press enter to search

Selasa, 22/06/2021 17:46 WIB

Mengintip Kegiatan Suku Baduy Mualaf Selama Ramadan

Redaksi | Minggu, 02/05/2021 20:01 WIB
Mengintip Kegiatan Suku Baduy Mualaf Selama Ramadan Aldi yang berganti nama muslim menjadi Hamid Bambang Kusomo (28) saat ditemui di pemukiman mualaf yang berbatasan dengan daerah adat Baduy.

JAKRTA (Aksi.id) - Sebanyak 34 keluarga suku Baduy yang kini menjadi seorang muslim turut menjalankan kewajiban puasa Ramadan. Keluarga suku Baduy yang telah mualaf itu berada di Kampung Landeuh, Desa Bojongmenteng, Kabupaten Lebak, Banten.

Pantauan di lokasi, selama bulan Ramadan, seluruh warga biasanya melakukan buka puasa bersama dan melaksanakan salat Isya serta tarawih berjemaah di masjid.

Selain itu, tadarus Alquran juga dilakukan secara bergantian selama satu jam sekali. Kegiatan dilakukan hingga datangnya waktu subuh. Setelah itu tak ada lagi kegiatan di desa tersebut.

"Kalau mau ada yang ngaji di sini gantian satu jam sekali sampai Subuh. Habis salat Subuh enggak ada kegiatan lagi," kata Sudin selaku Ketua RT Kampung Landeuh saat berbincang.

Menurut Sudin, di desanya itu anak-anak telah dianggap sebagai seorang santri. Jadi, kata dia, setiap sore dan pagi mereka akan datang ke pengajian yang telah disediakan.

"Namun, bagi anak-anak yang umurnya lebih kecil, diadakan pengajian khusus usai salat Ashar," ucap Sudin.

Tak hanya itu, menurut Sudin, ada kegiatan lain yang mereka lakukan yaitu makan bersama. Biasanya kegiatan ini dilakukan setiap hari ke-15 bulan Ramadan yang disebut Qunut.

Namun, makan bersama juga beberapa kali dilakukan apabila ada donatur dari Jakarta yang memberi warga menu berbuka puasa.

"Mungkin sekali-kali kalau ada rezeki, kemarin kan ada donatur dari Yayasan Jakarta dia kirim untuk berbuka bersama tapi baru dua kali, yang pertama hari Selasa, kedua hari Jumat, banyak orang sampai anak-anak dikumpulkan semua di sini," kata Sudin.

Meskipun tengah menjalankan ibadah puasa, aktivitas yang biasa mereka lakukan sehari-hari tetap terlaksana dengan baik.

Beberapa warga masih terus bekerja sebagai kuli dan anak-anak mulai sekolah secara tatap muka di awal bulan Ramadhan.

Di desa ini baru tersedia Sekolah Dasar (SD). Akibat adanya pandemi, seluruh siswa hanya dapat melakukan sekolah tatap muka selama tiga kali seminggu.

Selama sekolah online, Sudin mengaku bahwa ia kesulitan memfasilitasi anaknya untuk belajar karena tidak memiliki handphone. Terkadang, meminjam tetangga untuk sekolah anaknya.

"Baru masuk awal Ramadan kemarin, sebelumnya di rumah aja sekolahnya. Makanya anak saya kan belum punya HP kadang-kadang pinjem sama tetangga buat anak belajar," ucap Sudin.

Kampung Landeuh menjadi tempat masyarakat Baduy mualaf berkumpul, mulai dari masyarakat yang baru 2 tahun memeluk Islam hingga yang telah 10 tahun. Namun, mereka baru menempati rumah di desa ini sekitar tiga tahun terakhir.

"Sama sih, di sini baru 3 tahun semuanya, sebelumnya di kampung lain. Kalau orang Baduy kan sering ngeruma’ atau tanam padi. Jadi misalkan saya di sini, ngeruma’ di sana, ya saya pindah berapa tahun di sana, nanti pindah lagi," ujar Sudin.

Sudin mengatakan, sebanyak 45 rumah yang ada di desa tempat tinggalnya ini dibangun oleh sebuah yayasan. Rumah-rumah telah difasilitasi kasur, selimut, dan beberapa barang lainnya.

Menurut dia, tempat tinggal tersebut dibangun dengan berbentuk rumah panggung untuk menjadi ciri khas suku Baduy.

Sehingga apabila orang-orang berkunjung akan tetap mengenali rumah khas suku Baduy meskipun mereka telah memeluk kepercayaan yang berbeda.

"Jadi kalau orang kota ke sini melihat potongan rumahnya masih orang Baduy, mungkin kayak gitu aja tujuannya," tutup Sudin. (ds/sumber Liputan6.com)



Keyword Baduy Mualaf

Artikel Terkait :

-