulawesi Selatan.

Buhari Kahar Muzakkar ditunjuk menempati posisi Majelis Pertimbangan Wilayah Partai Umat Sulsel.

Ketua Umum Kerukunan Keluarga Luwu Raya itu mengaku bergabung dengan Partai Ummat atas ajakan langsung dari Amien Rais.

Bahkan, Buhari mengaku sempat ditawari menjabat Ketua wilayah Partai Ummat Sulawesi Selatan.

Namun, Buhari justru memilih menjabat Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah.

"Terus terang saja dari awal saya yang diinginkan Pak Amien Rais jadi ketua wilayah di Sulsel, tapi saya bilang saya tidak usah," ujarnya, dikutip dari TribunTimur, Kamis (29/4/2021).

Ia juga belum bisa memastikan apakah akan ikut bertarung kembali dalam pemilihan legislatif 2024 mendatang.

"Saya sebenarnya sudah ingin pasif dari politik, tapi begitu partai ummat ini dibentuk, saya dihubungi dari orang pak Amien. Bisa saja saya tidak caleg, bisa saja ya," jelasnya.

 Dikutip dari Tribunnews.com, Sabtu (1/5/2021), Fauzi Kadir yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua PAN Riau, kini mengikuti jejak Amien Rais berpindah untuk membesarkan Partai Ummat.

Wakil Ketua DPW PAN, Riau Zulfi Mursal mengakui banyak pengurus PAN yang berhijrah ke Partai Ummat.

Mereka di antaranya yakni Fauzi Kadir.

 Tak hanya itu, tokoh penting di Riau juga turut ikut bergabung pada Partai Ummat, yakni Taufan Andoso Yakin.

Perpindahan ini juga turut diikuti oleh sebagian kader-kader PAN wilayah Riau.

Dikutip dari TribunJogja.com, Sabtu (1/5/2021), Ketua DPW Partai Ummat Daerah Istimewa Yogyakarta, Nazarudin, telah membentuk kepengurusan Partai Ummat baik di tingkat kabupaten-kota, hingga kecamatan.

Alumni 212

Tak hanya didukung sejumlah kader dan tokoh PAN, Partai Ummat juga mendapat dukungan dari sejumlah alumni 212. Setidaknya seperti dikemukakan Ketua Tim Persiapan Pendirian Partai Ummat (TP3U) Kabupaten Karawang, Yayan Mulyana. 

Saat dihubungi Tribun Jabar melalui gawai, Sabtu (1/5/2021), dia mengemukakan sejumlah alumni 212 juga memberikan dukungan kepada Partai Ummat.

Jangan lupa, ada KH Ansufri Idrus Sambo menjabat sekretaris majelis syura Partai Ummat. Dia merupakan mantan Ketua Garda 212. 

Partai Ummat dinilai membidik suara pemilih masyarakat yang pernah ikut serta dalam Aksi 212 alias Alumni 212 .

"Itu yang sedang disasar oleh Partai Ummat, potensi suara pemilih dari alumni-alumni gerakan 212," ujar Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin kepada SINDOnews, Sabtu (1/4/2021).

Ujang berpendapat, jumlah masyarakat alumni gerakan 212 sekitar jutaan. Sehingga, diakuinya bahwa potensi suara pemilih kalangan masyarakat alumni gerakan 212 perlu untuk digarap.

"Soal apakah yang ikut Aksi 212 akan menjadi pemilih Partai Ummat, itu bisa iya dan juga bisa tidak. Tergantung pada Partai Ummat apakah bisa menggarap suara mereka atau tidak," katanya.

Partai Ummat pun dinilai bisa menjadi partai papan tengah jika berhasil menggarap setengah suara pemilih masyarakat Alumni 212. "Jika bisa digarap setengahnya saja, bisa jadi partai papan tengah," pungkasnya.

Pendukung Prabowo

Ternyata sejumlah pendukung Prabowo Subianto di pemilu lalu juga berpaling ke Partai Ummat. Paling mencolok adalah Neno Warisman, yang merupakan salah satu Pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019 yang aktif menyuarakan Gerakan 2019 Ganti Presiden.

Selain Neno, ada Mustofa Nahrawardaya , pegiat media sosial yang juga mantan Koordinator Relawan IT Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019.

Apa Tanggapan PAN?

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan mengaku senang atas dideklarasikannya Partai Ummat oleh Amien Rais, pada, Kamis (29/4).

Menurut Zulhas, sapaan akrabnya, berdirinya Partai Ummat itu seperti berkah terselubung bagi PAN. Ia pun menyambut baik partai baru tersebut.

"Justru enak. Buat saya blessing in disguise. Saya bahagia, happy, senang," kata Zulhas, di sela acara Jumat Berkah, di Kantor DPD PAN Jatim, Surabaya, Jumat (30/4).

