press enter to search

Sabtu, 15/05/2021 05:17 WIB

Restoran Dituding Picu Klaster Covid-19, Pengusaha Tak Terima

Dahlia | Senin, 03/05/2021 21:35 WIB
Restoran Dituding Picu Klaster Covid-19, Pengusaha Tak Terima Foto: ilustrasi

Jakarta (aksi.id) - Pemerintah menganalisa bahwa cara buka bersama (bukber) menjadi salah satu sumber munculnya klaster Covid-19 baru, termasuk di perkantoran.

Namun, pengusaha di kalangan restoran menolak anggapan tersebut. Menurut Wakil Ketua bidang Restoran Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Emil Arifin, aturan yang masih berlaku saat ini tetap di kapasitas 50% pengunjung di restoran.

"Restoran kapasitas masih sama, walau boleh (dibuka) tapi kapasitas sama jadi nggak bisa. Kalau klaster terjadi karena restoran, nggak deh karena protokol kesehatan double standard, terutama di mal," kata Emil kepada CNBC Indonesia, Senin (3/5/21).

"Kalau terjadi di kantor, memang orang di kantor lama ketemu di kantor, jangan salahin restorannya, praktisnya kapasitas 50% tetap saja. Peningkatannya bukan di resto, kemungkinan di kantor, tapi mungkin di kendaraan umum, kita nggak tahu," lanjutnya.

Ia bilang bila restoran mencoba melanggar protokol kesehatan, maka ada sanksi yang menanti. Hal ini terjadi misalnya di Solo, sda sejumlah rumah makan yang kedapatan melanggar protokol kesehatan saat buka bersama dan mendapat peringatan dari Satpol PP. Hal itu seperti menggambarkan animo masyarakat untuk berbuka bersama.

Emil mengakui saat ini masyarakat lebih berani untuk keluar dan berkumpul bersama kerabatnya di momen bukber. Namun, Emil menilai tidak ada peningkatan berarti dari sisi omzet restoran karena sejak siang harinya restoran banyak yang tutup.

"Meskipun sore lebih ramai, namun karena siangnya kosong tidak beroperasi, secara overall pendapatan ya sama saja. Omset malam seperti untuk menutupi ke siang," sebut Emil.

Potensi meningkatnya jumlah pengunjung ketika bukber mendapat sorotan Pemerintah. Kementerian Kesehatan mengkhawatirkan kemunculan klaster penularan buka bersama dan tarawih di bulan Ramadhan bisa menyebabkan super spreader virus Corona. Terlebih kedua agenda tersebut biasanya menjadi ajang berkumpulnya orang-orang dari berbagai tempat.

"Beberapa minggu ini muncul berbagai klaster seperti klaster perkantoran, klaster buka bersama (bukber) klaster tarawih di Banyumas, klaster mudik di Pati, dan klaster takziah di Semarang," kata Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 dari Kemenkes Siti Nadia Tarmizi dikutip dari detikcom

Saat mengadakan kegiatan buka bersama, otomatis banyak yang melepas masker untuk makan. Melepas masker sambil makan dan berbicara tentu meningkatkan risiko keterpaparan.

"Pada prinsipnya, berbicara pada saat makan bersama menjadi faktor yang sangat memungkinkan terjadinya penularan virus Corona," sebutnya. (lia/sumber:cnbcindonesia.com)