Ia mengatakan, berdirinya Partai Ummat membuat situasi di PAN menjadi lebih kondusif dan tak gaduh karena perbedaan pandangan politik di lingkar internal partai.

"Lah kenapa kok senang? Karena kalau tidak [ada Partai Ummat] kami bisa bertengkar sendiri," ucapnya.

"Bertengkar sendiri, nanti kalau di sini mau seperti ini, sana, ribut lagi. Nanti sana mau seperti itu, sini ribut lagi. Ribut terus kami," tambahnya.

Zulkifli mengucapkan selamat datang kepada Partai Ummat, dia berharap partai baru yang didirikan Amien, yakni salah satu pendiri PAN, dapat menegakkan kebaikan dan memerangi keburukan.

"Ahlan wa sahlan. Namanya, amar ma`ruf nahi munkar," kata dia.

 Walau tampak tegar terhadap kemunculan Partai Ummat, namun ternyata Zulkifli Hasan belakangan kerap mengunggah kedekatan dengan pengurus Muhammadiyah di daerah. Terakhir, Zulhas mengunggah kunjungannya ke Gedung Dakwah Muhammadiyah Jawa Timur.

"Semoga semakin erat dan lekat antara PAN dan Muhammadiyah," demikian dikutip dari keterangan foto yang diunggah di akun Instagram @zul.hasan.

Menanggapi hal itu, pengamat politik yang juga Direktur IndoStrategi Research and Consulting Arif Nurul Imam mengatakan,PAN memang tak bisa lepas dari Muhammadiyah karena selama ini basis tradisional PAN adalah sebagian besar warga Muhammadiyah.

Menurut Arif, hal tersebut yang menjadi perhatian Zulhas. Karena, kata Arif, Partai Ummat didirikan oleh mantan ketua umum Muhammadiyah dan pendiri PAN Amien Rais.

"Kekhawatiran tergerusnya basis tradisional PAN saya kira yang diantisipasi Zulhas dengan melakukan pendekatan terus-menerus dengan warga Muhammadiyah agar tak lari ke Partai Ummat," ujar Arif Nurul Imam kepada SINDOnews, Sabtu (1/5/2021).

PKS dan Partai Gerindra

Bila melihat fenomena sejumlah alumni 212 dan mantan pendukung Prabowo loncat ke Partai Ummat, maka potensi tergerusnya suara sejatinya tidak hanya terhadap PAN, tetapi juga PKS dan Gerindra.

Direktur Institut MD9, Agus Wahyudin, melihat cukup signifikan suara dukungan alumni 212 terhadap PKS dan Gerindra pada pemilu lalu. Patut dikalkulasi terbukanya kemungkinan dukungan itu berpaling ke Partai Ummat.

Migrasi itu dimungkinkan bila kader Partai Ummat secara massif mendekati sekaligus merekrut tokoh-tokoh alumni 212 di daerah-daerah. 

Rekrutmen politik itu tentu akan diiringi oleh fakta konsistensi Amien Rais dalam gerakan 212. Konsistensi atau Istiqomah itu dianggap sebagai salah satu kekuatan dalam perjuangan.

Tanggapan PKS

Petinggi PKS memberi ucapan selamat kepada Amien Rais yang baru saja mendeklarasikan pendirian Partai Ummat.

Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera Habib Aboe Bakar Alhabsyi mengatkan masih ada peluang untuk partai Ummat merebut hati masyarkat.

"Saya ucapkan selamat untuk Pak Amien Rais atas Partai Ummat-nya. Perlu dipahami, ceruk (potensi suara, red) masyarakat Indonesia ada 265 juta lebih. Artinya, (peluang masih) besar," kata Aboe kepada wartawan.

Aboe Bakar mengatakan PKS sejauh ini baru dapat menghimpun sekitar 2,8 persen dari total suara pemilih, sementara Partai Golkar kurang lebih sebanyak 12 persen.

"Artinya, Partai Ummat masih bisa mengambil ceruk yang lain. Silakan, berlomba, berpartisipasi. Semoga dia (Partai Ummat) bisa lebih dapat (banyak suara) di parlemen," ucap dia menambahkan.

Tanggapan Gerindra

Ketua Harian Gerindra Sufmi Dasco Ahmad berharap kehadiran partai baru itu dapat menambah iklim demokrasi Indonesia menjadi semakin sehat.

"Mudah-mudahan bisa menambah iklim demokrasi Indonesia menjadi sehat," kata Dasco.

Wakil Ketua DPR ini juga tidak khawatir soal dampak hadirnya Partai Ummat Amien Rais terhadap suara Partai Gerindra. Menurutnya, itu merupakan persaingan dalam sistem pemerintahan yang demokratis.

"Saya pikir ini persaingan dalam demokrasi, ya partai baru itu nanti juga akan ada beberapa. Bukan hanya partai ini. Jadi saya pikir nggak ada masalah sepanjang masing-masing parpol yang sudah punya kursi menunjukkan program dan komitmen kepada masyarakat saya yakin kita bisa menjaga konstituen kita," ucap Dasco.

Amien Rais Bukan Jaminan

Sementara itu, cendekiawan muslim sekaligus pemerhati politik, Prof Azyumardi Azra meyakini partai-partai yang baru terbentuk tidak akan mendapatkan suara. Salah satunya Partai Ummat yang didirikan oleh Mantan Ketua Umum PAN, Amien Rais.

Azra menilai, nama Amien Rais sebagai pendiri Partai Ummat tidak akan bisa menjamin partai tersebut bisa lolos ke ambang batas parlemen. Dia pun menyarankan politikus senior itu untuk mengistirahatkan diri dari dunia politik saja.

"Partai Amien Rais (Partai Ummat) saya kira sudah tidak akan dapat suara, Amien Rais sudah kehilangan momentumnya, jadi menurut saya dia harusnya duduk-duduk saja sambil baca-baca zikir. Itu mungkin lebih bagus ya,” kata Azra saat menghadiri diskusi virtual bertema Parpol Baru dan Dinamika Politik Nasional yang diselenggarakan oleh Moya Institute, Kamis (3/2).

Seperti dikutip merdeka.com, ia, mengutarakan untuk bersaing dalam pemilihan legislatif (Pileg) 2024 mendatang sangat lah sulit. Sekalipun partai tersebut memiliki pendanaan yang cukup ataupun pendirinya pernah menduduki kursi-kursi petinggi negara ini.

Misalnya, kata Azra, yakni Amien Rais yang merupakan mantan Ketua MPR. Oleh sebab itu, Azra menyarankan para pendiri partai baru untuk mencari cara lain untuk memperoleh suara yang signifikan agar bisa memenangkan partainya.

“Partai yang kuat keuangannya pun tidak bisa masuk parlemen. Misalnya Perindo, walau didukung Hari Tanoe yang mengklaim sebagai grup media terbesar di Asia Tenggara, tetap saja tidak bisa masuk. Jadi Partai Pak Mahfud (Partai Gelora) walau didukung kekuatan uang sekalipun tidak akan memberikan jaminan,” kata Azra

“Lalu Partai Bulan Bintang, walaupun pimpinannya Yusril Ihza yang dikenal orang, partainya kan tidak dipilih juga, tidak laku juga, begitu pun partai Amien Rais itu,” Imbuhnya.

Seperti diketahui, Yusril Ihza Mahendra pernah tiga kali menjabat sebagai menteri dalam kabinet pemerintahan Indonesia, namun partainya tidak memperoleh suara lebih dari ambang batas parlemen yang sudah ditentukan yakni 5 persen. Bahkan pada Pemilu 2019, berdasarkan hasil hitung cepat berbagai lembaga survei, suara PBB tidak mencapai angka 1 persen.

Meskipun begitu, kata Azra, harus diakui bahwa masih ada partai yang terbilang masih baru namun dia bisa memenangkan Pileg karena dukungan dana yang cukup atau karena tokoh pendirinya. Kedua partai itu, yakni Gerindra yang baru berdiri tahun 2008 dan Nasdem yang baru berdiri pada tahun 2011. Seperti yang diketahui, Nasdem bisa mendapat perolehan suara hingga 9,05 persen dan Gerindra 12,57 persen pada Pemilu 2019.

Oleh sebab itu, dia pun menyarankan pendiri partai yang baru didirikan pada tahun 2020 ini untuk mencari strategi khusus agar bisa seperti Nasdem. Azra pun menilai, Nasdem bisa mendapat perolehan suara hingga 9,05 persen pada Pemilu 2019 karena dukungan media pemilik Partai yang sangat berperan besar, yakni Surya Paloh.

"NNasdemitu didukung media yang dikampanyekan terus menerus oleh grup medianya. Baik cetak maupun elektronik. Lalu Gerindra itu karena faktor Prabowo yang sudah lama malang melintang,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah berpesan kepada keempat partai yang baru didirikan tahun 2020 itu untuk mempunyai strategi khusus jika ingin betul-betul bersaing dengan partai-partai lainnya yang lebih senior.

“Ini tantangan bagi partai-partai baru, bukan tidak mungkin tapi kalau dilihat pengalaman yang lalu, ini sulit sekali. Mungkin para pendiri partai baru bisa cari terobosan baru agar bisa memenangkan partainya,” kata Azra.

“Yang meromantisme masa lalu, kan tidak laku juga tapi sekarang malah muncul Partai Masyumi Reborn. Dulu Pemilu 2004 atau 2009 padahal banyak partai yang mengklaim sebagai pewaris Mayumi tapi kan gagal juga,” ujarnya. (Gus Awe).